Romansa Pengantin SMA

Romansa Pengantin SMA
Pertama Kali Satu Kamar


__ADS_3

Menurut Elkan, rupanya mendapatkan izin dari Papa Abraham tidak terlalu sulit. Bahkan, Papa Abraham mengizinkan Elkan untuk satu kamar dengan Mira. Tentu ini adalah pengalaman manis untuk Elkan. Selain itu, juga kesempatan yang diberikan Papa Abraham tidak akan dia sia-siakan.


"Terima kasih banyak, Pa ... Elkan akan menjaga Mira," jawabnya.


"Papa percaya sama kamu, El," balas Papa Abraham.


Mama Marsha pun menganggukkan kepalanya. "Mama juga percaya kamu sama, El," ucap Mama Marsha.


Tentu ini adalah hal yang baik untuk Elkan ketika dia bisa dipercaya oleh mertuanya sendiri. Pemuda itu pun menganggukkan kepalanya. "Terima kasih Mama dan Papa ... Elkan tidak akan macam-macam kok," balasnya.


Usai makan malam, ada kasur lipat yang ditata Papa Abraham di sisi tempat tidur Mira. Di sana ada bantal dan juga selimut yang dipersiapkan Mama Marsha untuk Elkan.


"Hanya seperti ini, tidak apa-apa El?" tanya Mama Marsha.


"Tidak apa-apa, Ma ... ini sudah nyaman banget. Elkan tidur di lantai pun tidak apa-apa kok," balasnya.


Mama Marsha kemudian tertawa. "Mana Mama tega membiarkan anaknya Mama tidur di lantai? Gak akan tega, El. Untuk Mama, kamu sama seperti Marvel, anaknya Mama juga. Mama juga melihatmu tumbuh dari kecil sampai sekarang," balas Mama Marsha.


"Kan Elkan cuma pengen menjaga Mira saja, Ma. Kalau Mira sudah sehat, Elkan bisa lebih tenang," jawabnya.


"Iya, ya sudah ... jangan tidur terlalu malam yah. Saling menjaga," balas Mama Marsha.


Akhirnya Mama Marsha pun keluar dari kamar Mira. Sementara di sana, Mira juga masih begitu canggung. Sebelumnya, tidak pernah sama sekali ada pria yang masuk ke dalam kamarnya. Hanya Papa Abraham dan Marvel saja. Sekarang, nyatanya Elkan justru masuk ke dalam kamarnya.


"Mau langsung tidur, Ra?" tanya Elkan.

__ADS_1


"Agak nanti sih, Kak ... Kak El kalau ngantuk, tidur duluan aja," balasnya.


"Nanti lah ... nungguin kamu. Senengnya, Ra ... bisa satu kamar sama kamu," balas Elkan.


Itu adalah perasaan Elkan yang jujur bahwa dia merasa senang bisa satu kamar dengan Mira. Sebagai pemuda dan suami, tentu Elkan menantikan momen bisa satu kamar dengan Mira. Akan tetapi, itu tidak bisa karena ada perjanjian di antara kedua orang tua.


"Boneka dariku waktu kecil masih ya, Ra?" tanya Elkan kemudian. Itu juga Elkan mengedarkan pandangan ke seluruh kamar, dan melihat ada boneka Minnie yang pernah dia berikan waktu kecil dulu.


"Hmm, iya ... semua dari Kak El masih," jawab Mira dengan tersenyum tipis.


"Lalu, kenapa Jerome bilang kamu suka boneka Cony? Padahal aku amati, di dalam kamar ini sama sekali tidak ada boneka Cony," balas Elkan.


"Aku juga tidak tahu, Kak. Mungkin dulu, aku memiliki pita dan bando kelinci waktu aku masih SD kelas 6 dulu," balas Mira.


Elkan mencoba untuk mengingat-ingat, benarkah dulu Mira sewaktu SD pernah memakai pita dan bando kelinci. Namun, sayangnya Elkan tidak mengingatnya sama sekali. Yang penting adalah tidak ada boneka dengan karakter kelinci itu di kamarnya Mira.


"Harukah dijawab?" balas Mira.


"Iya, harus."


Mira kemudian menjeda ucapannya untuk beberapa saat lamanya, kemudian barulah memberikan jawaban. "Aku suka Minnie," balasnya.


Mendengar jawaban yang diberikan Mira, Elkan tersenyum. Pemuda itu membaringkan dirinya dengan posisi miring menghadap tempat tidur Mira.


"Makasih, Ra," ucapnya.

__ADS_1


"Makasih juga, Kak," balas Mira.


Untuk beberapa saat kamar itu menjadi hening. Akan tetapi, sorot mata Elkan masih tertuju kepada Mira yang masih bersandari di headboard dan membaca sebuah buku.


"Ra, aku menunggu kita bisa berbagi kamar dan berbagi keseharian seperti ini," ucap Elkan perlahan.


"Tiga bulan lagi, Kak," balas Mira.


"Tidak menolak kan, Ra?" tanya Elkan kemudian.


Gadis itu tampak berpikir dan kemudian melirik sesaat kepada Elkan. "Insyaallah, tidak," balasnya.


"Wah, lega, Ra ... tiga bulan hari. Aku bakalan menghitung hari dan berharap kita bisa segera lulus, Ra," balas Elkan.


Hingga sudah lebih dari jam 21.00, dan Mira menaruh novel yang dia baca di nakas, kemudian dia mematikan lampu utama di dalam kamarnya.


"Selamat tidur, Kak," ucapnya dengan sekarang berbaring dan menyelimuti dirinya.


"Selamat tidur, Ra ... besok kalau sehat ke sekolah ya, Ra," ucap Elkan lagi.


"Hmm, iya."


"Aku lebih nyaman duduk di samping kamu," ucap Elkan.


"Kalau tidak sakit, pasti aku sekolah, Kak," jawab Mira.

__ADS_1


"Baiklah, tidur, Ra. Aku sayang kamu."


Akhirnya, Elkan menutup hari itu dengan mengungkapkan bahwa dia sayang dengan Mira. Satu pengakuan yang membuat Mira mengulas senyuman di wajahnya. Mira yakin bahwa kondisinya sudah jauh lebih baik dan esok bisa kembali ke sekolah.


__ADS_2