
Selang beberapa hari kemudian, Mama Sara mengajak Mira ke kantor SaVa Beauty Care untuk mengecek laporan penjualan bulanan. Sekaligus, supaya Mira memiliki kegiatan. Sebelumnya, Mama Sara juga mengatakan bahwa Mira kalau jenuh di rumah, bisa bilang kepada Mama Sara, nanti akan diberikan pekerjaan.
Sekarang, Mama Sara mengajak Mira ke SBC. Namun, Mama Sara meminta sopir untuk mengantar mereka. Sebab, Mama Sara ingin hati-hati kala mengajak menantunya yang sedang hamil.
"Nanti tolongin Mama untuk mengecek laporan penjualan ya, Ra?" pinta Mama Sara.
"Siap, Ma ... setidaknya Mira bisa ada kesibukan dan tidak suntuk di rumah," balasnya.
"Kamu kalau di rumah kerjaannya ngapain?" tanya Mama Sara lagi.
"Kalau kerjaan rumah sudah beres, palingan nonton Drama Korea, Ma ... hehehe, malas ya Ma?" tanya Mira.
Sekali lagi, Mira begitu polos sebenarnya. Namun, memang begitu sudah selesai dengan kerjaan rumah, barulah dia bersantai dan melihat drama korea kesukaannya. Ya, walaupun kadang-kadang Mira yang tertidur karena sering kali mengantuk itu datang dengan sendirinya.
"Enggak apa-apa, Ra ... Mama bisa memahaminya. Dulu Mama juga begitu kok. Dinikmati saja, yang penting jangan kecapekan juga. Bagaimana pun, ada dua baby di rahim kamu. Duh, Mama ini memiliki dua menantu yang kesukaannya berbeda. Kamu sukanya Koreaan, Andin itu sukanya India-an," cerita Mama Sara.
Mama Sara tertawa sendiri, karena kesukaan menantunya berbeda. Mira suka dengan Korea yang glowing-glowing, sementara Andin menyukai India dengan cowok yang lebih maskulin. Akan tetapi, Mama Sara tidak mempermasalahkannya. Kesukaan menantu-menantunya tetap dihargai dan diterima dengan baik.
"Oh, yah ... Kak Andin suka India yah? Mira kadang-kadang lihat juga, walau gak sering," jawabnya.
"Suka banget dia ... paling suka sama India katanya," balas Mama Sara.
Begitu sudah sampai di kantor SBC, Mama Sara mengajak Mira memasuki ruangannya. Kemudian menyerahkan laporan penjualan trimester 1 kepada Mira.
"Nah, ini Mira ... minta tolong cek bisa. Mama akan kerjakan yang lain," kata Mama Sara.
"Bisa, Ma ... aman," jawabnya.
Mira dipersilakan duduk, staf di SBC juga membawakan minuman dan buah segar untuk Mira. Tentu itu sesuai pesan dari Mama Sara bahwa menantunya itu sedang hamil, sehingga lebih baik disediakan buah segar saja. Mira tertawa melihat aneka buah yang sudah tersaji di hadapannya.
__ADS_1
"Pasti sengaja karena Mira hamil yah, Ma?" tanyanya.
"Iya, Bumil harus makan buah dan sayur," balasnya.
Mira tersenyum lagi. Ini adalah bukti kasih sayang sang mama mertua untuk menantunya. Mira menyambut baik, Mama mertuanya memang sebaik itu. Sungguh luar biasa untuk Mira.
Akhirnya Mira mengerjakan apa yang diminta oleh Mama mertuanya itu. Serius dan fokus, itu yang dilakukan Mira. Walau terkadang dia sembari mengunyah buah-buah yang sudah disediakan. Hanya salah satu upaya, supaya Mira tidak mengantuk. Hingga, hampir dua jam Mira menyelesaikan semuanya. Kemudian dia berbicara lagi kepada Mamanya.
"Ma, ini sudah Mira selesaikan ... Mama perlu cek lagi apa tidak?" tanya Mira.
"Boleh, sini Mama cek dulu. Oh, iya, Ra ... usai ini Mama akan mampir ke Agastya Properti. Kamu ikut Mama atau pulang?"
Mira tampak diam sejenak, dia harus pulang atau memilih untuk mengikuti Mamanya ke Agastya Properti. Setelah itu, barulah Mira memberikan jawaban.
"Ikut ke Agastya Properti boleh, Ma? Kan hari ini Kak Elkan kerja di sana. Mau nyamperin Kak Elkan dan nanti pulangnya barengan Kak Elkan," kata Mira.
"Boleh saja kok ... oke, habis ini ktia ke sana yah."
"Mama, kok ke sini?" tanya Evan.
"Iya, mau nyusulin Papa kamu," balas Mama Sara.
"Kok Mira ikutan?" tanya Evan lagi.
"Iya, Kak Ev ... tadi Mira ikutan Mama ke SBC, supaya tidak suntuk di rumah," jawab Mira.
"Mau minum, Ra? Itu ada Coffee Bay Store," jawab Evan.
Mira menganggukkan kepalanya. "Boleh Kak."
__ADS_1
"Kalian beli minum saja, Mama ke ruangannya Papa dulu yah. Hati-hati yah, Ra ... jalannya tidak usah terburu-buru," pesan Mama Sara.
Akhirnya, Mira dan Evan berjalan bersama ke Coffee Bay Store. Di sana Evan sekadar membelikan minum untuk adik iparnya. Walau begitu, tetap menjaga jarak.
Namun, keakraban kakak dan adik ipar itu dinilai berbeda oleh Andin yang juga datang ke Agastya Properti untuk memberikan makan siang untuk suaminya. Melihat Evan dan Mira di Store Coffee Bay, Andin segera mendatangi keduanya.
"Mas Evan," sapa Andin.
"Ya, Sayang ... aku beli minum," jawab Evan.
Evan sudah tahu gelagat tak biasa dari biasa. Namun, di hadapan Mira dia berusaha tenang. Supaya Mira juga tidak curiga karenanya.
"Kok sama Mira?" tanya Andin lagi.
"Kak Andin ... aku baru datang, cuma beli minum kok," balas Mira.
Andin tidak bisa menutupi raut wajahnya. Mira sampai bingung jadinya. Dia merasa hanya berdiri di samping Kak Evan saja, dan mengobrol sedikit. Namun, Kak Andin menunjukkan reaksi yang berbeda. Mira sampai bingung jadinya.
Untunglah, sikap kikuk dan membingung itu tidak berselang lama. Sebab, Elkan yang diberitahu Mamanya bahwa Mira datang dan sedang beli minum di bawah, Elkan segera menyusul Mira. Elkan juga melihat kekikukan yang terjadi.
"Honey," sapa Elkan.
"Kakak," balas Mira.
"Beli apa?" tanya Elkan.
"Minum, sama aku pesankan Cappuccino kesukaanmu," balas Mira.
Begitu pesanan Mira sudah jadi, Mira mengambil uang dari sling bagnya terlebih dahulu, Setelah itu, dia membayar dan berpamitan dengan Kakak-kakak iparnya.
__ADS_1
"Kak Andin dan Kak Ev, Mira duluan yah ... mari."
Sungguh, ini sangat tidak menyangkan. Andin merasa salah paham. Sementara Mira bingung. Sebab, sorot mata Andin seolah mengisyaratkan sesuatu yang tidak mengenakkan.