Romansa Pengantin SMA

Romansa Pengantin SMA
Welcome Home


__ADS_3

Bukan hanya Mira yang resah semalaman. Bahkan tidur pun rasanya tak nyenyak. Biasanya ada suaminya yang tidur di sisinya dan memeluknya, tapi malam ini Mira hanya menempati tempat tidurnya seorang diri.


"Di Rumah Sakit, apakah kamu bisa tidur, Kak? Belum ada semalam, aku sudah rindu. Bahkan ini jauh lebih berat dibandingkan dengan saat kamu pulang ke Jakarta satu minggu, dan aku menunggumu di Sydney. Sekarang, kamu sakit, itu yang membuatku sangat sedih," kata Mira seorang diri.


Sesekali tangan Mira mengusap bagian tempat tidur yang biasa menjadi tempat Elkan berbaring. Dulu, di Australia pernah keduanya berjauhan karena Elkan harus pulang ke Jakarta dan menghadiri pernikahan Kakaknya. Sementara Mira di Sydney karena ada tugas presentasi yang tidak bisa ditinggal. Seminggu menjalani jarak jauh Sydney dan Jakarta bisa dilalui. Akan tetapi, sekarang menjalani dalam lingkup satu kota, tapi Elkan yang tengah berada di Rumah Sakit membuat situasinya jauh lebih berat untuk Mira.


"Mungkin Twins A kangen Daddynya juga. Walau dia belum bisa berbicara, tapi pastilah keduanya mencari sosok Daddynya," gumam Mira lagi.


Hingga akhirnya Mira bisa tertidur. Memanfaatkan waktu untuk tidur dan mengistirahatkan badan. Sebelumnya nanti tengah malam atau dini hari bayinya akan terbangun dan meminta ASI.


...🍀🍀🍀...


Keesokan Paginya ....


Pagi untuk Ibu rumah tangga adalah pagi yang hectic. Terlebih dengan dua bayi seperti Mira, rasanya bisa capek di pagi hari. Namun, pagi ini Mira membulatkan tekadnya untuk menjalani semuanya satu per satu. Dia tidak boleh menangis dan bersedih karena bayinya juga bisa menangis dan tidak tenang. Oleh karena itu, Mira lebih memilih untuk menjalani semuanya. Lagipula, ada Mama Marsha yang membantunya sedikit banyak mengurus bayi menjadi teratasi.


"Biar Mama yang mandikan Twins, Ra ... kamu pumping dulu tidak? Itu kelihatan penuh deh," kata Mama Marsha dengan menunjuk sumber ASI Mira.


"Iya, penuh banget, Ma. Agak nyeri ini, penuh kelihatannya," kata Mira.


"Ya sudah, kamu pumping dulu. Daripada nanti bengkak dan kamu bisa kena mastitis," balas Mama Marsha.


Akhirnya Mira pamit untuk melakukan pumping terlebih dahulu. Benar, kala membukanya saja, ada bagian wadahnya yang basah terkena ASI. Begitu melakukan pumping dan ASInya keluar itu mengurangi bengkak. Selain itu, Mira juga merasa lebih baik. Terlebih mengenakan pumping elektrik dengan dua botol ASI sehingga sumber ASI di kanan dan kiri bisa dikeluarkan bersamaan. Dari dua sumber ASI, nyaris mendapatkan empat kantong ASIP. Semua itu memang karena produksi ASI Mira yang melimpah.


Menyelesaikan pumping dan menyimpan ASIP, Mira kemudian memberikan ASI secara langsung atau Direct Breastfeeding kepada Aryan dan Aaliya sekaligus. Mama Marsha memperhatikan putrinya itu. Kalau dipikir mengurusi dua bayi kembar tidak mudah. Ketika ada satu Ibu sudah kepayahan dan kecapekan mengurus satu bayi, tapi Mira harus mengurus dua bayi sekaligus.


"Minumnya banyak Aryan atau Aaliya, Ra?" tanya Mama Marsha.

__ADS_1


"Lebih banyak Aryan, Ma. Aryan kuat banget ng-ASI nya."


"Cowok kali yah, jadi minumnya ASI banyak. Dulu adik kamu Marvel juga banyak banget. Memberikan ASI untuk Marvel membuat Mama lebih cepat kurus," cerita Mama Marsha.


Mira kemudian tersenyum. "Mira memberikan ASI untuk dua bayi kok enggak turun-turun yah, Ma?" tanyanya.


"Tidak apa-apa dinikmati. Elkan juga enggak protes kan?"


"Kak El enggak protes sih cuma kan pengen tampil cantik untuk suami sendiri," balas Mira.


Mendengar ucapan Mira, Mama Marsha tertawa. Sepenuhnya Mama Marsha tahu karena dulu Mama Marsha pernah berada di posisi Mira. Di mana menginginkan berat badan yang ideal dan membuat suaminya tambah cinta. Namun, semuanya pulih dengan sendirinya tanpa dipaksakan. Toh, mau bagaimanapun keadaannya cintanya Papa Abraham juga hanya untuk Mama Marsha seorang.


Usai memberikan ASI, Twins A tidur. Mira memanfaatkan waktu untuk mandi dan sarapan. Setidaknya perutnya tidak kosong karena saat bayinya terbangun nanti, pastilah Aryan dan Aaliya meminta minum lagi.


"Kira-kira kapan Kak El bisa pulang yah, Ma?" tanya Mira.


Mira menganggukkan kepalanya, di satu sisi dia senang ketika bisa sharing dengan Mamanya. Selain itu, Mama Marsha juga memberikan jawaban yang positif sehingga membuat Mira lebih tenang. Bisa menata pikiran dengan lebih baik.


"Doanya Mira juga seperti itu, Ma. Dirawat di rumah tidak apa-apa. Melihat suami sendiri lebih tenang, Ma," balas Mira.


"Benar, semoga saja ada kepastian. Papa kamu juga masih di Rumah Sakit. Kalau Papa datang kita bisa tanyain kondisinya Elkan," balas Mama Marsha.


Hingga akhirnya kurang lebih setengah hari, Mira melewati hari dengan mengasuh Aryan dan Aaliya. Walau pikirannya resah dan memikirkan kondisi suaminya, tapi Mira menanamkan pada dirinya sendiri bahwa Elkan akan segera membaik. Di rumah juga ada Mama Marsha dan Mama Sara sekarang. Selain itu ada Kakak Iparnya juga yang menemaninya. Sehingga, kecemasan Mira pun teralihkan.


"Mau makan sesuatu enggak, Ra?" tanya Andin.


"Enggak, Kak. Kalau kondisi hati baru galau, rasanya enggak doyan makan," balas Mira.

__ADS_1


"Jangan galau. Elkan pasti sembuh dan segera membaik kok," balas Andin.


"Iya, Kak ... thanks yah," balas Mira.


Inilah keluarga yang menerapkan berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Ketika satu anggota keluarga sakit, semua turut merasakannya. Saling mensupport satu sama lain.


Hingga terdengar bel pintu rumah Mira berbunyi, Mira sendiri yang berjalan ke pintu dan melihat siapa yang datang. Rupanya mobil Papa Belva. Mira pun segera membukakan pintu.


Ketika pintu terbuka, ada empat pria di hadapannya. Papa Belva, Papa Abraham, Kak Evan, dan satu lagi adalah suaminya. Bertatap muka dengan suaminya membuat Mira menitikkan air matanya.


"Elkan boleh pulang, Mira," kata Papa Abraham.


Bukan tangisan sedih, tapi Mira merasa sangat bahagia. Dia akhirnya bisa melihat suaminya lagi. Setelah begitu rindu dan kepikiran dengan suaminya.


"Jangan menangis ... aku memilih pulang untuk kamu dan anak-anak," kata Elkan.


Akhirnya, Mira mempersilakan semuanya masuk. Kini ruang tamu kediaman Mira dan Elkan dipenuhi keluarga mereka. Elkan turut duduk di sana. Beberapa luka dan lebam di wajah masih terlihat, tapi Elkan memilih pulang.


"Sebenarnya Dokter meminta Elkan dirawat semalam lagi, tapi Elkan memilih pulang, Mira," kata Papa Belva sekarang.


"Benar, Ra. Dia udah kangen sama Honey Bunny Sweetynya," sahut Evan.


Mendengarkan ucapan Evan semuanya tertawa. Mira hingga tersenyum dan berurai air mata di saat bersamaan.


"Jangan nangis, aku pulang untuk kalian. Keluargaku," kata Elkan.


Mira menganggukkan kepalanya. Merasa lega, tapi juga khawatir. Mira tahu mungkin saja suaminya memaksakan pulang, tapi semua semata-mata kalau di rumah berkumpul dengan keluarga bisa mempercepat masa pemulihan.

__ADS_1


__ADS_2