
Jika ada pemuda yang gigih tentu dia adalah Elkan Agastya. Pemuda yang tidak takut untuk meminta izin, tidak takut jika meminta apa yang sekiranya bisa dia perjuangkan. Ya, gigih itu adalah salah satu karakter Elkan. Sama seperti sekarang, dia meminta kepada Papa mertuanya untuk bisa menginap semalam.
Sebab Elkan berpikir bahwa masa SMA sebenarnya sudah berakhir ketika Ujian Akhir Nasional selesai. Sisanya hanya menunggu ceremony kelulusan saja. Untuk itulah, Elkan berani meminta izin.
"Bagaimana, Pa ... apakah boleh?" tanya Elkan lagi.
Papa Abraham tersenyum. Namun, memang sisi tidak mudah menyerah seorang Elkan seolah mengingatkan pada Papa Abraham ketika muda dulu. Perjuangannya untuk mendapatkan Mama Marsha juga harus mengejar sampai ke kota Semarang.
"Boleh, penting jangan lupa meminta izin kepada Mama dan Papamu," balas Papa Abraham.
Seolah mendapatkan lampu hijau dari Papa mertua, Elkan tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. Tentu dia akan meminta izin kepada Papa dan Mamanya juga.
"Makasih, Pa ... pasti nanti Elkan akan meminta izin kepada Mama dan Papa," balasnya.
"Tidurnya di bed berbeda tidak apa-apa kan, El?" tanya Papa Abraham kemudian.
Elkan menganggukkan kepalanya lagi. "Tidak apa-apa, Pa. Yang penting bisa melihat Mira," balasnya.
Mira yang berdiri di samping Papanya hanya tertawa. Bagaimana pun sikap Elkan ini terlihat lucu. Tidak mudah menyerah dan juga gigih.
"Kamu bisa saja, El. Ya sudah, nanti malam sekaligus makan malam di sini," ucap Papa Abraham.
"Siap, Pa ... baik, Elkan pamit dulu," balasnya dengan sedikit membungkukkan badan.
__ADS_1
Ketika Elkan sudah melajukan mobilnya, Papa Abraham kemudian melihat Mira yang kini berjalan di sisinya. "Wah, anaknya Papa sudah dewasa," ucap Papa Abraham.
"Apaan sih, Pa," balas Mira dengan menyembunyikan perasaan malu di wajahnya. Semua itu juga karena Papanya pasti tahu dengan apa yang nyaris terjadi di dalam mobil.
"Jadi, kamu suka dengan pemuda itu?" tanya Papa Abraham kemudian.
"Hmm, iya, Pa," balas Mira dengan jujur.
"Papa tidak akan menghalangi kalian, tapi kamu ingin kuliah usai ini. Jadi bagaimana? Bicarakan semua dengan Elkan dulu. Walau Elkan seperti itu, Papa yakin, dia adalah pemuda dewasa yang bisa memberimu saran," balas Papa Abraham.
Mita menganggukkan kepalanya. Pasti Papa Abraham kepikiran dengan pernikahan belia sekarang dan rencana kuliah. Akan tetapi, Mira paling tidak sudah berbicara dengan Elkan minggu lalu. Semoga saja, Elkan bisa mensupportnya.
***
Malam Harinya ....
"Malam Papa, Mama, dan Marvel," sapanya.
"Malam juga El," balas keluarga Narawangsa.
Sampai akhirnya, mereka makan bersama. Ada candaan dan tentu ada pembicaraan bagaimana UAN tiga hari ini. Tentu Mama Marsha dan Papa Abraham mengharapkan Elkan dan Mira bisa sama-sama lulus.
"Jadi, usai kelulusan nanti kalian akan ke Australia?" tanya Papa Abraham.
__ADS_1
"Kemungkinan begitu, Pa. Persiapan di Australia saja. Walau perkuliahan masa agak bulan September nanti," balas Elkan.
Papa Abraham kemudian menganggukkan kepalanya. "Tinggal di luar negeri, walau di sana bebas. Kalian berdua jangan kehilangan jati diri sebagai orang Indonesia. Jauhi obat terlarang, minuman keras, dan bermain wanita ya, El," pesan Papa Abraham.
"Iya, Pa. Di Singapura yang terbuka saja, Elkan juga menjaga diri kok, Pa," balasnya.
Hampir jam 21.00 malam, barulah Mira dan Elkan memasuki kamar Mira yang sudah diatur dengan dua tempat tidur di sana. Elkan tersenyum mengamati dua ranjang dalam satu kamar.
"Udah menikah, masih pisah ranjang ya, Ra?" tanya Elkan.
Mira kemudian menganggukkan kepalanya. "Menjaga dulu ya Kak, hanya sampai kelulusan. Tidak lama lagi. Jadi, kita ke Australia berangkat lebih dulu ya Kak?"
"Iya, kamu perlu adaptasi untuk tinggal di sana. Selain itu, tahu di area apartemen ada apa saja di sana. Ingat, kalau musim dingin nanti jangan keluar dari unit, aku saja yang keluar," ucap Elkan.
"Kamu kalau gitu enggak kayak anak SMA deh, Kak," balas Mira dengan tersenyum.
"Kayak apa?"
"Kayak suami yang perhatian ke istrinya," balas Mira.
Elkan yang mendengarkan jawaban Mira pun tersenyum. "Harus, walau sekarang harus puas dengan satu kamar, tapi pisah ranjang. Ra, yang tadi siang bagaimana?"
Mira terkesiap, rupanya Elkan masih menanyai perihal yang tadi siang. Ciuman yang gagal karena kepergok oleh Papa Abraham. Di saat bersamaan, Mira tampak menundukkan wajahnya, karena sudah pasti sekarang wajahnya memerah di sana.
__ADS_1
"Tujuan kamu menginap untuk itu ya Kak?" tanya Mira.
"Salah satunya, Ra ... kali ini apakah boleh, Ra? Apakah gagal lagi?"