
Usai lepas implan yang sebelumnya ditanam di lengan, benar yang disampaikan Dokter Indri karena pagi ini lengan Mira menjadi bengkak. Wanita itu pun meringis merasakan sakit di tangannya. Oleh karena itu, pagi hari Mira sudah menangis.
Awalnya pagi-pagi Mira terbangun, dia merasa tangannya sakit dan tidak bisa digerakkan. Hingga, akhirnya wanita itu terbangun dan menangis tanpa berbicara. Dia berusaha untuk meredam tangannya dan mengusapi lengannya yang sakit.
Hingga lima belas menit kemudian Elkan terbangun. Tangannya meraba bagian tempat tidur Mira, rupanya istrinya itu sudah terduduk dengan bersandar di head board ranjang. Elkan pun terbangun, dia bingung melihat Mira yang menangis tanpa suara pagi itu.
"Kenapa, Honey?" tanya Elkan.
"Gak apa-apa, Kak," balas Mira.
Elkan langsung beringsut, dia melihat istrinya dengan wajah yang sembab pagi hari. Kemudian Elkan menanyai lagi. Sebab, tidak mungkin Mira menangis tanpa sebab.
"Bilang, kenapa?"
"Tanganku ... bengkak, sakit ...."
Elkan melihat lengan Mira, tepat di bekas sayatan kemarin. Memang terlihat bengkak, tapi Elkan mencoba tidak panik karena kemarin Dokter sudah mengatakan demikian.
Tanpa banyak berbicara, Elkan kemudian turun. Dia mengambil wadah kecil dan handuk kecil, mengisinya dengan air hangat. Setelah itu, dia mengajak Mira duduk di sofa. Lantas, Elkan menyeka lengan Mira yang bengkak. Pria itu sangat telaten untuk merawat Mira.
"Semoga bengkaknya berkurang yah," kata Elkan.
"Nyeri rasanya, Kak," kata Mira masih menangis.
Tak menyangkal, dari bengkaknya saja sudah terlihat pastilah sakit. Namun, Elkan sangat telaten untuk merawat istrinya itu. Dia sesekali tersenyum. Elkan merasa senang tiap kali Mira sakit, dia yang ada di sampingnya dan merawatnya. Tugas suami juga mendampingi istri saat sakit. Oleh karena itu, Elkan bukan hanya mendampingi, tapi juga merawat Mira.
"Aku rawat yah," kata Elkan dengan lembut.
Sembari menyeka lengan Mira, pria itu menyeka jejak air mata di wajah istrinya. Elkan benar-benar memperlakukan Mira dengan baik, dan sangat lembut. Dia merawat dengan baik, menunjukkan bahwa sebagai seorang suami dia perhatian dan akan menjaga Mira.
Usai itu, Elkan membuang air hangat dan menaruh wadah di kamar mandi terlebih dahulu. Tidak lupa, Elkan pamit dengan Papanya sehari karena tidak bisa masuk bekerja sehari. Sebenarnya Papa Belva juga khawatir kenapa Mira sakit, tapi Elkan menjelaskan itu hanya karena lepas implan yang sebelumnya dipasang di tangan.
__ADS_1
"Kakak enggak ke store?" tanya Mira.
Store yang dimaksud Mira adalah Store Coffee Bay, di mana ada lantai dua untuk semua pekerja dan ruangan pemimpin store itu. Elkan memang sudah mulai memegang Coffee Bay. Walau begitu masih ada Papa Belva yang mendampinginya.
Papa Belva masih mendampingi Elkan, belum sepenuhnya melepaskan Elkan begitu saja. Bagaimana pun, Coffee Bay harus dikerjakan dengan serius.
"Aku izin sehari, Honey. Udah jangan banyak pikiran. Jangan sedih terus, aku temenin seharian ini," kata Elkan.
Mira menganggukkan kepalanya, tapi wanita itu kembali menangis. "Maaf, jadi merepotkan Kakak."
"Gak repot sama sekali, Honey," kata Elkan.
Kurang lebih jam 07.00 pagi sudah ada Mama Sara dan Papa Belva yang datang ke rumah. Keduanya mengantarkan sarapan untuk Elkan dan Mira.
"Gimana keadaan Mira, El?" tanya Mama Sara.
"Bengkak saja lengannya, Ma. Nyeri katanya," balas Elkan.
"KB Implan memang begitu. Jangan panik. Nanti akan hilang sendiri bengkaknya. Yang sabar, kan kata Dokter Indri kemarin hormonnya juga gak stabil," kata Mama Sara.
Usai itu Mama Sara yang naik ke atas untuk menjenguk Mira. Bagaimana pun, Mira sudah seperti anaknya sendiri. Mama Sara pun menengok Mira.
"Sakitnya di mana, Ra?" tanya Mama Sara.
"Yang kemarin di sayat kok, Ma. Tadi bengkak banget, Ma. Ini ... sudah gak apa-apa kok, Ma," balas Mira.
Nah, sekarang Mama Sara tahu yang membuat Mira juga menangis seperti ini pasti gejolak hormonal karena usai lepas kontrasepsi, hormonnya belum stabil. Mama Sara memahami itu.
"Gak apa-apa, sakit sebentar. Paling cuma sehari. Memang lepas implan begitu. Mama bawakan sarapan, mau Mama suapin?" tanya Mama Sara.
Mira dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Tidak, Ma. Maaf jadi merepotkan Mama," balas Mira.
__ADS_1
"Gak repot sama sekali, Sayang. Kamu kan udah jadi anaknya Mama. Jadi, biasa saja."
Sosok keibuan dan kelembutan Mama Sara seolah bisa memenangkan Mira. Hingga tangisan Mira perlahan-lahan reda. Mama Sara pun tersenyum.
"Kalau nanti kenapa-napa, kabarin Mama yah. Misal, besok bengkaknya belum berkurang, kita ke Rumah Sakit," kata Mama Sara.
Mira pun menganggukkan kepalanya. "Baik, Ma. Terima kasih banyak, Ma," balas Mira.
Usai itu Mama Sara berpamitan dan meminta Mira banyak istirahat dulu. Setidaknya Mama Sara beruntung karena Mira tidak mual dan muntah. Sebab, ada juga yang lepas implan dan efeknya merasa mual dan muntah.
"El, tidak apa-apa. Dirawat yah Mira. Kalau ada apa-apa telepon Mama yah. Kamu yang sabar yah," kata Mama Sara.
"Bengkak banget yah, Ma?" tanya Papa Belva yang khawatir.
"Ya bengkak, Pa. Katanya tadi lebih bengkak lagi, tapi sudah berkurang kok," kata Mama Sara.
Papa Belva akhirnya menganggukkan kepalanya. "Kalau besok masih bengkak, kita bawa ke Rumah Sakit aja, Ma."
"Memang begitu, Pa. Ya sudah, biarkan Mira istirahat dulu saja. Kita jangan mengganggu, penting Elkan siaga aja," kata Mama Sara lagi.
"Siap, Ma. Elkan akan selalu siaga kok. Jangan khawatir, Elkan siaga 24 jam."
Papa Belva dan Mama Sara percaya dan bisa mengandalkan Elkan. Lagipula, sekian tahun mereka tinggal bersama di Australia, sudah pasti melewati masa sehat dan sakit bersama-sama. Akhirnya, Mama Sara dan Papa Belva berpamitan.
Elkan kemudian kembali naik ke kamar dengan membawa sarapan untuk Mira. Bubur Ayam buatan Mama Sara, tapi tanpa kuah kuning. Sebab, Mira juga kalau memakan bubur tanpa menggunakan kuahnya. Tidak diaduk.
"Sarapan dulu yuk, Honey," ajak Elkan.
"Aku ngerepotin yah, Kak," balas Mira.
"Enggak merepotkan sama sekali, Honey. Udah, santai saja. Santuy, Honey," balas Elkan.
__ADS_1
Elkan sangat sabar, bahkan dia sangat rileks supaya Mira tidak bersedih. Benar yang dikatakan Mamanya tadi mungkin saja pengaruh hormonal. Untuk itu, Elkan berusaha sabar dan memahami wanita.
Sebab, wanita ingin dimengerti, maka Elkan akan berusaha mengerti wanitanya. Memahami Mira. Sebab, inilah inti berumahtangga, saling mengerti dan memahami satu sama lain. Menemani di kala senang dan sedih. Sembari terus berdoa, semoga Mira bisa segera membaik dan sembuh sepenuhnya.