
Hari Senin ini benar-benar menjadi hari yang berat bagi Mira. Terlebih satu kelas dengan Sonya dan juga adanya Bagas membuatnya harus banyak memanjangkan kesabarannya. Di berbagai kesempatan, Sonya selalu merendahkannya. Menilainya sama sekali tidak layak bagi Elkan hanya karena sekarang dia berkacamata. Penampilannya sama sekali tidak cocok dengan Elkan yang memang begitu tampan.
Begitu telah selesai sekolah sepanjang hari. Sekarang, Mira tampak keluar dari kelas. Mungkin karena di sekolahnya gedung bertingkat, Mira sampai tidak menyadari bahwa sekarang di luar sana tengah hujan. Gadis itu terus berjalan sampai di depan sekolah. Barulah Mita tahu bahwa gerimis turun di Ibukota.
Gadis itu menghela nafas panjang, sekaligus menengadahkan wajahnya ke langit. Benar air turun dan sore itu gerimis. Di saat dia berangkat ke sekolah dengan menaiki sepeda motor sekarang justru hujan.
"Mau aku anterin pulang?"
Suara bariton yang cukup Mira kenali pun menyapa. Ya, pemuda itu tidak lain dan tidak bukan adalah Bagas. Sementara Mira tampak melirik sekilas kepada Bagas yang kini berdiri di sampingnya.
"Aku sudah bareng yang lain," balas Mira.
"Ini hujan, Ra ... kalau kamu nekad naik sepeda motor yang ada kamu justru bisa masuk angin, Ra," ucap Bagas.
Sebenarnya Bagas pun tergolong siswa yang pintar di sekolah. Dia selalu mendapatkan peringkat di kelasnya. Seperti sekarang dia pun tahu bahwa Mira yang tadi pagi datang bersama Elkan dengan menaiki sepeda motor, ketika hujan turun sudah pasti akan membuat kehujanan dan juga bisa masuk angin keesokan harinya.
__ADS_1
Namun, Mira dengan cepat menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin diantar oleh Bagas. Justru, Mira sekarang menjadi berhati-hati dengan sikap Bagas yang kadang baik dan kadang tidak.
"Makasih, Gas ..., tapi gak usah repot-repot," balas Mira.
Jauh di dalam hatinya Mira berharap bahwa Elkan akan segera datang. Sehingga dia tidak perlu berlama-lama dengan Bagas di sini. Jujur saja, terlalu lama dengan Bagas justru membuat Mira merasa tidak nyaman.
"Kenapa sih Ra?" Bagas mulai bertanya kepada Mira.
Sementara Mira sendiri masih menggelengkan kepalanya. "Kenapa juga sih, Gas? Dulu kita teman baik, Gas. Namun, bebarapa bulan belakangan aku justru tidak mengenalimu. Dulu kita teman baik, kenapa kamu justru merusaknya?"
"Rasa persahabatan bisa berubah menjadi cinta kan Ra? Apa jangan-jangan kamu mau sama Elkan karena dia putra seorang Crazy Rich ya Ra?" tanya Bagas sekarang ini.
Mungkin jika mengenal sosok Elkan dan nama belakangnya Agastya, pastilah orang-orang akan tahu bahwa dia putra pengusaha terkenal Belva Agastya. Akan tetapi, Elkan yang dia kenal adalah Elkan teman kecilnya. Walau kaya raya, Elkan justru bersikap biasa saja.
"Kamu salah besar jika menilaiku seperti itu, Gas. Pertemanan kita tak ada artinya," balas Mira.
__ADS_1
Hingga akhirnya, Elkan barulah keluar dari sekolah dan kini dia melihat Mira yang berdiri dengan jarak beberapa meter dari Bagas. Di sana, Elkan pun menatap Mira di sana. "Mau pulang sekarang?" Tanyanya.
"Hmm, iya," balas Mira.
Tanpa perlu mengucapkan permisi, Elkan menarik tangan kanan Mira untuk mengikutinya. Namun, di saat yang bersamaan ada Bagas yang juga menarik tangan Mira. Sehingga kedua pria tampan itu tampak sama-sama menarik tangan Mira. Bingung, kemudian Mira berusaha menghempaskan tanda keduanya.
"Lepasin," ucapnya dengan nada rendah.
Akan tetapi, seakan Bagas dan Elkan enggan untuk melepaskan tangan Mira. Sungguh, Mira jengah sekarang. Juga malu karena beberapa siswa SMA melihatnya dengan pandangan yang aneh.
"Biar gue yang akan anterin Mira, El ... loe gak lihat sekarang hujan?" Tanya Bagas.
"Gak Mira bakalan pulang sama gue," Balas Elkan.
Merasa diperebutkan, Mira kemudian menghempas tangan keduanya dari genggaman tangan Elkan dan Bagas. Begitu banyak yang terjadi hari ini. Niat ingin pulang rupanya masih ada keduanya yang menahannya.
__ADS_1