
Keesokan harinya, Elkan dan Mira bersama mengunjungi supermarket terdekat. Mira membutuhkan perlengkapan untuk membersihkan apartemen, sabun untuk membersihkan kamar mandi, untuk mengepel lantai dan lain sebagainya. Selain itu, mungkin juga akan berbelanja bahan makanan sehingga jika memang memungkinkan lebih baik untuk memasak saja di apartemen.
"Bisa jalan?" tanya Elkan sekarang ketika mereka menuruni apartemen dengan menggunakan lift. Elkan bertanya demikian karena menurutnya cara berjalannya Mira masih aneh.
"Bisa kok, penting pelan-pelan aja," balas Mira.
Pria muda itu tersenyum perlahan. "Mau aku gendong juga boleh," balas Elkan.
Mira memanyunkan bibirnya. "Digendong jatuhnya enggak jadi belanja nanti, ke tempat lain," balasnya.
Itu juga karena Mira mengingat Elkan menggendongnya dan akhirnya mereka berakhir di ranjang. Sehingga, dia menjawab demikian kepada suaminya. Elkan nyatanya tengah tersenyum. Teringat juga kala dia menggendong Mira layaknya koala, dan menjatuhkannya ke ranjang.
"Buat berjalan beda ya, Honey?" tanya Elkan.
"Iya, perih dikit dan kayak ada yang ganjel gitu. Pokoknya rasanya begitu deh Kak. Kalau kamu biasa saja yah?" tanya Mira.
Elkan sekarang menganggukkan kepala. "Iya, biasa saja. Cuma sekarang kan aku udah jadi pria sejati. Yang pastinya akan selalu melindungi dan menjaga kamu," balas Elkan.
Begitu sampai di parkiran basement, Elkan mengambil mobilnya. Memang itu adalah mobil yang diatur oleh rekan oleh Papa Belva. Sehingga memang bisa langsung dipakai oleh Elkan dan Mira ketika di Sydney.
"Kalau tidak ada mobil, transportasi yang bisa kita naiki apa Kak?" tanya Mira.
"Ada kereta api. Jalan dari apartemen ke station kurang lebih tiga menit, Honey. Deket sih. Ke kampus juga kalau jalan kaki lima menit. Tidak begitu jauh," balas Elkan.
__ADS_1
"Wah, gak begitu jauh yah ... berarti bisa dong kadang-kadang jalan kaki ke kampus," balas Mira.
"Boleh, kalau sudah mulai kuliah yah," balas Elkan.
Apa pun yang bisa dilakukan bersama. Pasti Elkan mau melakukannya. Selain biar aktivitas mereka sehari-hari lebih bervariasi. Namun, sebulan ini memang dimanfaatkan untuk sedikit santai dengan banyak drama bercinta dulu. Setelah, beberapa belas menit berkendara sampailah mereka ke Coles, salah satu gerai supermarket yang lengkap di Sydney.
Elkan pun segera mendorong troli dan Mira berjalan di sisinya. Mengamati barang apa saja yang memang mereka butuhkan untuk mereka beli di apartemennya nanti.
"Cari apa?" tanya Elkan.
"Sapu, pembersih toilet. bahan makanan, dan simpan beberapa sayur gitu gimana Kak?" tanya Mira.
"Oke, boleh ...."
"Mirip pasangan menikah beneran ya, Honey," celetuk Elkan dengan tiba-tiba.
"Lha kan emang sudah menikah, Kak ... mirip Mama dan Papa kalau belanja bulanan yah?" tanyanya.
Elkan kemudian menganggukkan kepalanya. "Bener banget ... dulu waktu aku masih kecil, sering lihat Mama dan Papa belanja bulanan bersama. Walau ada ART, tapi kadang-kadang Mama dan Papa belanja sendiri. Katanya Papa, biar Mama liburan, diajak belanja," cerita Elkan.
Ya, sebagai keluarga kaya, berbelanja bulanan bisa menyurut ART mereka. Namun, terkadang Papa Belva mengajak Mama Sara ke Supermarket dan belanja bersama. Sekadar diajak belanja saja, Mama Sara bisa liburan dan lebih rileks. Mira yang mendengarkan cerita dari Elkan pun tertawa.
"Padahal Mama dan Papa mah udah crazy rich. Tinggal berikan catatan apa saja yang diberi ke Bibi dan Mbaknya saja, sudah bisa ya Kak," balas Mira.
__ADS_1
"Hiburannya Mama sih, Honey ... cewek kan suka belanja seperti ini. Cuma, memang Mama itu hemat. Alih-alih untuk belanja barang branded, uangnya untuk sekolah anak-anaknya ke luar negeri," cerita Elkan lagi.
Mira senang mendengarkan cerita dari Elkan. Bagaimana pun keluarga suaminya memang kaya raya, tapi Mama Sara dan Papa Belva adalah orang yang rendah hati.
"Sudah semua, yuk kita bayar dulu," balas Elkan.
Mira yang menaruh semua belanjaan di kasir, sementara Elkan bersiap untuk membayarnya. "Kak, aku saja ... kan aku punya juga. Di beasiswa itu tercover untuk biaya hidup juga selama delapan semester kok," balas Mira.
"Sudah, simpan saja ... aku punya," balas Elkan.
Gadis itu tersenyum perlahan. "Vibes nya sudah suami banget loh," balas Mira.
"Harus ... suami idaman buat kamu," jawab Elkan.
Membayar semuanya kemudian mereka memasukkan semua belanjaan ke dalam mobil. "Langsung pulang atau mampir ke mana lagi?" tanya Elkan.
"Pulang aja ya Kak ... hari ini busy banget ... sibuk. Harus bersih-bersih apartemen," balas Mira.
"Emang itu buat bersih-bersih gak sakit?" tanya Elkan.
"Kan yang bersihin tangannya, Kak ... bukan yang lain. Ah, kamu ini me-sum deh," balas Mira dengan memukul lengan Elkan.
"Maklum, Honey ... masih muda. Pentingnya ya menikmati. Ya sudah, bersih-bersih apartemen dulu. Kita selesaikan semua, biar besok bisa minta lagi," balas Elkan.
__ADS_1
Jika pria itu senyam-senyum sembari mengemudikan mobilnya. Mira justru tampak manyun. Apa memang masih fase baru dan juga baru dua kali mencoba, hingga Elkan begitu bersemangat minta lagi dan lagi.