Romansa Pengantin SMA

Romansa Pengantin SMA
Advice dari Dokter


__ADS_3

Setidaknya ada dua hal yang membuat Mira menjadi cemas. Pertama adalah lonjakan berat badan yang selama hamil sampai menyentuh angka 20 kilogram, dan kedua adalah lonjakan tekanan darah. Dari dua pernyataan di atas yang membuat Mira semakin cemas adalah kenaikan tekanan darah.


Elkan juga sendiri cemas bukan main. Mereka berdua sama-sama sudah membaca bahwa bersalin kala tekanan darah tinggi itu sangat berisiko. Risikonya bisa dialami Ibu hamil dan janinnya, salah satunya risiko untuk janin adalah janin bisa lahir dalam keadaan prematur. Seketika, Mira sendiri merasa begitu cemas.


"Jangan kepikiran Nak Mira ... kita cek dulu kondisi janinnya yah," kata Dokter Indri.


Mira pun dibantu Elkan untuk menaiki brankar, hingga akhirnya ada perawat yang membantu untuk menyingkap baju yang dikenakan Mira di area perut. Kemudian, USG Gell pun mulai diberikan di sana. Dokter Indri juga bersiap untuk memeriksa kondisi janin Mira.


"Baiklah, kita akan pantau kondisi janinnya. Sekarang usia kehamilan Nak Mira di 38 dan 39 minggu. Nah, coba lihat nih, dua babynya saling berhadap-hadapan. Lucu sekali kan?"


Dokter Indri mengatakan demikian untuk mengalihkan kecemasan Mira. Akhirnya, Mira bisa tersenyum. Dia tidak menyangka juga di dalam rahim dua baby bisa saling berhadap-hadapan seperti itu. Yang Mira harapkan adalah dua babynya bisa kuat dan sehat sampai launching nanti.


"Untuk berat bayinya. Sudah normal yah Nak Mira. Masing-masing sudah hampir 2,5 kilogram. Tidak tergolong prematur dan kurang berat badan yah. Biasanya bayi yang lahir prematur itu lahir dengan berat badan kurang dari 2,2 kilogram," jelas Dokter Indri lagi.


"Alhamdulillah," balas Mira.


"Ini hanya perkiraan yah ... nanti waktu lahir baru bisa ditimbang berat badannya. Biasanya tidak akan jauh melesat dari pemeriksaan USG ini. Bisa pas 2,5 kilogram, bisa juga kurang dari 2,5 kilogram. Begitu," kata Dokter Indri.


Mendengar baby Twins dalam keadaan baik dan memiliki berat badan yang normal membuat Mira dan Elkan lebih tenang dan lega. Dokter Indri juga tenang bisa membuat Mira menjadi sedikit lebih rileks.


"Mira terakhir makan jam berapa?" tanya Dokter Indri sekarang.


"Siang tadi, Dokter ... jam 13.00 siang," jawab Mira.

__ADS_1


"Kalau terakhir minumnya?" tanya Dokter Indri lagi.


"Sama, waktu makan siang tadi Dokter."


Nah, usai mendengarkan pertanyaan dari Dokter Indri ini membuat perasaan Mira menjadi tidak enak. Saat sang Dokter menanyakan kapan kali terakhir makan dan minum membuat Mira kepikiran. Walau wajah Dokter Indri masih tersenyum, tapi pertanyaan itu bukan pertanyaan yang menjelaskan kondisi tubuh yang baik.


"Begini, Nak Mira ... perlu saya sampaikan yah. Tekanan darah kamu sangat tinggi. 170 untuk tekanan darah kamu dan ini termasuk tinggi. Kalau dibiarkan bisa berisiko memutus plasenta dari uterus dengan cara yang tidak semestinya.


Dokter Indri akhirnya harus menyampaikan kabar yang memang kurang baik ini. Bagaimana pun Mira dan Elkan akan bersiap dengan kondisi yang bisa saja terjadi. Terlebih tekanan darah Mira yang dinilai tinggi. Dokter Indri mengira bahwa Mira mengalami kelelahan dan juga stress yang tidak dikelola dengan baik. Tekanan darah tinggi pada Ibu yang hendak melahirkan memang sangat berisiko memutuskan plasenta dari uterus dengan cara yang tidak semestinya. Ini bisa memicu pendarahan hebat saat persalinan. Ini sangat berbahaya. Bahkan bisa menyebabkan kematian ibu dan janin.


"Nak Mira siap tidak untuk operasi Caesar besok pagi?" tanya Dokter Indri.


Ini benar-benar advice yang sangat mendebarkan untuk Mira. Awalnya keduanya datang untuk pemeriksaan rutin saja, dan sekarang Dokter Indri meminta untuk operasi Caesar besok pagi.


"Kalau siap, malam ini makan terakhir, saya akan berikan obat untuk bisa sedikit menurunkan tekanan darah. Terus langsung tidur. Besok pagi, kita lakukan operasinya," kata Dokter Indri.


"Iya, jadi malam ini sudah masuk saja ke rawat inap. Nanti suaminya bisa pulang dan mengambil perlengkapan persalinan. Untuk mengurangi risiko saja, Nak Mira," kata Dokter Indri.


"Bayinya baru 38/39 minggu. Apakah itu terhitung premature, Dokter?" tanya Mira lagi.


"Tidak ... di usia ini, bayi sudah bisa bernapas dengan paru-parunya dan bisa beradaptasi dengan kehidupan di luar rahim. Aman kok," jelas Dokter Indri.


Tidak langsung mengiyakan, Mira berdiskusi dengan suaminya terlebih dahulu. Bagaimana pun, Mira ingin melibatkan Elkan dan keputusan ini adalah resmi keputusan bersama. Mira yakin bahwa Elkan juga mendengarkan semuanya, Elkan pasti juga memiliki pertimbangan sendiri.

__ADS_1


"Bagaimana Kak?" tanya Mira.


Elkan kemudian bertanya kepada Dokter Indri terlebih dahulu. "Aman untuk ibu dan bayinya tidak, Dokter?"


"Saya dan tim medis akan berusaha. Hanya mempertimbangkan tekanan darah ibunya saja. Supaya tidak berisiko ke kedua bayi yang ada di dalam rahimnya," balas Dokter Indri.


Elkan kemudian bertanya kepada Mira. "Gimana, Honey? Kamu mau?" tanyanya.


"Aku takut, Kak," balas Mira.


Respons manusiawi ketika harus operasi caesar dengan mendadak. Persiapan pun belum, tapi harus menghadapinya dalam hitungan jam.


"Aku akan selalu menemani kamu," balas Elkan. Ini adalah janji Elkan bahwa dia akan menemani Mira. Tidak akan meninggalkan Mira sedetikpun.


"Perlengkapan kita?" tanya Mira.


"Aku bisa minta tolong Mama, Papa, atau Kak Evan. Fokus ke kondisi kita sekarang saja. Ke persalinan dulu," balas Elkan.


Beberapa menit Mira terdiam, karena dia juga ragu dan bimbang. Namun, sekarang barulah Mira bersuara. "Oke ... aku mau dan siap operasi asalkan Twins baik-baik saja," kata Mira.


"Kamu juga harus baik-baik saja, Honey," kata Elkan dengan menatap wajah istrinya.


Dokter Indri pun menganggukkan kepalanya. "Baiklah. Nanti suaminya Nak Mira mengurus administrasi dan pindah ke kamar rawat inap yah. Segera makan malam, minum obat, dan besok pagi kita lakukan operasinya. Kesiapan darah juga akan saya cek ke bank darah Rumah Sakit," kata Dokter Indri.

__ADS_1


Bukan hanya tekanan darah tinggi, tetapi ketika membantu persalinan ibu yang melahirkan bayi kembar bisa terjadi pendarahan hebat ketika melahirkan, untuk itu Dokter memang harus menyiapkan kantong darah untuk transfusi darah. Untuk itulah, Mira harus memberitahukan golongan darahnya.


Ini sungguh advice yang mendebarkan dan kurang baik. Namun, keduanya akan berusaha untuk melewati bersama-sama. Selain itu, Elkan akan mengambil lebih banyak peran untuk menenangkan istrinya itu.


__ADS_2