Romansa Pengantin SMA

Romansa Pengantin SMA
Kekerasan di Sekolah


__ADS_3

Sebenarnya Elkan sudah merasakan firasat yang tidak enak. Firasat itu kian menjadi-jadi ketika dia merasa Mira sudah terlalu lama pergi. Akhirnya, Elkan berinisiatif untuk mencari Mira. Dia ingat bahwa Mira hendak membuang sampah. Oleh karena itu, Elkan mencari Mira ke belakang gedung sekolah.


Firasatnya terjawab sudah ketika dia melihat Bagas dengan penampilannya yang shirtless dan mencekik leher Mira. Seketika, Elkan merasakan darahnya mendidih.


Ingin Elkan main hakim sendiri, tetapi itu tidak dilakukannya. Sebab, lebih baik biarkanlah hukum di sekolah itu yang berlaku. Mereka masih pelajar, dan ada hukum atau peraturan yang berlaku di sekolah. Berbeda jika mereka di luar sekolah, pastilah yang Elkan hubungi adalah polisi.


Sekarang, melihat Mira menangis dengan terbatuk-batuk. Tidak perlu menunggu lama lagi karena Elkan segera memeluk Mira, membenamkan wajah gadis itu ke dalam dadanya.


"Kamu aman, Ra, kamu aman. Ada aku," ucap Elkan.


Kedua tangan Mira luruh begitu saja di samping kanan dan kiri tubuhnya. Air matanya berderai, dan masih beberapa kali terbatuk-batuk. Elkan memberikan waktu sebentar untuk Mira menangis.


"Kita ke ruang konseling dulu yah," kata Elkan lagi.


Akhirnya, keduanya menuju ke ruang konseling. Bergabung dengan Bagas dan juga Sonya di sana. Sudah ada guru Bimbingan Konseling dan wali kelas mereka yaitu Bu Rahayu. Elkan dan Mira pun dipersilakan untuk duduk.


"Jadi apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Bu Rahayu. Sebenarnya kejadian kekerasan di sekolah yang menyangkut Mira membuat Bu Rahayu cemas. Muridnya itu adalah murid terbaik di sekolah, tidak pernah melakukan tindakan indisipliner.


"Mira yang mulai duluan," ucap Sonya.


Rupanya Sonya menuduh Mira. Berusaha membuat Mira sebagai seorang pelakunya di sini. Sementara membuat diri sendiri sebagai korban.


"Maksudnya apa?" tanya Bu Rahayu.


"Mira yang jelek-jelekin Sonya duluan, terus Bagas yang ada di sana, yang bantuin Sonya," balas Sonya.


"Benar begitu Mira?" tanya Bu Rahayu.

__ADS_1


"Tidak, Bu. Di sini saya justru korbannya," balas Mira.


"Coba ceritakan versimu?" tanya Bu Rahayu.


"Hari ini jadwal saya piket kelas dan saya membuang sampah ke tempat sampah terlebih dahulu. Rupanya di sana ada Sonya dan Bagas yang menghadang saya. Mengatasi saya cupu dan sebagainya. Hingga akhirnya Sonya menarik rambut saya, menampar saya, dan Bagas mencekik leher saya dan hendak melecehkan saya," balasnya.


"Itu tidak benar Bu," sahut Sonya dengan cepat.


Sonya dengan begitu mudahnya membela diri. Bahkan Sonya juga tak segan-segan untuk memutar balikkan fakta. Namun, Mira takkan gentar. Sebab, posisinya yang sebagai korban di sini.


"Lalu, kenapa kamu di sana Elkan?" tanya Bu Rahayu.


"Saya menunggu Mira untuk belajar bersama khususnya bahasa Indonesia yang tidak saya kuasai," balas Elkan.


Alibi yang diucapkan Elkan terdengar logis, karena sebenarnya memang di mata pelajaran Bahasa Indonesia, Elkan tidak begitu mengusainya. Itu juga karena Elkan terbiasa sekolah di Singapura sehingga memang tidak mengetahui mata pelajaran Bahasa Indonesia.


Pihak guru Bimbingan Konseling menganggukkan kepalanya. Kemudian mereka mengecek rekaman CCTV untuk bagian belakang gedung belakang sekolah. Di rekaman CCTV itu terlihat bahwa Sonya dan Bagas berada di sana terlebih dahulu, dan kemudian ada Mira yang datang dengan membawa kantong plastik berwarna hitam, dan terlihat siapa yang menghadang siapa. Sebab, memang Mira tadi mengatakan dirinya tengah piket dan hendak membuang sampah.


Tidak hanya itu, rupanya Mira juga mengeluarkan handphonenya dari saku rok abu-abunya, kemudian mengeluarkan voice note di sana. Tanpa sepengetahuan Sonya dan Bagas, Mira berhasil memberikan bukti fisik berupa rekaman suara ketiganya. Terdengar jelas bagaimana Sonya merudung Mira di sana.


Dalam benak Mira, walau dia dianggap lemah, tapi dia tidak akan mudah disakiti begitu saja. Korban boleh kesakitan, tapi tidak boleh ketakutan. Itu adalah prinsip Mira.


"Jadi, terbukti siapa yang berbohong dan siapa yang tidak," ucap Mira.


"Sialan loe, Ra," balas Sonya.


"Jadi, semuanya sudah jelas yah ... Sonya dan Bagas yang bersalah di sini. Hari ini kalian boleh pulang dan esok, wali murid kalian harus datang untuk menyelesaikan semua ini, dan Sonya dan Bagas akan mendapatkan hukuman," ucap guru BK itu.

__ADS_1


Setelahnya, Mira dan Elkan pulang terlebih dahulu. Kemudian di dalam mobil, barulah Mira kembali menitikkan air matanya. Elkan sedikit mengurangi kecepatannya, dan mengusapi puncak kepala Mira.


"Mau ke Rumah Sakit?" tanya Elkan. Pemuda itu bertanya kepada Mira dengan begitu lembut.


"Tidak usah," balas Mira.


"Apa aku harus menepikan mobilku?" tanya Elkan lagi.


Mira menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak usah. Kita pulang saja. Boleh tidak, aku hari ini pulang saja ke rumahku?" tanya Mira.


Elkan dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Enggak, tidur di rumahku aja, Ra. Dalam kondisi seperti ini, jangan seorang diri," balas Elkan.


"Aku takut Mama dan Papa tahu," balas Mira.


"Biar saja Mama dan Papa tahu. Kamu bukan pelakunya, Ra," balas Elkan.


Akhirnya, hanya beberapa meter sebelum sampai di rumahnya, Elkan menghentikan mobilnya. Tanpa banyak berbicara, pria itu melepaskan seatbeltnya, dan kemudian memeluk Mira. Mungkin sedikit pelukan bisa menenangkan Mira. Memang Mira sudah tidak menangis, tetapi Elkan sangat tahu bahwa Mira butuh di tenangkan.


"Tenang yah ... di rumahku aja, aku jagain. Juga, aku obatin leher kamu," ucap Elkan.


Ya Tuhan, sekarang justru dada Mira menjadi berdebar-debar, dengan tubuh Elkan yang menghimpitnya, dengan aroma parfume pemuda itu yang meninggalkan kesan maskulin, dan pelukan itu begitu hangat. Sampai punggung Mira bersandar penuh di kursi dalam mobil itu.


"Kak, lepas Kak," ucap Mira perlahan.


Akhirnya Elkan pun mengurai pelukannya. Pemuda itu kemudian tersenyum sekilas. "Halal, Ra ... cuma peluk kok," balasnya.


Mira kemudian menundukkan wajahnya. Sakit di lehernya tak seberapa. Akan tetapi, dengan dipeluk Elkan justru Mira merasakan jantungnya yang tidak baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2