
Pagi yang masih dalam suasana duka, nyatanya menjadi tensi tinggi untuk keluarga Narawangsa. Bagaimana tidak, dengan datangnya suami kedua Almarhumah yang nyatanya datang dan hanya meminta harta warisan. Sesabar-sabarnya Mama Marsha, kali ini Mama Marsha tidak akan mengikhlaskan begitu saja.
"Untuk semua yang sudah kamu ambil, aku tidak akan mengambilnya kembali. Namun, tidak untuk rumah ini," ucap Mama Marsha.
Sementara pria itu justru tersenyum miring. "Lalu, untuk anak yang tidak dekat dengan orang tuanya, apa yang mau diharapkan? Menguasai hartanya?"
Tudingan yang begitu miris untuk Mama Marsha. Dia mengakui bahwa hubungannya dengan Mamanya sendiri tidak begitu baik. Tak jarang keduanya kerap bersitegang, tetapi di saat-saat terakhirnya lah justru hanya ada Mama Marsha yang mengurus. Suaminya justru tidak menunjukkan batang hidungnya. Lantas usai pemakaman, justru datang dan meminta harta.
"Ketika sudah menjadi suami dan istri, susah dan senang dijalani bersama. Bukan ketika Mama sakit karena menua, justru pergi begitu saja. Setelah Mama tiada, kembali datang dan meminta harta. Sebaiknya Anda pergi dari sini sekarang juga, atau saya bisa laporkan Anda."
Agaknya pria itu tidak bisa berkata-kata lagi, atau mungkin takut dengan ancaman Mama Marsha. Sehingga dia berlalu pergi begitu saja. Setelahnya, keluarga itu kembali berkumpul dan Mama Sara berdiri di samping Mama Marsha.
"Sabar, tidak usah dimasukkan hati. Untuk jalan keluarnya nanti kita pikirkan bersama-sama," ucapnya.
"Iya, dalam suasana duka, tapi bisa-bisanya meminta warisan. Apakah itu benar? Tidak ada rasa untuk kemanusiaan," balas Mama Marsha.
Akhirnya mereka kembali masuk ke dalam rumah, menikmati sarapan bersama. Dengan perasaan yang campur aduk antara duka, kehilangan, dan juga kesal. Bahkan sekadar memulai pembicaraan saja rasanya begitu berat.
"Besan, selanjutnya apa yang hendak kalian lakukan?" tanya Papa Belva.
Perlu diketahui bahwa Papa Belva adalah seseorang yang berpikir ke depan. Dia selalu memikirkan next step untuk apa yang telah terjadi. Untuk itu, Papa Belva pun menanyai apa yang hendak dilakukan Mama Marsha dan Papa Abraham.
"Kami akan kembali ke Jakarta. Untuk rumah ini bisa nanti disewakan saja, sehingga dengan demikian rumah ini bisa terus terawat," balas Mama Marsha.
__ADS_1
"Jika terjadi dengan sesuatu dengan pria itu bagaimana?" tanya Papa Belva.
"Mungkin kami akan mengambil langkah hukum," balasnya.
"Baiklah, untuk kali ini kami pun akan selalu mendukung kalian," ucap Papa Belva.
Arti keluarga yang terjalin benar-benar ditunjukkan oleh keluarga itu. Bukan karena hubungan darah, melainkan benar-benar karena ikatan yang terjalin sekian tahun lamanya. Benar-benar selalu ada untuk satu sama lain.
Setelahnya, Mira bertanya kepada Mama dan Papanya. "Apa Mama dan Papa akan kembali ke Jakarta tidak?" tanyanya.
"Kami akan kembali ke Jakarta bersama kalian. Untuk pengajian bisa dilakukan di Jakarta saja bukan?" tanya Mama Marsha.
Papa Abraham juga menganggukkan kepalanya. "Benar, itu lebih baik. Sebab, anak-anak kita juga harus sekolah," balasnya.
Mengingat Marvel juga sudah izin selama lima hari sekolah, maka Papa Abraham pun berpikir sudah waktunya untuk kembali ke Semarang. Untuk pengajian nanti bisa dilakukan di Jakarta, tetapi sekolah anak-anak harus terus berjalan.
"Iya, Pa," balasnya.
Ya, menurut Papa Abraham kembali ke Jakarta pun tidak masalah. Yang bisa dilakukan dari Jakarta akan dilakukan dari sana. Sementara untuk yang lain ada kerabat juga yang bisa dimintai tolong.
***
Malam harinya ....
__ADS_1
Sekarang keluarga Agastya dan keluarga Narawangsa sudah berada di dalam pesawat untuk kembali ke Jakarta. Di dalam pesawat, Elkan memang sengaja untuk duduk satu kursi dengan Mira. Sedikit mengambil kesempatan untuk bisa berdekatan dengan Mira.
"Besok sekolah kan?" tanya Elkan kepada Mira.
"Iya, sudah hari Senin soalnya," balas Mira.
"Padahal, kamu pasti capek yah?" tanya Elkan lagi.
Mira pun menganggukkan kepalanya. "Iya Kak ... lumayan. Tidak ada PR kan buat besok?" tanyanya.
"Aku lupa belum cek lagi, nanti malam berarti kamu akan tidur di rumah kamu ya, Ra?" tanya Elkan.
"Iya, Mama dan Papa sudah pulang," jawabnya.
"Yah, sayang sekali ... padahal aku seneng kalau kamu di rumahku. Tidak bisa, Ra kalau kamu tinggal di rumahku? Kita bisa satu rumah walau tidak satu kamar," ucap Elkan.
Entah lantaran apa, tetapi Elkan bisa berkata demikian. Mira hanya tersenyum di sana. "Kan kita setiap hari juga bertemu," jawabnya.
"Sabtu dan Minggu kan tidak?"
"Kamu boleh main ke rumahku kalau mau," balas Mira.
Elkan pun tersenyum. "Apa aku kalau Sabtu dan Minggu tidur di rumah kamu aja ya, Ra. Boleh kan?" tanyanya.
__ADS_1
"Tanya ke Mama dan Papa aja, Kak ... ya, itu kalau kamu berani."
Agaknya Elkan serasa mendapat tantangan dari Mira. Haruskah dia sesekali mencoba untuk menginap di rumah Mira di hari Sabtu dan Minggu. Pemuda itu hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum, tapi otaknya sudah menyusun rencana tersendiri.