Romansa Pengantin SMA

Romansa Pengantin SMA
Saling Mendukung


__ADS_3

Mengerjakan skripsi agenda Mira dan Elkan tidak jauh-jauh dari buku dan laptop. Selain itu, mereka sudah tidak mengambil mata kuliah apa pun, sehingga bisa fokus untuk skripsi. Kendati demikian ada hari di mana mereka pergi ke perpustakaan berdua untuk menyelesaikan skripsinya.


"Ke perpustakaan lagi ya, Honey," ajak Elkan pagi itu.


Sebenarnya, Mira ingin di unit saja. Terlebih sudah mulai musim dingin lagi di Sydney. Beberapa tahun di Sydney, setiap kali musim dingin tiba pastilah Mira lebih suka berdiam diri di unitnya yang hangat.


"Aku sebenarnya malas, Kak. Di luar dingin ... kalau di unit kita hangat," balas Mira.


Setelah itu, Elkan menatap istrinya itu. Elkan tahu bahwa Mira tidak begitu menyukai musim dingin. Istrinya itu lebih menyukai hujan, dibandingkan dengan musim dingin. Namun, Elkan sekarang membutuhkan Mira untuk membantunya mengerjakan Skripsi juga. Jika ada pertanyaan, Elkan bisa langsung bertanya ke ahlinya, kira-kira begitu.


"Nanti kalau sudah pulang dari perpustakaan aku peluk deh. Kasihan suamimu yang progressnya belum seberapa," balas Elkan mengiba.


Merasa kasihan dengan suaminya dan Mira merasa harus mensupport Elkan. Akhirnya Mira bersiap. Wanita itu mengenakan jaket tebal dan mengenakan syal supaya tidak terlalu dingin. Setelah itu, dia pergi bersama Elkan menuju ke perpustakaan.


"Aku butuh untuk hipotesis, Honey," kata Elkan sekarang.


Tidak banyak bicara, Elkan menyusuri beberapa rak buku. Selang sekian menit berlalu Mira memberikan buku kepada Elkan. "Nah, ini Kak ... pelajari arti hipotesis terlebih dahulu," kata Mira.


"Makasih, Honey. Berkat kamu loh aku bisa mengejar. Aku bisa menjadi semangat menyelesaikan," balas Elkan.


"Tidak apa-apa, Kak. Kita kan sudah berjanji akan saling mendukung. Kita akan ke Sydney bersama-sama, jadi kita juga akan lulus bersama-sama," balas Mira.


Elkan tersenyum. Itu berarti Mira ingat dengan janji mereka berdua. Datang ke Sydney bersama-sama, wisuda pun akan bersama-sama. Pasangan jika bisa saling mendukung satu sama lain itu rasanya sangat menyenangkan.


"Kerjakan dulu yah, aku harus mengolah data dulu. Kalau butuh bantuan, aku duduk di meja di depan Kakak."


Sebenarnya, Elkan lebih suka ketika Mira duduk satu meja dengannya. Akan tetapi, Mira juga butuh fokus dan ketenangan untuk mengolah datanya. Sehingga, Elkan membiarkan saja. Toh, Mira sudah mensupportnya sangat banyak selama ini. Giliran Elkan yang akan mensupport istrinya.

__ADS_1


Tidak terasa beberapa jam berlalu, Mira masih mengerjakan skripsi miliknya. Elkan bisa mengamati bahwa Mira beberapa kali menguap. Oleh karena itu, Elkan keluar sebentar. Pria itu menuju ke coffee shop yang berada tepat di depan perpustakaan, kemudian memesan Coffee Latte hangat untuk Mira.


"Coffee Latte, Honey ... aku amati kamu mengantuk deh," kata Elkan.


Diperhatikan dan mendapatkan segelas Coffee Latte hangat kesukaanya, Mira tersenyum. Tidak lupa dia mengucapkan terima kasih kepada Elkan.


"Thankiss," kata Mira.


"Kiss nya mana?" tanya Elkan lirih dengan tiba-tiba.


Mira mengulum senyuman. Suaminya pasti seperti itu. Malu rasanya, terlebih sekarang mereka tengah berada di perpustakaan. Di tempat umum.


"Nanti di unit," jawab Mira.


"Seriously?"


"Udah sana, Kak ... sana lanjut lagi," kata Mira.


"Oke deh, Honey. Kita mau di perpustakaan sampai jam berapa? Kalau udah benar-benar capek dan mengantuk pulang saja," balas Elkan.


"Satu jam lagi ya, Kak ... aku selesaikan sekalian."


Akhirnya, keduanya kembali ke tempat duduk mereka masing-masing. Mira menyelesaikan olah data miliknya terlebih dahulu. Sementara Elkan juga menyelesaikan apa yang harus dia kerjakan.


Tidak terasa waktu satu jam sudah berlalu. Keduanya sama-sama berkemas sekarang. Waktunya kembali ke unit.


"Lumayan, aku bisa mengerjakan banyak hari ini," kata Elkan.

__ADS_1


"Sama, aku juga, Kak," jawab Mira.


"Aku sengaja ke perpustakaan, Honey. Biar maksimal ngerjainnya. Nanti malam, aku harus kerja yang lain untuk perusahaannya Papa."


Rupanya memang Elkan sengaja membagi waktu supaya semuanya bisa dia kerjakan. Skripsi dikerjakan, pekerjaan part timenya juga diselesaikan. Bagaimana pun, itu adalah upayanya menafkahi Mira. Dia ingin mencukupi Mira dengan penghasilan yang dia dapatkan.


"Enggak capek Kak?" tanya Mira.


"Ya, tugas suami ya gini, Honey. Harus kerja keras. Aku siap kok banting tulang untuk kamu," balas Elkan.


Mendengarkan apa yang Elkan katakan, Mira tersenyum. Suaminya itu selalu sungguh-sungguh. Sejak mereka menikah, Elkan berusaha menafkahinya. Bentuk seorang suami yang bertanggung jawab terhadap istrinya.


"Makasih banyak loh, Kak. Kamu selalu menafkahi aku sejak kita menikah," kata Mira.


"Gak perlu berterima kasih, Honey. Menafkahi kamu kan sudah kewajiban untukku. Selain itu, aku nabung katanya nanti mau baby kembar. Begitu lulus dan pulang ke Jakarta, kita realisasikan satu per satu yah," balas Elkan.


Rupanya Elkan juga berpikir jauh ke depan. Dia masih ingat dengan cita-cita keduanya memiliki bayi kembar. Namun, untuk mewujudkan itu dibutuhkan uang yang tidak sedikit, sehingga dari sekarang Elkan sudah menabung terlebih dahulu.


"Atau kehamilan normal pada umumnya saja, Kak. Kasihan kamu," balas Mira.


"Enggak. Aku bisa kok. Kapan lagi memiliki twins yang lucu-lucu. Lagipula secara genetik kita tidak memiliki garis keturunan kembar, Honey. Jadi, kita usahakan dengan bayi tabung."


Itu adalah alasan utama Elkan. Dia ingin mewujudkan itu. Bersama dengan Mira, Elkan yakin bisa mewujudkan satu per satu impiannya.


"Baiklah, semangat yah, Hubby," balas Mira.


"Iya, asal kamu selalu mendukung aku pasti aku selalu bersemangat. Satu per satu, secara bertahap aku akan mewujudkan semuanya. Kita wujudkan impian kita berdua. Hingga kita menua bersama nanti."

__ADS_1


Itulah Elkan, seorang pria muda yang sudah merancang masa depan dengan Mira. Tidak takut untuk berencana. Justru ketika dia tidak merencanakan sesuatu, dia sedang merencanakan kegagalan. Dalam hidup, manusia memiliki rencana, dan Elkan pun demikian.


__ADS_2