
Menyelesaikan satu minggu benar-benar untuk packing, hingga akhirnya hari ini menjadi hari di mana Elkan dan Mira akan meninggalkan Sydney. Sebelum ke bandara, masih di unitnya, Mira mengamati sudut demi sudut di unit itu. Seolah semua yang sudah dia lewati bersama Elkan terbayang di sana.
Mulai dari sofa di mana sedang duduk bersama, melihat televisi, atau kegiatan nakal mereka yang beberapa kali dilakukan di sofa. Selain itu, di dapur dengan secangkir teh yang selalu mereka nikmati di pagi hari. Kemudian, kamar yang pastinya sangat bersejarah. Kamar tempatnya memadu kasih sebagai pasangan muda.
Mira bahkan masih berdiri di depan ranjangnya, tahu dengan perasaan sedih istrinya, Elkan segera mendekap tubuh istrinya itu dari belakang dan mendekapnya begitu erat.
"Sedih, Honey?" tanya Elkan.
"Iya, bakalan kangen," balas Mira.
"Kan semalam kita udah nostalgia bersama. Unit ini tidak akan dijual kok ... hanya disewakan saja. Tahun-tahun yang akan datang, kita bisa ke sini lagi," balas Elkan.
Ya, memang Elkan sudah berbicara dengan Papanya bahwa dia tidak berniat untuk menjual unit ini. Alasannya simpel yaitu, dia ingin tempat ini bisa menjadi tempat nostalgia baginya. Untung saja Papa Belva setuju. Sebagai jalan tengahnya, unit itu hanya akan disewakan saja.
"Makasih, Kak," balas Elkan.
"Sama-sama, Honey. Sewindu pernikahan kita, kita ke Sydney lagi yah," kata Elkan.
"Ya, semoga saja," balas Mira.
"Ya sudah, kita ambil beberapa foto bersama dulu yuk. Untuk kenang-kenangan," balas Elkan.
Pasangan muda itu mengambil foto di beberapa sudut, terlihat wajah sembab Mira karena terlampau sedih. Akan tetapi, bisa menjadi kenang-kenangan bagi mereka. Setelah itu, Elkan mengajak Mira untuk turun karena taksi yang akan mengantar mereka ke bandara sudah tiba.
__ADS_1
"Terima kasih dalam 3,5 tahun ini sudah menjadi tempat berteduh untuk kami. Sudah menjadi tempat berbagi cinta pagi, siang, dan malam. Banyak memori indah di sini. Selamanya, ruangan ini akan tersimpan di memoriku," kata Mira lirih.
Elkan menyambut dengan merangkul bahu istrinya itu. Kemudian, Elkan juga mengucapkan perpisahan dengan unit miliknya." Selalu jadi ruangan penuh cinta, di lain waktu, kami akan ke sini lagi. We will miss you."
Usai itu keduanya keluar dari ruangan itu, dan kuncinya dia serahkan ke petugas apartemen. Elkan juga sudah memberikan kuasa untuk mengurus dan menyewakan ruangan itu. Terlebih jika ada mahasiswa dari Indonesia yang kuliah di Australia, akan mendapatkan harga lebih miring tentunya.
"Mama dan Papa," sapa Elkan di bawah dengan para Mama dan Papanya.
"Sudah, kita ke bandara?" ajak Papa Belva.
"Iya," jawab Elkan.
Hingga akhirnya, mereka memasuki mobil dan menuju ke bandara. Kala mobil hendak melaju, Mira menatap bangunan apartemen itu. Masih sedih. Namun, memang sudah menjadi keputusan mereka untuk kembali ke Indonesia.
"Sedih, Ra?" tanya Papa Belva kepada menantunya itu.
"Tidak apa-apa. Bagaimana tempat ini sangat bersejarah untuk kalian berdua. Sama seperti dulu Mama kamu pindah dari Bogor ke Jakarta butuh waktu untuk adaptasi. Sabar yah," kata Papa Belva.
"Iya, Pa ... ya, pelan-pelan nanti ya, Pa," balas Mira.
Beruntungnya Mira memiliki mertua yang baik. Ketika dia bersedih karena harus berpindah tempat, Papa Belva bisa memahami kesedihannya. Bahkan Papa Belva meminta Mira untuk bersabar. Sungguh, seorang Papa mertua yang sangat baik.
"Elkan akan selalu menghibur Mira kok," balas Elkan.
__ADS_1
Mama Marsha dan Papa Abraham yang mendengarkan Elkan merasa sangat bahagia. Itu karena Elkan terlihat dewasa dan siap menghibur putrinya. Bagi Papa Abraham dan Mama Marsha, masa 3,5 tahun di Australia tidak akan berlangsung dengan lancar jika Elkan tidak mendampingi Mira.
Menempuh perjalanan cukup jauh, hingga sekarang mereka sudah tiba bandara. Jika kali pertama datang ke Sydney, mereka berdua hanya membawa tiga koper. Ketika pulang, Mira dan Elkan membawa enam koper. Belum ada beberapa barang yang memang dikirimkan via kargo, dan baru sampai di Indonesia satu bulan lagi.
Keenamnya melakukan cek in dan sekarang berada di ruang tunggu. Kalau waktu datang ke Sydney hanya Elkan dan Mira berdua saja. Sekarang ada Mama dan Papa mereka yang menyertai. Tentu juga mama dan Papa hadir supaya Mira juga tidak terlalu sedih.
"Jangan sedih yah nanti kita jalan-jalan ke Sydney lagi yah," kata Mama Sara.
"Iya, Ma ... makasih," balas Mira.
"Tahun depan, kita ke Paris, Ra. Menjenguk Eiffel di sana," kata Mama Sara lagi.
Tentu saja Mira senang. Sebab, memang Mira juga menginginkan bisa ke Eropa di lain waktu. Benar, ada keluarga yang menjadi support system utamanya.
Hingga akhirnya, seluruh penumpang dipersilakan untuk masuk ke dalam pesawat. Keluarga Agastya dan Narawangsa menaiki kelas bisnis sehingga untuk duduk dan menikmati perjalanan lintas benua lebih nyaman.
Lantas awak kabin pesawat meminta seluruh penumpang untuk mengenakan sabuk pengaman karena pesawat akan segera lepas landas. Mira yang duduk di samping suaminya, berbicara dengan suara yang bergetar.
"Selamanya Sydney akan selalu ada di hatiku," kata Mira.
"Benar, Honey. Good bye Sydney," balas Elkan.
Hingga akhirnya burung besi itu mulai mengambil waktu untuk take off. Di mana pesawat berjalan begitu cepat, hingga perlahan-lahan badan pesawat terangkat ke udara. Pemandangan kota Sydney pun terlihat dari udara. Dengan berlinang air mata, Mira berbicara lirih.
__ADS_1
"Good bye, Sydney."
Tiga setengah tahun, kota pelabuhan di Darling Harbour itu menjadi tempat singgahnya. Tempat banyak mengukir cerita indah untuk mereka berdua. Sekarang keduanya, harus meninggalkan Sydney, kembali lagi ke Jakarta. Walau begitu, ada hati yang tertinggal di kota Sydney.