Romansa Pengantin SMA

Romansa Pengantin SMA
Himpitan


__ADS_3

Sebagai seorang gadis, walau Mira tidak terlihat takut, tetapi sebenarnya di dalam hati dia sangat takut. Terlebih hal yang terkait dengan tindak asusila. Jujur, Mira sangat takut sekarang. Akan tetapi, jika Mira menunjukkan ketakutannya dan terlihat terintimidasi justru Sonya dan Bagas akan merasa berada di atas angin. Oleh karena itu, Mira mencoba tenang. 


"Loe gak kelihatan takut sama sekali?" tanya Sonya dengan memelototkan kedua matanya. 


Mira tersenyum. Gadis itu menggelengkan kepalanya perlahan. "Tidak, jika gue benar. Gue tidak akan takut," balasnya. 


"Sombong sekali sih loe. Setelah itu baru tahu rasa loe."


Sementara Bagas sendiri menunjukkan wajah yang benar tidak yakin. Namun, dia kini berjalan perlahan ke arah Mira, menatap Mira dengan kedua matanya. Mengamati tubuh Mira yang berdiri di hadapannya dari ujung kaki sampai ujung kepala. 


Sungguh Mira merasa jijik kali ini. Persahabatan yang dulu terjalin di antara dirinya dengan Bagas benar-benar menjadi seperti ini. Tidak mengira bahwa Bagas akan setega itu dengannya. 


"Yang dikatakan Sonya, benar, Ra. Loe terlalu jual mahal. Padahal sebenarnya loe sama sekali gak menarik. Satu-satunya yang buat loe menarik hanya otak loe," ucap Bagas di sana. 


Sonya menganggukkan kepalanya, tanda dia pun setuju dengan Bagas. "Bener banget. Gadis cupu kayak loe yang udah merasa belagu karena setiap hari bareng sama Elkan. Padahal, loe itu gak ada apa-apanya. Sama sekali gak selevel sama Elkan," balas Sonya. 


"Memang gue gak selevel, tapi Elkan nyaman tuh sama gue yang cupu kayak gini," balas Mira. 


Sonya menjadi begitu sebal dengan Mira. Bahkan Mira menunjukkan sama sekali tidak takut dengannya. Sikap Mira yang berani itulah yang membuat Sonya kian kesal. Dia pikir akan mudah untuk mengintimidasi Mira, ternyata tidak. 


Merasa emosi, Sonya pun mendorong bahu Mira, hingga punggung gadis itu mengenai tembok gedung sekolah. Sakit ketika punggungnya nyaris berbenturan dengan tembok, tetapi Mira masih berusaha untuk bertahan. 


"Cewek sialan loe, andai otak loe itu gak brilian, nilai loe bener-bener rendah," maki Sonya dengan menunjuk-nunjuk Mira. Bahkan jari telunjuknya berada tepat di depan mata Mira. 


Setelah itu Mira berusaha menjauhkan jari telunjuk Sonya yang ada di depan wajahnya. "Gak usah nunjuk-nunjuk," balas Mira. 


"Oh, jadi loe masih belagu yah," balas Sonya. 


Kali ini Sonya menyasar rambut Mira dan menjambaknya. Tindakan Sonya kini benar-benar bar-bar. Menarik rambut itu, sampai Mira mendesis karena merasa begitu sakit. 


"Gak usah belagu jadi cewek. Cantik kagak, belagu iya!"

__ADS_1


Hingga tarikan di rambut Mira selesai, dan kini Sonya membuang kacamata Mira. Menjatuhkan kacamata itu ke tanah. Pikirnya mata Mira benar-benar minus, sehingga ketika kacamatanya terlepas akan mengganggu penglihatannya. Tanpa pernah ada seorang pun yang tahu bahwa kacamata itu tanpa lensa minus, plus, atau silinder. Benar-benar hanya kacamata baca saja. 


"Habisi, Gas," perintah Sonya kini kepada Bagas. 


Bagas menganggukkan kepalanya. Lantas, dia mendekat kepada Mira. Pemuda itu tersenyum miring di sudut bibirnya, telapak tangannya terangkat dan hendak menyentuh sisi wajah Mira. Akan tetapi, Mira dengan cepat menangkis tangan Bagas. 


"Jangan sentuh gue!"


Mira berbicara dan menatap Bagas. Kedua mata yang membola dengan sempurna. Akan tetapi, Bagas merasa tak gentar. 


"Punya nyali juga loe, Ra," balas Bagas. 


Kini satu tangan Bagas tampak bertumpu di tembok dan kemudian dia seoleh hendak menghimpit tubuh Mira hingga ke tembok. Akan tetapi, kali ini Mira kembali bisa melawan. Dia justru mengangkat lututnya yang mengenai pusaka Bagas. Membuat pemuda itu meringis dan memegangi bagian di bawah perutnya. 


Merasa Bagas tidak bisa menaklukkan Mira, Sonya kembali mendekat, dia mendaratkan tamparan keras di pipi Mira. 


"Plak!"


Terdengar bunyi telapak tangan yang mendarat sempurna mengenai sisi wajah Mira, hingga Mira sampai menoleh ke kanan. Rasanya begitu panas. Namun, Mira tak gentar. 


Ketika Sonya hendak menampar Mira untuk kali kedua, Mira berhasil menangkis tangan Sonya dan dengan sekuat tenaga, Mira mendorong Sonya. Nyaris saja Sonya terjatuh. 


"Gadis cupu, banyak gaya. Anjay, Loe!"


Kali ini emosi Sonya benar-benar memuncak. Dia merasa benci setengah mati kepada Mira. Hingga kini Sonya menahan Mira dan Bagas kembali mendekat. Pemuda itu tanpa disangka melepaskan kemeja seragamnya. Menunjuknya dadanya yang bidang. Tampil shirtless, lantas Bagas seolah mencekik leher Mira di sana. 


Kali ini Mira merasa sakit, bernafas pun rasanya susah. Pun dengan Bagas yang kian mendekatkan wajahnya, dan hendak mencium Mira di sana. Namun, Mira menolak. Ketika Bagas mendekat dari sisi kanan, Mira menolehkan wajahnya ke arah kiri. Begitu juga sebaliknya. 


Merasa keselamatannya terancam, Mira pun berteriak sekarang. Dia masih ingat masih ada Elkan di sekolah. Mira berharap Elkan akan menyusulnya ke gedung belakang sekolah. 


"Tolong … tolong!"

__ADS_1


Sonya tertawa terbahak-bahak di sana. "Gak akan ada yang tolongin loe," balas Sonya. 


Dengan penuh percaya diri, Sonya menjawab. Sebab, dia sudah memastikan bahwa tidak akan ada orang di sekolah yang menolong Mira. Sia-sia saja Mira meminta tolong. 


Bagas pun kian menatap tajam wajah Mira. Berkali-kali dia mencoba mencium Mira, tapi gagal. Kali ini, Bagas tidak akan bermain-main dan memastikan bisa melecehkan Mira di sana. 


Leher Mira kian sakit, juga dengan dadanya yang terasa sesak lantaran sirkulasi udara dari hidung menuju saluran pernafasan tidak lancar. Mira kini berharap hanya pada Elkan yang akan menolongnya. 


"Eekkh, lepaskan, Gas," ucap Mira yang meminta Bagas melepaskan tangannya dari lehernya. 


Sebab, Mira benar-benar kesusahan bernafas. Namun, Bagas menggelengkan kepalanya. "Gak akan," balasnya. 


Ya Tuhan, wajah Mira sudah memerah di sana dengan oksigen yang dia hirup kian berat. Mungkin dia bisa kehabisan oksigen sekarang. Ketika wajah Bagas kian mendekat, terdengar pekikan suara. 


"Woy, lepasin Mira. B*jingan!"


Sudah bisa ditebak siapakah yang datang dan berusaha menolong Mira. Ya, dia adalah Elkan. Tidak perlu menunggu lama, Elkan berlari dia dengan cepat menggapai Mira dan menendang Bagas hingga tubuhnya jatuh ke tanah. 


"Brengsek loe!"


Elkan kali ini benar-benar emosi. Sementara Mira dengan cekikan di lehernya yang sudah terlepas. Gadis itu terbatuk-batuk di sana. 


"Biarin saja," pinta Mira sekarang kepada Elkan. 


Akan tetapi, Elkan menolongnya. Dia tidak akan membiarkan Bagas dan Sonya berlari dan lepas dari hukuman begitu saja. Elkan menahan Bagas dan Sonya untuk tidak kabur, kemudian Elkan menelpon bagian keamanan Sekolah. Dia melaporkan tindak kekerasan di belakang gedung sekolah. Hingga lima menit kemudian security dan guru di sekolah datang ke bagian gedung belakang sekolah. 


"Bubar, kita ke ruang konseling," ajak sangat Guru. 


Sonya dan Bagas dengan masih tidak mengenakan kemeja pun dibawa ke ruang konseling. Di belakangnya barulah Mira menyandarkan punggungnya di dinding sekolah, dan barulah dia menangis. 


Semua ketakutan, rasa sakit, kini terlihat jelas. Air matanya berurai, padahal tadi Mira sama sekali tidak menangis. Elkan menghela nafas kasar dan memeluk Mira di sana. 

__ADS_1


"Sshhss, kamu aman, Ra. Kamu aman. Kita ke ruang konseling dulu yah," ajak Elkan. 


Untuk beberapa saat Mira masih menangis. Hingga akhirnya Mira menarik wajahnya dari dada Elkan, menyeka air matanya, dan menuju ke ruang konseling bersama Elkan. Setidaknya sedikit lega karena dirinya tak dilecehkan oleh Bagas. Akan tetapi, lehernya terasa sakit lantaran seperti dicekik rasanya.


__ADS_2