Romansa Pengantin SMA

Romansa Pengantin SMA
Keputusan dari Kampus


__ADS_3

Pagi itu, Elkan menyiapkan sarapan untuk Mira. Walau hanya sandwich, tapi itu adalah bentuk kepedulian Elkan kepada istrinya. Mira merasa sungkan jika dilayani oleh suaminya. Sebagai, istri seharusnya Mira hanya harus melayani suaminya.


"Jadi merepotkan kamu ya, Kak?" tanya Mira kepada Elkan yang sekarang membantunya untuk duduk di meja makan.


"Tidak merepotkan sama sekali kok, Honey. Toh, kamu juga baru sakit. Biasanya kan juga kamu yang membuatkan sarapan. Aku cuma membuat sandwich aja, Honey," balas Elkan.


"Walau sandwich kan kamu juga sudah mau berusaha dan merepotkan kamu," balas Mira.


Dengan cepat Elkan menggelengkan kepalanya. Pria itu kemudian mulai mengambilkan sebuah roti sandwich untuk Mira. Selain itu, Elkan mengiriskan Apel merah untuk Mira. Supaya melengkapi sarapannya. Nanti untuk makan siang lebih baik membeli saja. Pilihan makanan halal di Sydney juga banyak. Tidak perlu memasak, karena Elkan mau Mira fokus untuk sembuh dulu.


"Aku jadi ingat Papa. Soalnya kalau Mama baru tidak enak badan, biasanya Papa yang akan membuatkan sarapan dan memotongkan apel untuk Papa," cerita Mira sekarang.


Seketika rasanya, Mira menjadi kangen dengan Papanya. Sebab, biasanya kalau dia juga terkena flu atau kurang sehat, Papanya juga sangat mengkhawatirkannya. Papa Abraham lah yang keluar masuk kamarnya dan mengecek suhu badan Mira sampai benar-benar turun. Ada kalanya ketika sakit seperti ini Mira menjadi kangen dengan Papanya.


"Pasti jadi kangen Papa?"


Elkan menebak bahwa pastilah sekarang istrinya itu kangen dengan Papanya. Terlihat jadi Mira yang sedikit bengong dan tidak segera memakan sarapannya. Biasanya, memang Mira jika sudah begitu akan kangen dengan Papanya.


"Heheheh ... kamu tahu aja sih, Kak," balas Mira.


"Tahu dong. Aku itu sudah kenal kamu lama banget. Jadi, sudah tahu, Honey," balas Elkan.

__ADS_1


"Biasanya, kalau sakit gini dulu Papa itu perhatian banget. Misalnya, aku demam saja Papa bisa bolak-balik ke kamarku untuk mengecek panasku sudah turun apa belum. Mama juga perhatian sih, tapi Papa biasanya sampai kayak kepikiran gitu," balas Mira.


"Bener yah, Papa itu cinta pertama untuk anak perempuannya. Sehingga, kadang sakit kangennya Papa. Punya suaminya pengennya juga seperti Papa. Aku harus puas menjadi cinta kedua untukmu, Honey," balas Elkan.


Mendengar apa yang Elkan sampaikan, Mira tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. "Kayaknya memang seperti itu deh, Kak. Sudah menggantikan posisi Papa Abraham di hatiku," balas Mira.


"Baiklah ... baiklah, aku terima, Honey," balas Elkan.


Sembari mengobrol bersama, keduanya pun menikmati sarapan. Kadang Elkan juga menyuapi istrinya itu. Usai sarapan, Elkan juga membantu Mira untuk minum obat. Setelahnya, Elkan mendapatkan kabar dari kampus. Sekarang juga, dia harus ke kampus dulu.


"Honey, aku harus ke kampus dulu. Kamu di unit dulu tidak apa-apa?" tanya Elkan.


"Aku ikut boleh enggak Kak?" tanya Mira.


Sebenarnya Mira sudah ingin ikut dengan suaminya. Namun, Elkan memikirkan untuk lukanya, sehingga meminta Mira untuk menunggunya saja. Lagipula, Elkan berjanji juga tidak akan lama-lama. Begitu sudah selesai, akan segera kembali ke unit dan menemani Mira.


"Ya sudah ... aku tunggu di sini saja, jangan lama-lama ya Kak," balas Mira.


Elkan mengganti pakaiannya terlebih dahulu, kemudian dia memeluk Mira terlebih dahulu dan meminta Mira untuk menunggunya. Selain itu, Elkan berjanji untuk segera pulang begitu urusan di kampus sudah selesai. Mira menganggukkan kepalanya dan tentunya berharap supaya Elkan tidak akan terlalu lama berada di luar sana.


Keluar dari unitnya, Elkan segera menuju ke kampus. Menuju ke ruang Dosen yang kemarin dia melaporkan untuk kasus Mira dan Rosaline. Elkan mempercepat langkah kakinya dan berharap bisa segera tiba di kampus.

__ADS_1


"Excuse me, Sir," sapa Elkan dengan mengetuk pintu Dosennya.


"Ya," balas Dosennya yang mempersilakan Elkan untuk masuk.


Ada beberapa perbincangan yang terjadi antara Elkan dan Dosen itu. Bahkan di sana ada beberapa Dosen dan perwakilan dewan mahasiswa dari Indonesia, karena rupanya masalah Mira ini juga mendapatkan perhatian dari beberapa mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Sydney. Perkumpulan mahasiswa Indonesia menuntut kampus bisa menegakkan sanksi yang berat untuk Rosaline. Tanpa Elkan ketahui, rupanya ada beberapa mahasiswa dan juga mahasiswa dari Indonesia yang tahu penusukan yang dialami oleh Mira.


"Setelah menimbang kasus yang dialami Mira dan juga bukti-bukti yang memberatkan Rosaline. Oleh karena itu, kampus akan mengeluarkan Rosaline dari kampus ini. Untuk hukum pidana, sukar untuk diberikan tapi dia tidak akan diterima lagi di seluruh kampus di Australia," jelas sang Dosen.


Elkan menerimanya. Setidaknya dia lega karena Mira bisa berkuliah dengan aman. Tidak akan ada pengganggu juga di dalam hubungan mereka berdua.


"Saya menerimanya," balas Elkan.


Sang Dosen pun menganggukkan kepalanya. "Baiklah ... jadi Rosaline akan segera dikeluarkan dari tahanan kepolisian, dan kemudian dia akan dikeluarkan dari kampus. Selain itu, kampus akan mengirimkan surat pernyataan untuk orang tuanya terkait dengan gangguan mental yang dihadapinya. Semoga saja kasus serius ini bisa ditanggapi dengan baik."


Usai pertemuan dengan Dosen, Elkan juga berterima kasih untuk mahasiswa Indonesia yang datang di sana. Bersyukur karena banyak yang mendukungnya dan Mira.


"Terima kasih banyak untuk semuanya," ucap Elkan.


"Ya, sama-sama. Lain kali ikuti acara mahasiswa Indonesia. Mungkin semester depan," ucap Fandri yang adalah satu mahasiswa dari Indonesia.


"Oke, kalau tidak berbenturan dengan kuliah, pasti diusahakan untuk ikut," balas Elkan.

__ADS_1


Menyelesaikan semua masalah di kampus. Elkan sekarang tinggal pulang. Sudah lebih dari satu jam, pasti Mira sudah menunggunya. Elkan juga berinisiatif untuk mampir membeli makan siang sekalian, supaya nanti tidak perlu keluar unitnya lagi.


__ADS_2