
Di akhir pekan, Mama Sara dan Papa Belva meminta keluarga Evan dan keluarga Elkan berkumpul di rumah. Di mana kebiasaan keluarga Agastya, ketika anak-anak berkumpul, mereka akan makan bersama di taman mereka. Menikmati barbeque panas dan bercengkrama bersama.
Sore di akhir pekan itu pun, Evan dan Andin, lantas Elkan dan Mira berkumpul di taman kediaman Agastya. Taman yang berada di dekat kolam renang dan ditumbuhi beberapa jenis bunga mawar itu. Untuk keluarga Agastya sendiri, hanya minus Eiffel yang memang sedang menempuh pendidikan di Paris, Prancis.
"Mana yang bisa Mira bantu, Ma?" tanya Mira kepada Mama Sara.
"Iriskan bawang bombay bisa, Ra?" tanya Mama Sara.
"Mudah itu, Ma ... mana biar Mira yang iris," jawab Mira dengan sedikit tertawa.
Akhirnya, Mira fokus untuk mengiris bawang bombay, sementara Elkan membantu Papanya membuat api untuk membuat barbeque nanti. Memang keluarga Agastya menyukai barbeque-an, karena sembari memanggang daging dan juga menikmati daging, mereka bisa berbicara, bercerita, dan bercanda bersama.
"Apinya sebesar apa, Pa?" tanya Elkan.
"Gak usah terlalu besar, El. Justru nanti dagingnya bisa lebih harum," balas Papa Belva.
Selang beberapa saat kemudian, barulah datang Evan dan Andin. Mama Sara pun segera menyambut keduanya. Sungguh, sebagai mertua, Mama Sara tak membedakan anak sendiri dan anak menantu. Pun, untuk Mama Sara, Andin dan Mira itu sama, sudah dianggap sebagai anak gadis sendiri.
"Mama ..., Papa ...."
Evan dan Andin menyapa orang tuanya bersama-sama. Tampak pasangan orang tua itu sangat bahagia menyambut kedatangan Evan dan Andin. Begitu juga dengan Evan yang menyapa Elkan, adiknya.
"Kamu sudah duluan?" tanya Evan.
"Belum begitu lama kok," balas Elkan.
"Naik apa tadi?" tanya Evan lagi.
"Biasa, sepeda motor. Untuk jarak yang dekat, naik sepeda motor aja. Sebenarnya mau jalan kaki, biar vibesnya kayak nostalgia waktu masih tinggal di Australia," balas Elkan.
Evan tersenyum dan menepuki bahu adiknya itu. Dia merasa senang ketika adiknya sudah kembali pulang ke Jakarta. Adiknya adalah temannya, tidak ada jarak antara kakak dan adik itu.
"Ada yang dibantu enggak, Ma?" tanya Andin kemudian kepada Mama Sara.
"Ambilkan sosis di lemari es ya, Ndin," kata Mama Sara.
__ADS_1
Akhirnya, Andin mengambil sosis di lemari es, sedikit dia melihat Mira yang memang sedang mengiris-iris bawang bombay. Saking seriusnya, Mira sampai belum menyapa kakak iparnya itu. Mira fokus untuk mengiris bawang bombay. Setelah mengupas Bawang bombay, Mira mencuci bersih semua selada.
Setelahnya tiga pasangan itu duduk bersama. Dengan para pria yang memanggang daging sapi kualitas terbaik dan memotong-motongnya dengan gunting.
"Kebiasaan di rumah Mama kayak gini Andin ... kalau Evan pulang liburan waktu kuliah di luar negeri, kita akan barbeque-an bersama-sama," cerita Mama Sara.
Tujuan Mama Sara menceritakan itu karena Andin tergolong anggota keluarga baru. Sementara Mira sudah lama kenal dengan keluarga Agastya, sehingga sedikit banyak Mira tahu kebiasaan di keluarga mertuanya. Andin tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Jadi, udah kebiasaan yah, Ma," balas Andin.
"Iya, dulu Mama dan Papa sering barbeque-an sama keluarganya Mira. Kan mereka sahabat kami, sejak puluhan tahun yang lalu," balas Mama Sara.
Dari cerita Mama Sara bahwa apa yang disampaikan seperti ucapan Evan tempo hari bahwa mereka sudah mengenal keluarga Mira sejak puluhan tahun yang lalu. Jadi, wajar kalau suaminya itu akrab dengan Mira. Namun, agaknya Andin belum terbiasa. Dia terlalu memiliki image bahwa suaminya itu cool dan tidak mudah dekat dengan lawan jenisnya.
Namun, Evan kali ini memilih menjaga jarak terlebih dahulu. Bagaimana pun, dia tak ingin membuat Andin salah paham. Setidaknya Mama Sara sudah membuka jalan bahwa sebenarnya Mira bukan orang baru dalam keluarga mereka. Bahkan sejak bayi, keluarga Agastya sudah mengenal Mira.
"Makan yang banyak, Ra," kata Papa Belva.
"Iya, Pa ... tadi udah makan sebenarnya sama Kak Elkan. Jadi lebih banyak makan, sejak pulang ke Indonesia," balas Mira.
Mira tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Iya, Pa. Apalagi Mama Sara dan Mama Marsha sering memberikan makanan enak-enak. Duh, jadi gak nahan untuk nambah," balas Mira.
Seharusnya dari sini, Andin tahu bukan hanya Evan, Papa Belva pun juga terlihat akrab sekali dengan Mira. Pembicaraan yang tidak seperti Papa dan mertua, tapi sudah seperti Papa dan anak perempuannya sendiri.
"Kok kamu banyak diemnya, Van?" tanya Mama Sara.
"Hm, kenapa, Ma? Evan menikmati barbeque buatan Mama yang selalu juara," balas Evan.
"Nambah kalau memang enak. Tambah irisan bawang bombay, tadi Mira tuh yang buat," balas Mama Sara.
"Ambil, Kak ... mau Mira ambilin?" tawar Mira.
Evan kemudian tersenyum, "Sudah, sini aku ambil sendiri saja. Thanks yah," balas Evan.
Mama Sara kemudian mengamati anak-anak dan menantunya satu per satu. Kemudian, dia berbicara. "Mama harap, kalian bisa saling rukun. Apalagi Andin dan Mira yah. Bisa seperti adik dan kakak. Kayak Evan dan Elkan yang klop satu sama lain," nasihat Mama Sara.
__ADS_1
Andin menganggukkan kepalanya. Dia melirik Mira yang duduk di hadapannya. Sementara Mira juga merespons yang sama.
"Moga bisa makin akrab yah, Kak," kata Mira.
"Hm, iya," balas Andin.
"Nanti kalau Eiffel pulang ke Jakarta, kalian bertiga bisa semakin akrab. Apalagi Andin yah, kita semua ini keluarga," kata Mama Sara.
"Yang disampaikan Mama kamu benar, kita ini satu keluarga. Papa sendiri senang sekali kalau kalian rukun, seperti selama ini yang sudah terjadi. Alasan itu juga yang membuat Papa memilihkan rumah untuk Elkan tak jauh dari kakaknya. Biar saling menjaga satu sama lain," kata Papa Belva.
"Terima kasih banyak yah, Pa ... Mira pikir sebelumnya akan tinggal dulu dengan Mama dan Papa atau dengan keluarga Mira. Jauh dari yang kami harapkan, justru rumah sudah Mama dan Papa berikan untuk kami," kata Mira.
"Sama-sama, Ra. Separuh dari Papa dan separuh dari Papa kamu. Lantaran Mira yang sudah lulus terlebih dahulu, ditunggu kabar bahagianya yah. Andin selesaikan kuliah dulu biar lebih fokus," kata Papa Belva.
"Siap, Pa. Besok kami akan ke Obgyn juga. Yang bagus di mana, Ma?" tanya Elkan.
"Obgyn yang dulu menangin Mama melahirkan kalian. Dokter Indri, sudah sepuh tapi bagus banget. Besok yah, Mama antar ke sana sekalian," kata Mama Sara.
"Sakit enggak, Ma?" tanya Mira.
"Yah, kalau lepas kontrasepsi kayak digigit semut saja. Kalau diambil sel ovum, Mama belum pernah. Coba saja," balas Mama Sara.
Andin kemudian bertanya. "Akan bayi tabung yah, Ma?" tanyanya.
"Iya, Ndin ... adik-adikmu ingin baby twins. Doakan yah, semoga berhasil. Kamu akan jadi Onty dan Evan jadi Uncle nanti."
Andin menganggukkan kepalanya. Sementara Evan tersenyum. Akan tetapi, Elkan justru menyahut.
"Lucu yah, Onty dan Uncle. Uncle Evan," kata Elkan.
Evan kemudian tertawa. "Kamu duluan lagi, El. Nanti aku menyusul yah."
"Nunggu Kak Andin lulus, Kak Ev," sahut Mira.
Evan mengangguk lagi, sementara Andin berusaha menyesuaikan diri. Semoga keakraban itu murni sebatas akrab, hubungan kakak dan adik. Kekeluargaan di antara mereka tetap kuat dan tidak ada prasangka buruk dari salah satu pihak.
__ADS_1