Romansa Pengantin SMA

Romansa Pengantin SMA
Memorial Park


__ADS_3

Ketika akhir pekan tiba, keluarga Agastya menuju ke memorial park. Mama Sara, Papa Belva, Evan dan Andin, serta Elkan dan Mira. Tujuan mereka mengunjungi memorial park adalah untuk menabur bunga di makam almarhumah mama Anin.


Sudah cukup lama sebenarnya, Papa Belva tidak menabur bunga di makam almarhumah. Akan tetapi, ketika membahas bayi tabung tiba-tiba bayangan dan memori tentang mendiang Anin hadir dengan sendirinya.


"Inilah Mama Anin," kata Papa Belva.


Baik Evan dan Andin, Elkan dan Mira sama-sama menganggukkan kepalanya. Sebelumnya, mereka sudah melihat seperti apa paras almarhumah melalui foto-foto yang masih disimpan oleh Mama Sara. Sungguh, mendingan mama Anin adalah sosok wanita yang sangat cantik. Selain itu, Mama Anin juga sebelumnya adalah seorang model.


"Mama Anin kenal dengan Papamu, Mira. Dulu, Papamu adalah fotografernya almarhumah," kata Papa Belva.


Mira menganggukkan kepalanya, dia juga baru tahu circle pertemanan keluarganya dengan keluarga Agastya sudah terjalin begitu lama. Bahkan, Mira juga baru tahu bahwa Papanya dulu adalah fotografer almarhumah mama Anin.


"Jadi, Papa ini sudah mengenal Papamu jauh sebelum kamu lahir. Kala Papamu masih lajang."


Ini juga menjadi cerita yang didengarkan anak-anak, tidak mengira bahwa perkenalan Papa Belva dan Papa Abraham sudah berlangsung begitu lama. Papa Belva ingat semua bahwa dia kenal Papa Abraham yang sekarang menjadi besannya sejak Papa Abraham masih lajang.


"Lama banget yah, Pa," balas Mira.


"Sangat lama, Mira. Oleh karena itu, perkenalan dan persahabatan ini akhirnya menjadi kekeluargaan. Papa sangat senang," balas Papa Belva.


"Makasih banyak, Papa," balas Mira.


Usai itu, mereka berjongkok dekat nisan itu. Papa Belva menaburkan bunga dan air mawar. Usai itu, Papa Belva mengajak keluarganya untuk mengirimkan doa.


Yang didoakan Papa Belva adalah supaya almarhumah diampuni dosa-dosanya dan ditempatkan Allah di tempat terbaiknya. Setelah itu, Papa Belva mengusap perlahan nisan di sana. Yah, di bawah nisan itu sudah berbaring mendiang Mama Anin lebih dari dua dekade lamanya.


"Ya, mendingan sudah tiada, tapi kenangannya akan selalu ada bersama dengan kita," kata Mama Sara.


"Itulah hebatnya Mama kalian, dia bahkan mau dan membiarkan sedikit celah di hati Papa untuk mengingat dan mengenang almarhumah. Luar biasa bukan?" tanya Papa Belva.


Semuanya menganggukkan kepalanya. Sebab, mereka yang telah pergi tidak serta-merta dilupakan begitu saja. Akan tetapi, ada kenangan yang akan selalu tersimpan di hati.


Cukup lama mereka berada di memorial park. Hingga akhirnya, mereka kembali pulang ke kediaman Agastya. Jujur, Mira sendiri masih terharu. Tidak menyangka sebenarnya dengan semua kisah masa lalu mertuanya.


"Duh, anaknya Mama ini jadi menangis terus deh," kata Mama Sara dengan tersenyum.

__ADS_1


"Masih terharu, Ma. Apa gejolak hormonal yah, Ma?" tanya Mira.


Mama Sara tersenyum lagi, kemudian barulah berbicara. "Sudah, dijaga emosinya. Kan sudah mau transfer embrio. Sudah ada kabar baik belum dari Dokter Indri?" tanya Mama Sara.


"Belum ada, Ma. Observasinya tiga hingga lima hari kok, Ma. Doakan yah, Ma," balas Mira.


Usai itu, Elkan merangkul istrinya itu. Elkan merasa kalau sedang begitu, Mira sangat membutuhkan dirinya. Sebab, Elkan bisa menenangkan Mira dengan caranya sendiri.


"Sini peluk dulu," kata Elkan menyela.


Bukan memeluk sebenarnya, tapi merangkul istrinya itu. Mama Sara tertawa jadinya. Apakah memang seperti ini kehidupan pasangan muda? Terlihat Elkan yang lebih terbuka dan juga refleks berdasarkan keadaan.


"Udah, tenangin dulu istrinya, El," balas Mama Sara.


Elkan menganggukkan kepalanya. Setelah itu, Elkan mengajak Mira duduk bersama di tepi kolam renang dengan kedua kaki mereka yang terendam di dalam air. Elkan merangkul istrinya itu, membawa kepala istrinya bersandar di dadanya.


"Kamu jadi mellow banget, Honey," kata Elkan.


"Aku juga bingung, Kak. Kenapa jadi semellow ini. Hanya saja, menurutku Mama Sara berhati sangat besar. Tak mudah menjadi yang kedua dengan berbagai problematikanya. Kalau kebayang, aku nangis sendiri," cerita Mira dengan berlinangan air mata.


"Sudah, tidak apa-apa. Kan itu hanya masa lalu. Yang pasti keduanya sama-sama berkomitmen untuk menjadi yang terakhir bagi satu sama lain," balas Elkan.


Elkan tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Kamu cinta banget sama aku yah, Honey?" tanya Elkan.


"Iya ... banget. Apa cuma aku yang cinta banget sama kamu, Kak? Sementara kamu tidak?" tanya Mira.


"Ssshhss, lihat mataku. Kamu tentu tahu sebesar apa cintaku untukmu. Iya, bagus. Jangan bagi aku dengan siapa pun," balas Elkan.


"Jangan sampai yah, Kak," balas Mira.


"Iya, Honey. Sudah jangan nangis. Ingat untuk transfer embrio nanti, butuh kestabilan mental. Jadi, dalam dua hari ini kamu harus bahagia. Biar nanti waktu embrionya ditaruh di rahim juga berkembang," kata Elkan.


Sekarang Mira diingatkan oleh suaminya. Dia menganggukkan kepalanya. Benar yang disampaikan suaminya barusan bahwa memang butuh kestabilan mental dan bahagia, tidak stress, supaya embrionya bisa berkembang di dalam rahim.


"Iya, Kak," jawab Mira.

__ADS_1


"Aku sudah puasa lama juga. Entah sampai kapan. Namun, aku akan nahan, demi kelancaran semuanya," kata Elkan.


"Ya, nanti kalau sudah diperbolehkan aku yang handle, Kak," jawab Mira dengan tiba-tiba.


"Yakin?" tanya Elkan.


"Yakin, walau tidak bisa full power, Kak. Kan aku hamil nanti," balas Mira.


Elkan tahu, nanti semuanya sudah berbeda karena Mira akan berbadan dua. Benar yang Mira sampaikan tidak bisa full power. Harus lebih berhati-hati.


"I know, Honey. Santai saja. Dah, jangan nangis lagi," kata Elkan.


Mira mengurai wajahnya sesaat, lantas menengadahkan wajahnya menatap suaminya. "Kak, jadikan aku yang terakhir untukmu yah," pintanya.


"Kamu yang pertama dan terakhir untukku, Honey," kata Elkan.


"Kamu juga, Kak," balas Mira.


Elkan melirik Mira, "aku cinta pertamamu?" tanyanya.


"Iya, dari cinta monyet akhirnya jadi cinta pertama, dan berharap menjadi cinta terakhir," balas Mira.


Elkan tersenyum mendengar pengakuan Mira. Setelah itu, dia kembali berbicara. "Kapan kamu suka ke aku?" tanya Elkan.


"Lulus SD, kamu gak tahu, aku sedih banget waktu kamu memutuskan untuk SMP di Singapura," balas Mira.


"Sorry, aku tidak tahu. Sekali lagi, ada salah paham waktu itu," balas Elkan.


"Lain kali kalau terjadi salah paham, jangan pergi begitu saja ya, Kak. Kita selesaikan semuanya dengan baik-baik. Kita bisa selesaikan dengan diskusi bersama," kata Mira.


"Iya, tidak akan melakukannya lagi," balas Elkan.


"Janji?"


Mira membawa jari kelingkingnya. Dia meminta Elkan untuk berjanji dengan menautkan jari kelingkingnya.

__ADS_1


"Janji."


Elkan menjawab dengan menautkan jari kelingkingnya di jari kelingking Mira. Benar yang Mira minta. Mungkin saja dalam kehidupan pernikahan yang begitu lama, kesalahpahaman bisa saja terjadi. Oleh karena itu, Mira meminta kepada suaminya untuk menyelesaikan dan tidak akan pergi begitu saja sama seperti dulu kala.


__ADS_2