
"Kamu ngeyel sih, Ra ... andai kemarin kamu mau aku anterin pulang, sudah pasti sekarang kamu tidak akan flu kayak gini," ucap Bagas yang sekarang mendatangi Mira yang tengah duduk di depan ruang kelas.
Tentu Bagas tahu jika Mira terkena flu, itu juga karena cardigan yang dikenakan oleh Mira. Selain itu, juga karena bagian hidung Mira yang tampak memerah karena beberapa kali bersin. Namun, Mira terlihat santai saja menanggapinya.
"Hujan-hujan bikin kamu flu kan?" tanya Bagas lagi.
Sebenarnya prediksi Bagas pun benar adanya. Hujan kemarin terlihat intens, selain itu juga karena awan gelap yang menyelimuti ibukota. Di satu sisi, Mira sendiri berusaha dengan keputusannya. Toh, flu nanti bisa diobati. Kalau menjaga hati Elkan, bukan dia yang melakukannya siapa lagi.
"Gak apa-apa, Gas ... flu bisa diobati kok," balas Mira.
Hingga akhirnya, Elkan datang dari kantin dan membelikan Lemon Hangat untuk Mira. Kandungan vitamin C dari lemon dipercaya bisa menjaga daya tahan tubuh. Minuman hangat juga bisa sedikit menghangatkan tubuh Mira yang sekarang flu.
"Lemon hangat, Ra," ucap Elkan dengan memberikan satu gelas cup lemon hangat kepada Mira.
"Makasih," balasnya.
Bagas yang ada di sana pun mengamati interaksi keduanya. Kenapa rasanya di mata Bagas, Elkan ini terlihat peduli dengan Mira. Selain itu, benarkah bahwa Elkan sebenarnya naksir dengan Mira.
"Elkan, loe naksir sama Mira yah?" tanya Bagas secara langsung.
"Kenapa emangnya?" jawab Elkan dengan begitu santai.
__ADS_1
"Perhatian banget sih. Loe gak takut dinilai temen-temen sebagai perusak hubungan gue dengan Mira?" tanya Bagas.
Elkan pun terkesan cuek dan juga malas saja dengan apa yang baru saja Bagas sampaikan. Selain itu, Elkan pun sangat tahu bahwa hanya Bagas sendiri saja yang mengaku-aku sebagai pacar Mira. Dia sangat tahu bahwa Mira sudah bercerita dengan jujur kepadanya.
"Gue dan beberapa orang juga tahu, kalau loe hanya sebatas mengaku jadi pacarnya Mira. Faktanya gak kayak gitu, Gas," balas Elkan.
Kali ini Elkan mengatakan dengan jujur bahwa memang dia sangat tahu bahwa Bagas yang sekadar mengaku-aku sebagai pacarnya Mira. Padahal kenyataannya tidak sama sekali. Oleh karena itu, Elkan tidak akan mengambil pusing akan hal itu.
"Udah gak usah adu mulut lagi. Kalian gak capek tiap ketemu selalu adu mulut?" tanya Mira dengan menghela nafas yang begitu berat rasanya.
Jujur saja jika seperti ini adanya, rasanya Mira ingin segera lulus. Meninggalkan masa putih abu-abu yang semakin hari rasanya justru semakin membosankan. Dia hanya ingin sekolah dengan tenang sampai lulus nanti, nyatanya banyak sekali godaan.
"Iya, hangat," balas Mira.
"Aku tadi di kantin juga minum itu," balas Elkan.
Oh, rupanya tadi ketika ke kantin, Elkan juga membeli Lemon hangat dirinya sendiri. Barulah ketika kembali ke kelas, Elkan membelikan juga Lemon hangat untuk Mira karena dia tahu Mira pun juga sedang flu.
"Sorry yah gara-gara kehujanan kemarin," ucap Elkan.
"Iya, tidak apa-apa, Kak," balas Mira.
__ADS_1
Ketika semua siswa yang lain sudah masuk, dan guru mata pelajaran juga masuk, kemudian Elkan dan Mira memilih untuk fokus kembali dengan pelajaran mereka. Walau badan kurang sehat, tapi keduanya berusaha menyelesaikan semua pelajaran dengan baik. Hingga jam pulang sekolah pun tiba. Sebagaimana ucapan Elkan sebelumnya, sekarang dia akan mengajak Mira untuk ke rumahnya. Itu juga Mama Sara yang ingin bertemu dengan menantunya itu.
"Di suruh ke rumah ngapain sih Kak?" tanya Mira perlahan.
"Mama mau cek kondisi kamu," balasnya.
Begitu sudah masuk ke dalam rumah. Ada Mama Sara yang sudah menyambut Elkan dan Mira yang pulang dari sekolah. "Sudah pulang anak-anaknya Mama?"
"Sudah Ma," balas Mira dengan bersalam takzim kepada mertuanya itu.
"Kamu flu, Ra?" tanya Mama Sara kepada Mira.
"Iya Ma, sedikit demam deh kelihatannya Mira," balasnya.
Mama Sara pun membawa tangannya untuk menyentuh kening Mira. Benar, tubuh Mira terasa demam di sana. Kemudian Mama Sara menatap kepada Elkan.
"Naik mobil saja, El ... cuaca itu sekarang tidak bisa ditebak. Kamu berangkat ke sekolah cuaca cerah, tapi waktu pulang bisa hujan. Kasihan kalau sampai sakit kayak gini," ucap Mama Sara.
"Iya, Ma ... maaf," balas Elkan.
Dia juga merasa bersalah. Kemarin rasanya terjebak dalam romansa begitu menyenangkan. Bisa duduk bersama di sepeda motor dengan Mira yang berpegangan di pinggangnya. Namun, melihat Mira yang sampai flu dan demam seperti ini rasanya juga membuat Elkan merasa kasihan kepada Mira.
__ADS_1