
Lebih dari tengah hari Mira baru sadar. Itu artinya, sejak semalam juga sampai siang ini Elkan belum makan sama sekali. Pria itu sampai tidak mempedulikan perutnya sendiri. Lebih memilih untuk fokus menunggu Mira sampai Mira benar-benar sudah tersadar.
"El, kamu belum makan sama sekali loh," kata Mama Sara sekarang.
"Elkan belum lapar, Ma ... El, sudah kenyang melihat istri yang sudah sadar," balasnya.
Mira tersenyum tipis. Jika dipikir-pikir kasihan juga suaminya sampai belum mengisi perutnya sama sekali. Sementara, memang Mira belum diperbolehkan untuk makan. Jadwal makan, minum, dan juga minum obat masih diatur oleh perawat. Sehingga, Mira juga lebih baik menunggu.
"Kakak makan dulu, aku bisa kok suapin Kakak," kata Mira dengan lirih.
Bagaimana pun tenaga Mira belum sepenuhnya pulih. Akan tetapi, jika hanya sekadar menyuapi suaminya, Mira bisa melakukannya. Dengan satu tangan yang lepas dari jarum infus, Mira yakin bisa menyuapi suaminya itu.
"Enggak ... kamu fokus pulih dulu, Honey. Aku nanti akan makan kok, barengan sama kamu saja," balas Elkan.
Mendengarkan jawaban yang diberikan Elkan, Mira pun tersenyum. Padahal sebenarnya jika suaminya itu ingin makan terlebih dahulu pun tidak menjadi masalah. Mira meminta tolong Elkan untuk mengatur brankarnya, sehingga seolah-olah tengah duduk, karena berbaring begitu lama membuat punggung Mira terasa panas.
"Sudah lega, Ra?" tanya Mama Sara.
"Lega, Ma ... benar yang Mama katakan, kalau Caesar, setelah melahirkan yah sekarang ini baru terasa nyerinya. Sakit," balas Mira.
"Nanti minta pereda nyeri kepada Dokter saja, Ra. Itu ampuh banget, besok gitu, kamu sudah bisa berjalan," kata Mama Sara lagi.
"Nanti biar Elkan saja yang minta, Ma," balas Elkan.
Mira kemudian bertanya ke suaminya. "Twins di mana sih Kak? Aku pengen bertemu," kata Mira.
Itu karena Mira hanya melihat Twins saat babynya itu diangkat dari rongga perutnya, dan terlihat bayinya satu per satu. Setelah itu, Mira harus berjuang dengan pendarahan yang dia alami. Sekarang, Mira rasanya sudah rindu dengan babynya dan ingin segera menggendong kedua babynya.
__ADS_1
"Tadi sih dibawa ke ruang inkubator, Honey. Kita tunggu saja. Kamu juga belum boleh banyak bergerak," kata Elkan.
Mira menganggukkan kepalanya. Walau memang sangat rindu dengan Twins, tapi memang harus menunggu saja. Nanti pasti babynya akan diantar ke dalam kamarnya. Walau begitu, Mira masih berdoa semoga babynya sehat, selamat, dan sempurna.
Tidak berselang lama, ada perawat yang masuk dengan mendorong dua box bayi. Kenapa dua? Karena bayi yang dilahirkan Mira juga dua. Sementara di rumah sakit belum ada box yang bisa untuk dua bayi. Jadi, memang dua box bayi.
"Mom Mira," sapa perawat itu dengan ramah.
"Ya, saya," balas Mira.
"Baby-babynya Mom Mira nih," kata perawat itu.
Semua yang ada di sana teralihkan atensinya. Fokus melihat dua baby yang didorong di dalam box itu. Begitu lucunya dua baby yang sedang bergerak-gerak perlahan itu. Untuk Mama Sara, Mama Marsha, Papa Abraham, dan Papa Belva sudah resmi menjadi Oma dan Opa. Sementara untuk Elkan dan Mira sendiri resmi sudah menjadi Mommy dan Daddy.
"Our Baby," kata Elkan.
Mira tersenyum dengan berurai air mata. Luar biasa rasanya. Baru beberapa saat tadi dia berkata kangen dengan Twins dan sekarang keduanya sudah diantar ke kamarnya.
Akhirnya para orang tua memilih keluar. Kasihan juga. Biasanya begitu lahir bayi langsung mendapatkan sumber kehidupan pertamanya. Sementara Twins belum sama sekali mendapatkan ASI, skin to skin dengan Mommy pun belum.
"Sudah keluar belum ASI-nya, Mom Mira?" tanya perawat itu.
"Sudah, Suster, tapi belum banyak itu," jawab Mira dengan jujur.
"Tidak apa-apa. Saya ajarin untuk memberikan ASI untuk Si Kembar yah," kata perawat itu. "Kebetulan posisi Mom seperti sedang duduk, jadi saya akan posisikan si Kembar di tangan kanan dan kiri Mom yah. Kemudian posisikan kedua pasang kaki si Kembar bertindihan di depan badan Mom Mira. Pastikan kepala Si Kembar sejajar dengan payu-dara dan bisa mencapai pu-ting."
Dengan begitu hati-hati, perawat itu menempatkan si kembar ke dalam tangan kanan dan tangan kiri Mira. Untuk Mira sendiri, dia juga belajar. Tidak menyangka bahwa memberikan ASI untuk Twins ada pelajarannya sendiri.
__ADS_1
"Ini namanya posisi Double - Cradle Hold. Satu posisi dulu ya Mom Mira. Nanti bisa saya ajarkan yang lain. Ada empat posisi untuk menyusui bayi kembar, nanti saya akan ajarkan pelan-pelan yah Mom. Kemejanya dibuka dulu saja, kan yang menemani suami sendiri. Si Baby juga sudah mendapatkan suntikan imunisasi pertamanya ya Mom. Jika membutuhkan bantuan silakan tekan tombol yang ada di atas brankar yah," balas perawat itu dengan ramah.
Setelah perawat itu keluar, Elkan beringsut. Kini Sang Daddy duduk di tepian brankar dan melihat bagaimana Twins melakukan proses mendapatkan ASI pertamanya. Jika Baby Boy terlihat lebih pintar dan berusaha menghisap, sementara si Baby Girl seolah menangis-nangis dulu.
"Hei Twins ... baby boy dan baby girl-nya Mommy dan Daddy," sapa Elkan dengan lembut.
Sementara Mira kembali tersenyum dengan berurai air mata. Jangan salah, memberikan ASI pasca operasi itu rasanya masyaallah. Tidak bisa dideskripsikan. Ada rasa sakit, geli, dan desiran di saat yang bersamaan. Akan tetapi, Mira melewati semuanya. Dia bahagia bisa memberikan ASI untuk Baby Twins nya.
"Mommy sudah berikan nama belum untuk Twins?" tanya Elkan.
"Baru kepikiran, Dad ... setuju enggak untuk nama ini?" tanya Mira. "Aryan Nalendra Agastya dan Aaliya Nala Putri Agastya?"
Tidak berpikir terlalu panjang, Elkan menganggukkan kepalanya. "Oke ... boleh. Bagus kok. Aryan dan Aaliya."
Usai itu Elkan mengusap tangan-tangan mungil babynya, dan memberikan sapaan kepada keduanya. "Hei Baby A nya Mommy dan Daddy. Sehat-sehat yah ... tumbuh dengan sehat dan sempurna. Mom & Dad selalu sayang kalian."
"Siapa sangka dari pengantin SMA kini kita sudah memiliki dua buah hati, Kak," kata Mira.
"Iya, siapa sangka aku memiliki buah hati dari cinta masa kecilku."
Elkan menatap tiga pribadi yang sangat berharga dalam hidupnya. Mira, Aryan, dan Aaliya. Ketiganya akan mengisi rumahnya. Our Family versi Elkan dan Anaya. Dengan usia yang masih muda, tapi keduanya tak ragu dan siap menjadi orang tua untuk Aryan dan Aaliya.
"Mommy juga segera sehat yah," kata Elkan.
"Iya, Kak. Aku akan selalu sehat. Terima sudah selalu mendampingiku," balas Mira.
"Aku sudah memenuhi janjiku untuk mendampingi kamu dan juga menyambut Twins bersama-sama. Sekarang, kamu harus pulih, kembali sehat. Lihat, Baby Twins A sudah menunggu Mommy nya dan mau selalu mendapatkan ASI dari Mommy."
__ADS_1
Mira pun menganggukkan kepalanya."Iya, sudah melihat dan bonding pertama dengan Twins, pasti aku akan lebih sehat," balas Mira.
Benar-benar momen bahagia. Mira berjanji untuk pulih. Dia ingin selalu memberikan yang terbaik untuk Aryan dan Aaliya. Dia ingin hadir dan terus membersamai tumbuh kembang bayi kembarnya.