
Masih di sofa, dua insan itu masih saling memeluk. Terengah-engah bersama. Hingga, Elkan kemudian merapikan anakan rambut Mira di keningnya. Lantas dia kembali mendekat dan mengecup kening Mira.
"Kamu sudah membuat malam yang dingin ini menjadi hangat, Honey," ucap Elkan.
Mira hanya tersenyum, dia masih butuh waktu untuk menenangkan diri dan mengumpulkan kesadarannya kembali. Namun, di dalam hati Mira sepenuhnya percaya bahwa malam yang begitu dingin itu telah menjadi hangat. Begitu juga untuk keduanya yang kini saling berbagi kehangatan.
"Sedingin ini apa masih harus mandi, Honey?" tanya Elkan kepada Mira.
"Iya, Kak. Harus mandi. Berdosa kalau sudah berhubungan suami istri dan tidak membersihkan diri," balas Mira.
Elkan menganggukkan kepalanya. "Baiklah, nanti mandi. Penting mandi bareng kamu," balasnya.
Yang pasti Elkan tidak masalah. Di malam yang dingin pun akan tetap mandi, yang penting adalah mandi bersama Mira. Sehingga, akan lebih hangat tentunya. Sebagaimana Mira, dia juga tak menolak Elkan. Membiarkan saja, dengan kemauan suaminya itu.
"Puas banget, Honey. Aku jadi makin suka di sofa ini deh. Tempat yang terbatas juga semakin enak," balas Elkan.
"Kamu mengada-ada aja sih Kak?" balasnya
__ADS_1
Memang ada kalanya Elkan itu aneh. Bahkan pria itu mengakui lebih enak berada di sofa saja untuk bercinta. Mira sampai terkekeh geli. Bisa-bisanya Elkan berkata demikian.
"Mandi sekarang ya Kak ... kelihatannya habis ini bobok enak deh," ajak Mira kepada suaminya itu.
Elkan menganggukkan kepalanya, setelahnya mulai berdiri. Dia kemudian mengajak Mira untuk masuk ke dalam kamar mandi. Membersihkan diri dulu usai bercinta.
Cukup sama-sama berdiri di bawah shower box saja, dan kemudian membersihkan diri masing-masing. Untung saja ada air hangat, sehingga bisa mandi keramas dan tubuh keduanya tidak kedinginan. Cukup, lima belas menit, dan sekarang keduanya sudah sama-sama bersih. Mira dan Elkan, membersihkan pakaian mereka yang berada di sekitaran sofa, dan kemudian setelahnya Mira mengeringkan rambutnya dulu dan kemudian mengaplikasikan serum di wajahnya.
"Rahasia cantiknya serum itu, Honey?" tanya Elkan.
Mira kemudian menggelengkan kepalanya. "Enggak lah ... ini cuma serum. Aku dari lahir kan sudah cantik, Kak," balasnya dengan penuh percaya diri.
"Kamu memang cantik dari kecil sih ... cantik banget, malahan. Ya, iyalah ... Mama Marsha saja cantik, Papa Abraham juga cakep banget. Jadi, kamu juga cantik banget," balas Elkan.
"Emang kamu tahu masa kecilku ya Kak?" tanya Mira.
Elkan kemudian menunjukkan file khusus di hanpdhonenya, ternyata ada Mira di sana. Mira waktu bayi, yang dia scan dari foto Mama Sara dulu. Saat Mama Sara, Papa Belva, Evan, dan Elkan mengunjungi bayinya Mira.
__ADS_1
"Nih, dari bayi saja kamu sudah menjadi calon menantunya Mr. CEO loh," canda Elkan.
Mira tidak mengira bahwa Elkan memiliki foto seperti ini. Sekaligus dia tersenyum melihat dirinya yang masih bayi digendong oleh Mama Sara. Bahkan foto itu sangat lucu karena ada Elkan yang masih berusia 2 tahun, tidak menghadap ke kamera, tapi justru menatap kepadanya.
"Kamu sudah sudah cinta sama aku sejak bayi ya Kak? Tuh, buktinya kamu sudah melihatku sampai kayak gitu," tanya Mira.
Elkan pun kemudian tertawa, gemas dengan Mira. "Kalau kecil sih ya enggak tahu, ya Honey. Cuma, aku sayang saja sih sama kamu. Seingatku Mama Sara pernah cerita, waktu kecil kalau kami main, pasti aku yang sering ikut ke rumahmu. Sebenarnya, juga perjodohan kita itu tidak tiba-tiba, Honey. Mama dan Papa kita sudah mengatur perjodoh untuk kita kelihatannya ketika aku usia empat atau lima tahun deh, Honey. Jadi, ketika kamu diterima kuliah di sini, ya Papa Abraham bingung siapa yang jagain kamu. Tidak dipungkiri pergaulan bebas di luar negeri itu serem," cerita Elkan panjang dan lebar.
Mira mendengarkan cerita dari Elkan, sekaligus Mira juga baru tahu dengan cerita dari Elkan. Namun, sekarang Mira tidak masalah dengan perjodohannya. Justru, dia bersyukur menikahi Elkan yang sudah dikenalnya sejak kecil. Walau pernah salah paham, tapi setidaknya mereka bisa menemukan jawaban atas kesalahpahaman mereka.
"Kenapa Mama dan Papa tidak pernah cerita ya Kak?" tanya Mira.
"Kalau cerita sejak kecil, mereka takutnya sekolah kita terganggu. Jadi, biarkan saja kita tumbuh dewasa dulu. Kita sama-sama sekolah dulu. Namun, perjodohan itu juga tidak mengingat. Jika, nanti ketika kita dewasa ada orang lain yang kita suka, ya sudah ... perjodohan itu batal," balas Elkan.
"Makanya Papaku gerak cepat yah?" tanya Mira kepada Elkan.
Elkan kemudian tersenyum. "Ya, awalnya Papa Abraham menikahkan kita itu supaya aku bisa menjagamu. Namun, aku cinta sama kamu, Honey. CInta yang sudah tumbuh sejak lama. I Really Love U," balas Elkan lagi.
__ADS_1
Terlepas dari semuanya memang Elkan mencintai Mira. Bukan cinta yang tiba-tiba. Melainkan cinta yang sudah tumbuh sejak lama. Cinta yang sejak kecil dia rasakan dan akhirnya tumbuh semakin besar setiap harinya. Dengan cinta itu, Elkan yakin akan membahagiakan Mira seumur hidupnya.