
Pernikahan Mira dan Elkan, sebenarnya sudah digelar satu semester yang lalu. Namun, euforia menjadi pengantin baru, baru dirasakan sekarang. Terlebih ketika sudah menyatu sepenuhnya, seakan Elkan merasakan cintanya bertambah berkali-kali lipat untuk Mira.
Menstabilkan nafas yang semula terengah-engah, Elkan berguling ke sisi Mira dan memeluk wanitanya itu. Membawanya dalam dekapannya, sembari mendaratkan kecupan di keningnya.
"Masih sakit?" tanya Elkan sekarang.
"Tidak sesakit tadi pagi, Kak," jawab Mira dengan jujur.
Memang tidak sesakit tadi pagi waktu kali pertama, sekarang sudah mulai mengenal rasanya seperti apa. Namun, Mira agaknya masih harus banyak membaca kenapa bisa dia menjadi seperti kehilangan kesadaran ketika Elkan menyentuhnya.
"Tuh, benar kan tadi aku bilang. Makin lama, makin gak sakit. Sebab, udah makin kenal," balas Elkan.
Mira tersenyum samar dan memejamkan mata. Bahkan ada rasa aneh, ketika terengah-engah seperti ini, tubuhnya menjadi ringan, dan diiringi rasa kantuk. Namun, mereka masih harus mandi terlebih dahulu untuk membersihkan dirinya.
"Agenda kamu besok mau apa, Honey?" tanya Elkan kemudian.
"Ke supermarket gitu Kak ... beli piring, gelas, sabun-sabun untuk membersihkan toilet. Belum ada soalnya, sama bereskan koper kita," ucap Mira.
Elkan menganggukkan kepalanya. "Oke deh, besok aku anterin. Ada mobil juga kok dari Papa. Bisa kita pakai untuk city tour," balas Elkan.
"Iya, Kak ... mandi dulu, Kak. Takutnya ketiduran, nanti malahan dosa," ucap Mira.
"Barengan yah?" pinta Elkan sekarang.
"Sendiri aja, Kak ... aku masih malu, belum terbiasa," balas Mira.
"Sudah dua kali, Honey. Masak ya masih malu. Aku padahal pengen lagi, lagi, dan lagi. Kamu begitu cantik, Honey. Indah," ucap Elkan.
__ADS_1
Mira begitu malu, apa yang dimaksud Elkan dengan indah. Padahal juga sebenarnya biasa saja. Selain memang baru kali kedua, malu masih mendominasi.
"Yuk, mandi. Santai saja. Membiasakan diri," ucap Elkan lagi.
"Gak semudah itu, Kak ... perlu proses," balas Mira.
Elkan tidak marah. Pria muda hanya tersenyum dan mengusapi puncak kepala Mira. "Ya sudah, pelan-pelan saja. Penting kan, aku selalu nunggu kamu. Tidak ada pemaksaan juga," balas Elkan.
"Makasih Kak, aku masih perlu penyesuaian. Biasa lah, Kak. Officially, baru sehari ini kita serumah. Sebelumnya kan tidur sekamar saja, itu pun setelah resepsi baru intens," balas Mira.
"Iya, Honey. Santai saja. Penting kamu jangan sungkan sama aku, jangan segan-segan juga gak apa-apa. Langsung tubruk, aku juga seneng," balas Elkan.
Mira tertawa. Rasanya aneh-aneh saja kosakata yang digunakan oleh suaminya itu. "Ya ampun, ditubruk kayak sama banteng aja loh," balas Mira.
"Ya, gak apa-apa. Pria suka tahu, Honey. Kalau kadang-kadang istrinya agresif. Biar kehidupan percintaan kita kayak roller Coster banyak desirannya," balas Elkan yang juga tertawa.
"Sehari sudah mandi empat kali loh," ucap Mira dengan kini menata kembali ranjang mereka.
"Aktivitas pengantin baru, Honey. Gak jauh dari ranjang dan kamar mandi," balas Elkan.
"Kamu ada-ada aja sih, Kak. Bantuin beresin bed cover dong, Kak. Tarik di sana, biar rapi," ucap Mira.
Elkan menganggukkan kepalanya. Menarik bagian bed cover yang diperintahkan Mira. Menata kembali ranjang mereka. Namun, beberapa saat kemudian Mira kaget melihat ada darah di sprei.
"Kak, ada darah di sprei deh, pasti karena yang tadi pagi. Besok beli sprei baru ya, Kak ... yang ini dilaundry dulu," ucapnya.
"Ya, itu kenang-kenangan pagi tadi, Honey. Kan berdarah. Barusan yang aman, dan lancar," balas Elkan.
__ADS_1
Mira hanya bisa manyun dan kemudian menaruh pakaian kotor ke dalam tempatnya dulu. Setelah itu, barulah Mira mengambil air untuk minum. Akan tetapi, tiba-tiba Elkan tersenyum sendiri mengamati Mira.
"Kamu berjalannya kok aneh, Honey?" tanyanya.
"Hmm, aneh gimana, Kak?" tanya Mira dengan menunduk, memperhatikan kakinya.
"Itu, kayak bebek gitu lucu," balas Elkan.
"Yang bikin jadi kayak gini kan kamu juga," balas Mira.
Akhirnya Elkan terdiam. Ya, memang jalannya Mira menjadi aneh semua karena ulah Elkan tadi pagi. Ada yang berbeda juga di pangkal pahanya.
"Sorry, yah ... aku gak tahu efeknya bisa seperti itu," balas Elkan.
"Enggak apa-apa, Kak. Kan ya penyerahan diri ke suami juga," balas Mira.
Sekarang Elkan tersenyum. Pria muda itu menaiki ranjang perlahan dan menunggu Mira untuk bisa bergabung dengannya. Begitu sudah berada di ranjang, kemudian Elkan bertanya kepada Mira.
"Kamu bisa tahu penyerahan diri, lalu harus mandi setelah begituan itu dari siapa, Honey?" tanya Elkan
"Dari Mama, Kak. Diajarin juga nanti kalau menjadi istri itu harus bagaimana. Kan memang anak gadis itu harus belajar dari Mamanya, Kak," balas Mira.
Sekarang, Elkan tahu darimana Mira belajar semua itu. Ternyata dari Mama Marsha yang sudah mengajari Mira. Rasanya Elkan senang saja, karena itu tandanya Mira sudah benar-benar siap menjadi istrinya. Bukan sekadar status, tapi berperan sebagai istri yang tunduk dan taat.
"Luar biasa, udah dipersiapkan Mama Marsha. Makasih ya Honey. Kalau ada kritik dan saran bilang saja. Kita masih muda, kadang emosi juga bisa meletup-letup, kadang bisa terjadi hal-hal yang lain juga. Saling mengingatkan yah, menegur jika salah," ucap Elkan.
"Iya, Kak ... ya, sama-sama belajar. Aku punya keinginan, pernikahan kita bisa seperti Mama dan Papa kita. Awet dan langgeng, juga harmonis," ucap Mira.
__ADS_1
Memang anak-anak sejatinya akan berkaca seperti apa pernikahan, bagaimana pola pernikahan adalah dari rumah tangga Mama dan Papanya di rumah. Kepemimpinan Papa, kebijaksanaan Papa dan sebagai suami, kelemah lembutan Mama, kasih sayang kakak dan adik, menghargai, mempedulikan, hingga sikap santun, dan kerajinan beribadah semua itu bisa anak-anak lihat dan pelajari dari rumah. Tak jarang, bayang kehidupan pernikahan, rumah tangga akan seperti apa akan mengikuti pola rumah tangga orang tuanya sebelumnya.