
Selang beberapa pekan kemudian, Elkan bersama Papa Belva dan Papa Abraham akan kembali ke pengadilan negeri. Jika sebelumnya Elkan datang untuk mendengarkan kesaksian dan lain-lain, sekarang mereka akan datang untuk mendengar putusan pengadilan bagi Bagas. Kejahatan yang dilakukan Bagas terbilang berlapis, dengan beberapa pasal yang dikenakan kepadanya. Oleh karena itu, Elkan juga bertanya-tanya berapa tahun hukuman untuk Bagas.
"Aku akan ke pengadilan lagi, Honey. Jujur, perasaanku bingung. Kalau memang Bagas bersalah memang harus dihukum, tapi pasal yang dikenakan kepadanya berlapis, aku hanya kasihan saja jika masa tahanannya akan sangat lama," kata Elkan.
Mencoba untuk mendengarkan keresahan suaminya, Mira menggangguk perlahan. "Ya, semoga yang terbaik ya, Kak. Setelah ini Bagas juga belajar dari salahnya. Aku percaya bahwa hukuman tak hanya memberi efek jera, tapi juga sebagai media belajar. Semoga dimanfaatkan baik-baik untuk belajar," balas Mira.
"Papa setuju dengan yang kamu katakan, Mira. Semoga jadi kesempatan untuk belajar. Harus lebih bijak dan hati-hati dalam bertindak," balas Papa Abraham.
"Benar, Pa. Setidaknya kan Bagas belajar juga. Hukum yang diberikan juga berdasarkan putusan pengadilan bukan berdasarkan main hakim sendiri," balas Mira.
Akhirnya, Elkan dengan Papanya berpamitan dan benar-benar berangkat ke pengadilan. Sementara Mira memang tidak ikut karena Mira fokus untuk mengasuh Baby Aryan dan Aaliya di rumah. Mira percaya cukup didampingi Papa Belva dan Papa Abraham saja, semuanya akan berlangsung dengan baik adanya.
Beberapa saat kemudian di pengadilan negeri, Elkan bersama Papa Abraham dan Papa Belva memasuki ruangan sidang. Menunggu persidangan dimulai. Elkan justru yang kasihan melihat Tante Lista yang tampak resah.
"Kasihan Mamanya Bagas, Pa," kata Elkan dengan lirih kepada Papa Abraham.
__ADS_1
"Papa juga kasihan, El. Namun, lihatlah ... di seberang sana Bagas tidak menunjukkan penyesalannya. Pemuda itu terlihat masih begitu angkuh."
Ketika Papa Abraham melihat sosok Bagas, seakan memang Papa Abraham melihat mendiang Melvin Andrian kala muda dulu. Walau sudah melakukan kesalahan, tapi Melvin juga terlihat angkuh. Melihat itu saja, hati Papa Abraham merasa tidak enak. Melvin adalah adiknya, berbeda Ibu. Akan tetapi, keduanya tak memiliki hubungan yang baik. Jika ada yang Papa Abraham sayangkan adalah tidak pernah memiliki hubungan baik dengan Melvin, adiknya sendiri.
Menunggu beberapa saat lamanya, kemudian persidangan pun di gelar. Sudah tidak ada kesaksian yang ditambahkan. Sehingga hari ini, hanya mendengarkan putusan dari ketua Majelis Hakim.
"Menimbang kesaksian dari korban dan saksi, serta menilik setiap upaya kejahatan yang dilakukan oleh Saudara Bagas Putra Andrian, maka terdakwa yakni Saudara Bagas Putra Andrian dinyatakan bersalah dan kepadanya akan dikenakan denda sebesar Lima belas juta rupiah serta hukuman kurangan selama Tujuh Setengah Tahun Penjara."
Tok ... Tok ... Tok ...
Pukulan tiga kali dari Ketua Majelis Hakim mengesahkan hukuman untuk Bagas kali ini. Terlihat Tante Lista menitikkan matanya. Sementara, Bagas menunduk sekarang. Pemuda yang sebelumnya berwajah angkuh itu, sekarang menunduk. Sebab, hukuman 7,5 tahun dinilai begitu lama. Masa muda yang penuh produktivitas harus dia habiskan di dalam penjara.
"Bagas, putranya Mama ... Mama akan berusaha, kita akan melakukan banding, Nak," kata Mama Lista dengan menangis.
Tidak ada jawaban sama sekali dari Bagas. Sebab, Bagas sendiri juga terkejut mendengarkan putusan pengadilan terkait hukumannya. Bagas tidak menyangka juga akan mendapatkan hukuman seberat ini.
__ADS_1
"Apa pun akan Mama lakukan, Bagas. Mama tidak akan membiarkan kamu mendekam di penjara begitu lama," balas Mama Lista.
Belum Bagas memberikan jawaban, tapi pihak yang berwajib sudah akan membawa Bagas kembali ke tahanan. Mama Lista kemudian berlari menemui Elkan, Papa Abraham, dan Papa Belva.
"Tolong pertimbangkan lagi. Apakah Anda tidak iba melihat anak muda harus menghabiskan waktu hampir sewindu di balik jeruji?" tanya Mama Lista dengan berurai air mata.
Ketiganya terdiam, lantas Mama Lista menatap Papa Abraham di sana. "Apakah tidak ada belas kasihan untuk keponakanmu sendiri?" tanyanya.
Kembali mencoba mengingatkan dengan hubungan darah yang dimiliki Papa Abraham dan Bagas. Siapa tahu itu bisa menarik simpati dan belas kasihan Papa Abraham. Mengiba pun akan Mama Lista lakukan asalkan bisa meringankan hukuman Bagas.
"Maaf, Lista. Semua ini adalah putusan pengadilan, bukan keputusanku," balas Papa Abraham.
"Kenapa membiarkan seorang pemuda mendekam begitu lama di balik jeruji besi? Apakah kamu tidak punya hati?"
Papa Abraham tidak bisa menjawab. Akan tetapi, Papa Belva lah yang memberikan jawaban.
__ADS_1
"Mohon tidak menyudutkan salah satu pihak. Sebab, siapa yang melanggar hukum, kepadanya akan dikenakan ganjarannya. Bagas memiliki dendam tak beralasan. Berusaha menghancurkan keluarga Narawangsa melalui Elkan, pikirnya menyakiti Elkan akan menghancurkan keluarga Narawangsa dan Mira. Bagas melupakan bahwa negeri kita ini adalah negara hukum. Lain kali, harus lebih bijak dalam bertindak," balas Papa Abraham.
Papa Belva sangat berharap bahwa kali ini Papa Abraham tidak terpengaruh. Untuk terdakwa yang dikenakan pasal berlapis, hukuman yang didapatkan Bagas terbilang ringan. Sebab, berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, tindakan Bagas bisa dikenakan hukuman hingga lima belas tahun penjara. Sedangkan hukuman Bagas hanya setengahnya saja. Itu berarti terbilang ringan.