Romansa Pengantin SMA

Romansa Pengantin SMA
Sharing dengan Kakak Ipar


__ADS_3

Siang harinya, Mira benar-benar main ke rumah kakak iparnya. Lantaran jarak yang tak terlalu jauh, Mira lebih memilih untuk berjalan kaki saja. Sekaligus badannya biar bergerak dengan olahraga ringan seperti jalan-jalan.


"Kak Andin," panggil Mira kepada Kakak Iparnya sembari menekan bel pintu rumah yang sangat mewah dan didominasi warna biru itu.


Tidak berselang lama, Andin pun muncul dan membukakan pintu untuk Mira. Senang, ada yang datang dan main ke rumah.


"Aku tungguin sejak tadi, kirain kamu gak jadi datang," balas Andin sembari dia mempersilakan Mira untuk masuk ke dalam ruang.


Bukan ke ruang tamu, tapi Andin mengajak Mira ke ruang keluarga, rencananya memang Andin ingin mengajak Mira nonton film India. Sebab, beberapa waktu yang lalu, Mira juga mengatakan kalau kakak iparnya itu kesepian dan butuh teman nonton Film India, Mira akan mau menemani kakak iparnya. Benar-benar adik ipar yang baik bukan?


"Aku jemur pakaian dulu, Kak ... nunggu panas kan nanti pakaiannya bisa kering, besok tinggal di setrika," balas Mira.


"Kenapa enggak memakai pembantu, Ra?" tanya Andin.


"Nanti saja kalau habis melahirkan Kak ... sekarang bisa sendiri. Kebiasaan dulu di Sydney juga apa-apa dikerjakan berdua dengan Kak Elkan kok," balas Mira.


Mira memang berencana akan memakai jasa ART usai melahirkan nanti. Setidaknya hanya untuk memasak dan mengurus pakaian kotor, serta membersihkan rumah. Kalau untuk baby, dia akan memegang sendiri. Apalagi dekat dengan orang tua dan mertua, sehingga banyak bala bantuan nanti.


"Jadi, menikah SMA itu terus kuliah di Sydney? Banyak kuliahnya, atau banyak bulan madunya?" tanya Andin dengan tiba-tiba.


Sebelum menjawab, Mira tertawa terlebih dahulu. Tumben sekarang kakak iparnya itu bertanya demikian. Sebelumnya, mana pernah Andin bertanya seperti itu.

__ADS_1


"Ya, seimbang sih, Kak. Kalau sedang banyak kuis dan presentasi yah fokus kuliah dulu. Bisa lembur untuk nugas, Kak," jawab Mira.


"Kok bisa yah, Ra ... maksudku kan anak SMA kan masih kecil gitu. Masih suka dolan dan main-main, sementara kalian sudah menikah. Gak mudah loh, Ra," kata Andin sekarang.


"Iya, Kak ... tapi kan ada yang jagain aku selama di Sydney. Dijaga sama sosok yang sudah sangat aku kenal. Sembari menikah, sembari kuliah. Seru juga sih Kak," balas Mira.


Andin menganggukkan kepalanya. Walau memang rasanya berat, tapi yang disampaikan Mira ada benarnya. Sehingga, bisa kuliah dan sembari mengisi hidup berumahtangga berdua.


"Mau lihat film apa Kak?" tanya Mira kemudian.


"Ini sih ... jadi kejebak gitu antara cinta dan persahabatan. Biasa, Ra ... aku sih sukanya yang romansa. Sapa tahu, lihat India, baby kamu punya hidung yang mancung," balas Andin dengan tertawa.


Keduanya kemudian sama-sama tertawa. Walau selera berbeda, tapi keduanya bisa sama-sama mengisi waktu bersama. Kali ini boleh nonton India, di lain waktu giliran Andin yang akan menemani Mira nonton Drama Korea.


"Kalau Drama Korea sukanya apa, Ra? Yang paling kamu suka?" tanya Andin.


"Yang sekretaris sama Mr. Vice President itu Kak ... baper deh, pokoknya. Aku paling suka, kayaknya aku nonton itu sudah 20 kali ada loh, Kak. Ceweknya juga cantik, yang jadi Vice President juga auranya itu loh bikin gak kuat," cerita Mira.


"Ya sudah, kapan-kapan aku temenin nonton itu. Sapa tahu kayak kisahku sama Mas Evan. Dulu kan aku sekretaris magangnya Kakakmu itu, Ra," balas Andin dengan tertawa.


Memang benar apa yang Andin katakan bahwa dulu, dia adalah sekretaris magang untuk Evan Agastya. Siapa sangka dari sekretaris dan akhirnya benar-benar dinikahi wakil direktur utama Agastya Properti yaitu Evan. Benar-benar seperti di Drama Korea yang Mira ceritakan itu.

__ADS_1


"Boleh, Kak ... giliran Kakak yang main ke rumahku yah."


Beberapa saat menonton film India, Mira juga bisa memahami jalan ceritanya, dan terhibur juga dengan beberapa lagu yang muncul di tengah cerita. Mira sampai heran karena kakak iparnya itu juga hafal lagu India. Ini adalah bukti bahwa kakak iparnya itu memang India Addict. Namun, itulah serunya menyukai sesuatu. Bisa benar-benar tenggelam dan hanyut di dalamnya.


"Mira, boleh sambil ngobrol dikit enggak," kata Andin sekarang.


"Boleh Kak ... santai aja, Kak."


Andin mengangguk perlahan. Kemudian dia mulai sharing, bercerita dengan adik iparnya sendiri. "Hm, aku lepas kontrasepsi, Ra. Implan," cerita Andin sekarang.


Tentu saja Mira juga terkejut. Dulu, kakak iparnya itu mengaku ingin fokus ke skripsi terlebih dahulu, nanti kalau sudah selesai barulah akan melanjutkan rencana untuk memiliki buah hati.


"Bukannya dulu mau skripsi dulu Kak?" tanya Mira.


"Iya, cuma kayaknya aku bisa menjalaninya berdua. Kan skripsi gak mengharuskan aku masuk ke kampus setiap hari. Selain itu, aku datang ke kampus, untuk konsultasi saja," cerita Andin.


Mira mendengarkan cerita dari kakak iparnya itu. Sesekali dia merespons dengan menganggukkan kepalanya. "Kak Evan tanggapannya bagaimana Kak? Intinya sih penting ada kesepakatan aja antara Kak Andin dan Kak Evan," balas Mira.


"Mas Evan sih bilangnya penting enggak membebaniku. Dia akan mendukung. Sama keduanya bisa jalan bersamaan. Mas Evan sudah nyaris kepala tiga Mira. Jadi, sudah waktunya juga memiliki buah hati," cerita Andin lagi.


Sekarang Mira tahu bahwa ada alasan khusus kenapa Kakak iparnya itu memutuskan untuk memiliki baby padahal masih skripsi. Walau begitu, Mira sih tetap mendukung. Sebab, dalam rencana berumahtangga, yang penting suami dan istri bisa sama-sama mendukung. Bisa menerima dan menjalani apa yang terjadi dengan sama-sama bergandengan tangan.

__ADS_1


__ADS_2