
Begitu sudah sampai di dalam mobil, tampak Elkan perlahan-lahan mengemudikan mobilnya. Hingga mobil itu kini melintasi jalanan di Ibukota, sementara Mira memperhatikan jalanan dengan lalu lintasnya yang begitu padat. Mira sendiri sebenarnya jarang keluar, terutama saat malam minggu. Dia lebih suka di rumah belajar dan juga terkadang melihat Moto Gp bersama Papa dan adiknya.
"Mau mampir?" tanya Elkan kemudian.
"Pulang aja, Kak," balas Mira.
Elkan menganggukkan kepalanya, dan kemudian mengemudikan mobilnya lagi. Namun, beberapa saat kemudian Elkan kembali bertanya. "Jadi, dulu kamu pernah jadian sama Jerome yah?" tanyanya.
Ya, masih terlintas di benak Elkan bahwa dulu Jerome pernah mengucapkan rasa cintanya kepada Mira. Dia meminta Mira untuk menjadi pacarnya. Walau masih kecil, dan usia Jerome lebih tua, tetapi nyatanya Jerome justru jatuh cinta kepada Mira dengan selisih usia kurang lebih tiga tahun.
"Enggak kok ... aku enggak menerimanya," balas Mira.
Elkan kemudian melirik lagi ke arah Mira. "Terus, kamu memakai kacamata itu karena Jerome suka dengan gadis yang berkacamata kan? Jawab saja, Mira. Walau aku ini sudah lama pergi ke Singapura, aku masih ingat dulu bahwa Jerome mengatakan suka kepadamu," balas Elkan.
"Itu sudah lama banget, Kak ... beberapa tahun yang lalu," balas Mira.
"Dia masih suka sama kamu, Ra," balas Elkan lagi.
Mira kemudian menghela nafas dan melirik ke Elkan. "Kan itu perasaannya, bukan perasaanku. Lagipula, aku juga enggak nanggepin kan. Gini-gini aku juga tahu batasan, Kak. Aku tahu kalau aku ini istri orang," balas Mira.
Ya, setidaknya Mira sendiri juga bertindak dalam batasan yang ada. Tidak akan melanggar batasan yang sudah dia buat. Begitu juga, Mira juga selalu mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa dirinya sudah menjadi istri orang.
"Istrinya siapa?" tanya Elkan dengan menaik-naikan alis matanya.
Sebenarnya jujur saja kalau Elkan merasa bahagia ketika Mira memberi batas kepada Jerome. Selain itu, Elkan juga mendengarkan bahwa Mira sangat sadar bahwa dirinya adalah istri orang. Itu berarti keberadaannya sebagai suaminya diakui oleh Mira.
"Malahan tanya," balas Mira dengan memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
Senyuman pun terbit di wajah Elkan ketika dia mendengar jawaban dari Mira. 120 menit bersikap usil dan kini bisa berdua saja dengan Mira rasanya menjadi momen yang lebih indah untuk Elkan. Kapan lagi bisa malam minggu dengan istri sendiri.
"Kalau begitu, kenapa kamu mengenakan kacamata, Ra?" tanya Elkan lagi kepada Mira.
"Mataku minus, Kak ... kebanyakan membaca," balasnya.
Elkan hanya menganggukkan kepalanya perlahan. "Aku kira semua itu karena Jerome. Ya, memakai atau tidak memakai kacamata, kamu mah cantik. Cuma, kalau itu kamu lakukan untuk Jerome, aku tidak bisa berkomentar apa-apa," balas Elkan.
Ketika usia masih belia, kedewasaan pun masih labil, dan kemudian mereka masih menyelami arti pernikahan itu sendiri. Hanya saja, Elkan merasa tidak akan bisa berkomentar jika memang Mira mengenakan kacamata karena Jerome.
"Kamu suka gadis berkacamata atau tidak Kak?" tanya Mira kemudian.
"Terserah kamu. Apa pun yang membuat kamu nyaman, lakukan saja," balas Elkan.
Sampai di titik ini, Mira merasa bahwa Elkan adalah orang yang menghargai kenyamanan orang lain. Itu sudah cukup untuk Mira. Akan tetapi, Mira masih ingin saja mengenakan kacamata baca sebenarnya, benar-benar tanpa lensa minus di kacamata itu.
"Pulang jam segini kemalaman enggak Ra? Aku takut kalau dimarahin Papa dan Mama," balasnya.
"Ya, aku akan meminta maaf ke Mama dan Papa mertua. Jalanan macet juga," balas Elkan.
Bahkan dengan penuh percaya diri, Elkan menyebut Mama dan Papa mertua. Membuat Mira melirik dan kadang sebal saja dengan Elkan. Walau pun terkadang Mira tahu bahwa Elkan itu menaruh perhatian kepadanya.
Hingga akhirnya lebih dari jam sembilan malam, barulah mereka sampai di kediaman Mira. Tampak Elkan turut untuk turun dan mengantar Mira ke dalam.
"Kok ikutan turun Kak?" tanya Mira.
"Iya, kan pamit sama Mertua dulu. Minta maaf juga sudah buat anaknya pulang malam," balas Elkan.
__ADS_1
Mira pun tersenyum. "Alasan padahal," jawabnya.
Elkan mengedikkan bahunya perlahan dan kemudian mengetuk pintu rumah Mira.
"Assalamualaikum," ucapnya dengan mengetuk pintu.
"Wa'alaikumsalam," balas Papa Abraham yang membukakan pintu.
"Pa," sapa Elkan dengan bersalam takzim kepada mertuanya itu.
"Masuk, El," ucap Papa Abraham.
Memasuki ruang tamu, Elkan pun kemudian berbicara kepada Papa mertuanya. "Mengantar Mira, Pa ... maaf agak malam, soalnya jalanan macet, Pa," ucapnya.
"Iya, tidak apa-apa. Biasa malam minggu biasanya memang macet, El," balas Papa Abraham. "Gimana tadi jalan-jalannya sama Jerome? Tidak menyangka yah, dulu baru lulus SMA dan pamit ke mari untuk kuliah ke Jepang. Rupanya waktu sudah berlalu 4 tahun, dan Jerome pulang sudah menjadi sarjana," ucap Papa Abraham.
Elkan pun menganggukkan kepalanya. "Hanya nonton tadi, Pa ... kalau lanjut ke yang lain bisa pulang lebih malam," balasnya.
"Berarti kalian belum makan nih?" tanya Papa Abraham kemudian.
Mira dengan cepatnya menggelengkan kepalanya. "Belum Pa ... Mira menolak untuk makan di sana. Lagipula semua restoran pasti ramai dan juga bisa pulang telat," balasnya.
"Ya sudah, makan dulu ... ajak El makan yah," ucap Papa Abraham.
"Makan di sini dulu, Kak," ajak Mira kemudian.
"Eh, enggak kemalaman memangnya Pa?" Elkan bertanya untuk memastikan kepada keluarga mertuanya itu. Sungkan juga jika harus sampai di sana sampai tengah malam.
__ADS_1
"Makan dulu, apa nanti Papa anter pulang biar enggak dimarahin Papa Belva?" balas Papa Abraham dengan terkekeh geli.
Rasanya lucu, tetapi memang karena anak-anak masih sekolah sehingga memang kedua keluarga itu meminta kepada anak-anak untuk menjaga batasan dalam pergaulan dan juga tidak pulang terlalu malam. Mengingat semakin bebasnya pergaulan masa kini, tetapi Elkan dan Mira termasuk anak-anak yang bisa dikategorikan sebagai anak rumahan.