Romansa Pengantin SMA

Romansa Pengantin SMA
Bertemu Kakak Ipar


__ADS_3

Elkan dan Mira memutuskan untuk bersih-bersih terlebih dahulu begitu sampai sembari mengamati rumah dengan dua lantai itu. Terhitung besar untuk dua penghuni seperti mereka. Memang belum ada pembaca, karena Mama Sara dan Mama Marsha berpikir pastilah pasangan muda masih menginginkan hidup berdua. Berbeda jika sudah ada anak. Lagipula di Sydney, keduanya sudah hidup mandiri berdua, jadi memang kedua keluarga tak memberikan asisten rumah tangga.


"Untuk pasangan muda, rumah ini besar banget yah, Kak? Biasanya kita hanya hidup di ruangan persegi," kata Mira.


"Benar, Honey. Terbiasa satu ruangan dengan semuanya ada di sekitar kita yah. Namun, ya bersyukur, Honey. Kedua orang tua artinya sayang kan kepada kita. Sampai sudah menyiapkan tempat tinggal untuk kita. Katanya ingin mandiri? Ya sudah, kita mandiri berdua," balas Elkan.


Dia lebih memaknai bahwa kedua orang tuanya baik itu orang tua dan mertua sangat sayang kepada mereka. Sampai-sampai, rumah ini sudah disiapkan begitu mereka menyelesaikan kuliah. Tanda bahwa mama dan papa mereka juga mendukung mereka berdua untuk hidup mandiri.


"Benar sih, habis ini bobok dulu yuk, Kak. Kayanya jetlag deh, padahal perjalanan semalam sudah bobok. Eh, sekarang sudah ngantuk lagi," balas Mira.


"Boleh, yuk ..., tapi lepas semuanya, Honey. Kangen," kata Elkan.


Mendengarkan ucapan Elkan, dengan cepat Mira membelalakkan kedua matanya dengan menggelengkan kepalanya.


"Gak mau. Masih siang, Kak. Ah, jangan membuatku jadi istri berdosa karena menolak," balas Mira dengan memanyunkan bibirnya.


"Bercanda, Honey. Aku tahu kamu kecapekan. Jadi, gak akan deh," balas Elkan.


Mendengarkan suaminya, Mira menjadi lega. Ternyata suaminya itu sedang bercanda. Kalau beneran, Mira pastilah sedih, tidak bisa memberikan yang dimaui suaminya. Masih jetlag dan juga capek usai penerbangan jauh belasan jam.


Menaiki anak tangga ke lantai dua, keduanya memasuki kamar mereka. Nuansanya begitu baru, ranjang di tengah-tengah kamar itu pun rasanya ukurannya juga jauh lebih besar. Elkan menaiki ranjang terlebih dahulu, usai itu dia mengajak Mira untuk berbaring di sisinya.


"Tidur dulu, nanti agak sore kita ke rumahnya Kak Evan yah. Menyapa Kakak Ipar, kamu kan juga belum kenalan, jadi kenalan dulu," kata Elkan.


"Iya, Kak. Nanti yah ... sama bawakan oleh-oleh itu dari Sydney," balas Mira.


"Iya, kita akan lebih muda, adiknya. Jadi, menyapa yang lebih tua terlebih dahulu tidak apa-apa," balas Elkan.


Akhirnya keduanya memilih istirahat terlebih dahulu. Saking lelapnya tidur, Elkan dan Mira sampai tidak tahu kalau ada panggilan masuk dari Mama Marsha. Menjelang sore barulah, Elkan menelpon ulang Mama mertuanya dan mengatakan dia dan Mira tidur sejak siang. Mama Marsha hanya khawatir perut anak-anaknya kosong, sehingga menawarkan makanan untuk Elkan dan Mira. Untungnya Mama Marsha pengertian karena memahami bahwa anak-anak juga kelelahan. Selain itu, Elkan juga mengatakan akan ke rumah Kakak Evan, sehingga Mama Marsha tidak khawatir.


"Kita ke rumahnya Kak Evan naik apa, Kak?" tanya Mira.


"Sepeda motor aja, serasa jadi Dylan. Ingat waktu SMA dulu," balas Elkan.

__ADS_1


Mira tertawa mendengarkan jawaban dari suaminya itu. Rupanya Elkan masih ingat dengan momen kala mereka naik motor dan hujan-hujan waktu itu. Mira pun menganggukkan kepalanya, dia membonceng suaminya. Tidak perlu disuruh, sekarang Mira sudah berpegangan dengan melingkarkan tangannya ke pinggang suaminya.


"Pegangan yang kenceng, sebelum nanti disenggol. Senggol dong!"


Lucunya Elkan, sampai Mira tertawa terbahak-bahak dengan candaan suaminya itu. Ada-ada saja yang dilakukannya Elkan, Mira sampai tertawa terus jadinya. Sepeda motor yang dinaiki Elkan akhirnya sudah tiba di rumah kakaknya.


"Wah, rumahnya bagus banget, Kak. Ala-ala Timur Tengah gitu," kata Mira yang begitu kagum dengan rumah kakak iparnya itu.


"Katanya ini replika hotel gitu di Dubai, Kak Evan kan suka. Jadinya, rumahnya dibuat sedemikian rupa. Arsiteknya saja sampai mencari arsitek terbaik di Jakarta," kata Elkan.


Mira menganggukkan kepalanya. "Kak Ev mah udah kaya, wakil Direkturnya Papa. Jadi, yah rumahnya sebagus ini wajar sih," balasnya.


"Kalau suami kamu Kang Kopi yah, Honey," balas Elkan dengan bercanda.


Mira menganggukkan kepalanya. "Walau, Kang Kopi ... aku tetap cinta kok," jawab Mira.


Nah, itulah yang Elkan sukai, istrinya itu selalu mencintai dirinya apa pun profesinya. Dari anak muda yang masih berseragam SMA, hingga jadi anak kuliahan sampai bekerja part-time di perusahaan Papanya. Sudah empat tahun berlalu, dan Elkan tidak pernah meragukan perasaan istrinya itu.


Walau adik sendiri, saat datang ke rumah Kakaknya harus dengan menerapkan adab kesopanan. Tidak akan mendadak masuk. Sebab, bagaimana pun, kakaknya sudah menikah. Sehingga pasti setiap rumah tangga memiliki privasi sendiri-sendiri.


Selang beberapa menit, Evan turun dan membukakan pintu. Dia juga kaget ternyata adik-adiknya yang datang. Namun, bukan Elkan namanya jika tidak menggoda kakaknya itu.


"Kok berkeringat, Kak? Wah, jangan-jangan aku datang di saat yang tidak tepat nih," tanya Elkan.


Evan pun tertawa dan menepuki bahu adiknya itu. "Hush, jangan aneh-aneh, El. Kamu masih kecil," balas Evan.


"Kan walau kecil, Kakak dulu juga telepon aku kan waktu mau first night, terbukti siapa yang berpengalaman," kata Elkan.


Kakak dan adik itu sama-samq tertawa. Sementara Mira hanya geleng kepala saja mendengar candaan suami dan kakak iparnya itu. Namun, cerita mengenai Kak Evan yang menelpon Elkan itu, suaminya sudah bercerita terlebih dahulu dengan Mira.


"Kakak Ipar mana Kak?" tanya Mira.


"Ada, sebentar yah, aku panggilkan," kata Evan.

__ADS_1


Rupanya, belum sempat memanggil istrinya, ada wanita cantik seumuran Mira yang turun. Wanita itu tampak malu-malu, dengan rambutnya yang setengah basah. Lagi-lagi, Elkan tersenyum, mungkinkah tebakannya tadi benar. Sebab, walau usai mandi saja, pria masih bisa berkeringat setelahnya.


"Nah, sini Sayang ... kenalin, ini adikku. Sudah kenal kan sama Elkan? Yang ini, adalah Mira, adik iparku," kata Evan.


Tampak Mira dan Elkan bersamaan. Lantaran baru bertemu, Mira dan Andin tampak malu-malu. Harus saling kenalan dulu. Kalau sudah kenal, nanti pasti akan terbiasa juga.


"Hei, aku Andin," kata Andin memperkenalkan dirinya.


Kalau Elkan sudah bertemu sebelumnya. Namun, dengan Mira baru sekarang Andin bertemu. Sebab, waktu pernikahannya dulu Andin belum bertemu dengan Mira.


"Mira, Kak," balas Mira yang juga memperkenalkan diri.


"Panggil Andin saja, katanya Mas Evan, kita seumuran," balas Andin.


Lagi-lagi Mira dan Elkan tertawa. Tidak mengira bahwa kakaknya yang adalah maskot Agastya Properti itu dipanggil Mas oleh istrinya. Menggelikan. Sebab, mereka juga terbiasa memanggil Kakak ke Evan.


"Panggilan sayang, Ra," balas Evan.


"Aneh, Kak ... terbiasa dengan panggilan kakak," jawab Mira dengan jujur.


"Jangan salah, Mama Sara itu juga kadang memanggil Papa dengan panggilan Mas juga," balas Evan.


Mira menganggukkan kepalanya. Mamanya sendiri saja juga begitu. Hanya saja, mendengar Evan dipanggil Mas rasanya masih asing. Mungkin itu juga yang membuat Mira lebih bertahan memanggil suaminya dengan panggilan Kakak. Kakak pun bisa juga menjadi panggilan sayang.


"Iya, Kak ... oh, iya ... sedikit oleh-oleh dari Australia, Kak Andin. Maaf, tidak banyak membawa banyak," kata Mira dengan menyerahkan paper bag itu.


"Makasih banyak yah, kalian tinggal di Australianya di mana? Aku punya kerabat yang tinggal di Australia juga," balas Andin.


"Di Sydney, Kak," jawab Andin.


"Oh, sama ... kerabatku tinggal di Sydney juga."


Jika hanya pertemuan sekali agaknya kurang bisa mengakrabkan suasana. Namun, nanti kalau sudah beberapa kali bertemu pastilah Mira dan Andin bisa menjadi lebih akrab. Akan tetapi, Andin sendiri merasa aneh, karena adik iparnya itu terlihat begitu dekat dan akrab dengan suaminya sendiri. Tak pernah sebelumnya dia melihat hubungan ipar yang akrab seperti Mira dan suaminya itu.

__ADS_1


__ADS_2