Romansa Pengantin SMA

Romansa Pengantin SMA
Barbeque Party


__ADS_3

Usai senja, Elkan mengajak Mira untuk segera pulang. Masih di area Warrnamboll karena memang keluarganya masih tinggal di Warrnamboll dan ingin menikmati liburan musim dingin di wilayah Victoria, Australia. Menuruni mercusuar, Elkan selalu menggandeng tangan istrinya itu.


"Hati-hati turunnya, Honey," ucap Elkan.


"Iya, Kak," balas Mira dengan berhati-hati menuruni tangga yang melingkar itu.


Keduanya masih harus menelusuri jalanan dan kolam di desa nelayan itu. Beberapa lampu pun sudah menyala. Sungguh, itu adalah tempat yang romantis. Namun, semakin malam angin dingin terasa menusuk sampai ke tulang. Saking dinginnya, ujung hidung Mira sampai merah karena memang begitu sangat dingin.


"Dingin?" tanya Elkan.


"Banget, Kak. Ini saja salju belum turun yah. Bagaimana kalau nanti salju sudah mulai turun dan akan begitu dingin?" tanya Mira kepada suaminya.


Elkan tersenyum. "Kalau sudah musim salju, kita di unit saja nanti, Honey. Masih liburan nanti. I can hug you everyday," balas Elkan.


Mira hanya tersenyum saja. Hingga akhirnya, mereka sudah masuk ke dalam mobil. Tiba-tiba bayangan dicium Elkan ketika senja itu melintas di benak Mira, hingga dia tersenyum sendiri. Jujur, itu adalah ciuman pertamanya dengan Elkan di alam terbuka. Sangat tidak menyangka, hati lebih berdebar-debar. Namun, perasaan cinta itu seperti meletup-letup dengan sendirinya.


"Mau mampir ke suatu tempat enggak?" tanya Elkan kepada istrinya.


"Langsung pulang saja, Kak. Mama dan Papa sudah nungguin kita untuk membuat barbeque bersama," jawab Mira.


Akhirnya Elkan segera mengemudikan mobilnya sampai di rumah yang ditempati keluarganya. Hari sudah malam, di halaman rumah sudah ada pasangan Mama dan Papa mereka sudah bersiap membuat barbeque. Dengan grill yang sudah disiapkan di halaman.


"Selamat malam Mama dan Papa ... kami baru saja datang," sapa dari Elkan.


"Malam. Pasangan muda kita baru saja pulangnya. Enjoy your holiday and honeymoon," balas Mama Sara.

__ADS_1


Mendengarkan ucapan dari Mama Sara, Mira dan Elkan hanya senyam-senyum saja. Namun, juga senang karena memang tidak dimarahi oleh Mama dan Papanya.


"Mira bantuin apa Ma?" tanyanya.


"Sudah, kita tim cewek santai saja. Suami yang melayani kita sekali-kali," balas Mama Sara lagi.


"Gimana kehidupan pernikahanmu, Sayang? Kamu bahagia enggak menikah dengan Elkan?" tanya Mama Sara.


Itu adalah pertanyaan karena memang Mama Sara akan sangat bahagia ketika Mira juga bahagia hidup bersama putranya. Dia menginginkan menantunya juga hidup dalam kebahagiaan.


"Sangat bahagia, Ma. Menikah sahabat sendiri itu sangat bahagia," balas Mira.


Tidak lama berselang para suami sudah datang dan membawa beef barbeque yang sudah digrill. Mama Sara duduk di samping Papa Belva. Kemudian ada Mama Marsha yang duduk di samping Papa Abraham. Di satu sisi ada pasangan muda Elkan dan Mira.


"Papa bikin steak juga," ucap Papa Abraham.


"Silakan dimakan," ucap Papa Abraham.


Mereka mencoba menikmati steak yang dibuat sendiri oleh Papa Abraham. Ternyata rasanya sangat enak. Besannya saja sampai bingung, darimana Papa Abraham bisa memasak steak selezat ini dengan tingkat kematangan medium rare.


"Ini, enak sekali Besan," ucap Papa Belva sembari mengunyah steak itu.


"Thanks, Besan. Menikmati makanan lezat bersama anak-anak adalah memori yang indah," balas Papa Abraham.


"Tadi Mama tanya ke Mira, dia bahagia enggak menikah dengan Elkan. Jawabannya Mira sangat bahagia, itu artinya perjodohan kalian berhasil," balas Mama Sara.

__ADS_1


Sebenarnya Mira dan Elkan juga tidak bingung. Toh, mereka menikah karena dijodohkan. Elkan diminta untuk menjaga Mira. Sebab, Papa Abraham merasa kuliah di luar negeri dengan gaya hidup yang liberal bahaya untuk Mira. Namun, siapa sangka Elkan dan Mira saling mencintai.


"Sebenarnya Mama dan Papa menjodohkan kalian berdua itu sejak kalian kecil. Kami datang ke rumahmu dan meminta kepada Mama dan Papamu untuk menjadikanmu menantu di rumah kami. Semua itu karena Elkan yang kelihatan sayang kepadamu sejak kecil. Oleh karena itu, kamu adalah sosok yang tepat untuk Elkan. Namun, kami tak pernah memberitahu kalian supaya kalian tumbuh alamiah, tidak terkekang dengan perjodohan ini. Sekarang melihat kalian bahagia, kami sangat bahagia," cerita Mama Sara.


"Dijodohkan sejak kecil?" tanya Mira yang bingung.


Sekarang, Mama Marsha yang menganggukkan kepala. "Benar. Seperangkat perhiasan untuk kamu dari Mama Sara dan Papa Belva masih tersimpan sampai sekarang. Intinya, Mama berharap kalian berdua hidup bahagia," balas Mama Marsha.


"Jadi, jodoh kami sudah tersedia satu sama lain dong yah?" tanya Mira lagi.


"Iya, kami yang sudah menjodohkan kalian. Bagi kami tidak ada yang tepat untuk Elkan selain kamu, Mira. Sayangnya Elkan kepada kamu sejak kecil dan itu bertahan sampai sekarang," balas Mama Sara.


Mira kemudian melirik Elkan yang duduk di sampingnya. "Kamu cinta kepadaku, Kak?" tanyanya.


"Sejak kamu kecil, Honey," balas Elkan.


Mendengar panggilan sayang dari Elkan kepada Mira, pasangan Mama dan Papa di sana tertawa dan geleng kepala. Tidak menyangka, Elkan begitu manis sampai panggilan sayangnya pun Honey.


"Panggilan sayangnya luar biasa, El," balas Papa Belva.


"Harus, Pa. Membiasakan diri memanggil dengan penuh sayang untuk istri tersayang," balas Elkan.


"Bisa saja, El. Panggilan sayang harus disertai dengan cinta dan rasa sayang seumur hidup dan sepanjang hayat. Papa harap, kamu bisa memberikan itu untuk Mira," sahut Papa Abraham.


Elkan kemudian menganggukkan kepala. "Pasti, Pa. Elkan akan selalu mencintai Mira," balasnya.

__ADS_1


Malam yang indah, obrolan yang hangat, penuh dengan cerita dan canda tawa keluarga. Terlebih ditemani dengan steak dan barbeque yang benar-benar lezat. Rasanya hangat, menantu diperlakukan seperti anak sendiri. Hubungan antara besan dengan besan juga bagus. Mira dan Elkan seakan berkaca bahwa hubungan seperti ini sangat menyenangkan. Bisa membuat kehidupan yang bahagia dan lebih baik.


__ADS_2