
Beberapa hari setelahnya, Ibukota diguyur hujan. Hari begitu lembab, terasa basah dan dingin. Juga, sore itu hujan turun lebih deras, hingga Mira menanti-nantikan kenapa suaminya itu juga belum pulang.
Risau dengan keadaan suaminya, Mira pun mengirimkan pesan kepada Elkan. Meminta suaminya itu untuk lebih berhati-hati, tidak hanya itu Mira mengirimkan pesan cinta bahwa dia akan menunggu suaminya di rumah. Hingga lebih dari setengah jam berlalu, barulah Elkan pulang.
"Daddy pulang," kata Elkan sembari memasuki rumah.
"Kok sampai jam segini sih, Dad?" tanya Mira.
Elkan justru tersenyum. "Aku mampir beliin kamu Pizza, Honey. Dulu waktu musim dingin di Australia, kita sering makan Pizza," kata Elkan.
Seolah hujan sore itu mengingatkan Elkan dengan musim dingin di Australia dulu. Ketika keduanya masih sama-sama kuliah di Sydney dulu. Mendengarkan jawaban suaminya, Mira pun tersenyum.
"Daddy mandi dulu yah ... aku buatin Lemon Tea," kata Mira.
Menyimpan Pizza yang Elkan bawakan di dapur, kemudian Elkan masuk ke dalam kamarnya untuk mandi terlebih dahulu. Belum selesai Elkan mandi, Mira sudah membawakan segelas Lemon Tea hangat untuk suaminya itu.
"Baru ngapain, Honey?" tanya Elkan ketika dia baru saja keluar dari kamar mandi.
"Main sama Twins ini, Daddy. Aryan dan Aaliya udah mulai menguap nih," balas Mira.
Usai itu, Elkan bergabung dengan istrinya ikut menimang putra-putrinya terlebih dahulu. Elkan pun benar-benar menjadi Daddy muda yang turut mengasuh anak-anaknya. Ketika pulang dari bekerja, Elkan akan terus terlibat dengan kedua anaknya.
Hingga akhirnya, Aryan dan Aaliya tertidur. Hujan di luar pun menjadi semakin deras. Mira menawarkan kepada suaminya untuk makan malam atau memakan Pizza.
"Mau Pizza, Kak? Atau makan malam, biar aku yang ambilkan," tawar Mira.
Elkan justru menggelengkan kepalanya. Setelah itu, Elkan justru membuka kedua tangannya, sebuah isyarat supaya Mira masuk ke dalam pelukannya.
"Peluk dulu, Honey. Kangen," kata Elkan.
__ADS_1
Mira sangat tahu dengan isyarat yang diberikan suaminya itu. Oleh karena itu, Mira segera menghambur masuk ke dalam pelukan suaminya. Wanita itu menghirupi aroma maskulin dan woody dari parfum suaminya yang selalu menjadi kesukaannya itu.
"Tumben, Kak," kata Mira lirih.
"Gak tumben sih sebenarnya. Selama ini, aku lebih menahan diri aja," balas Elkan.
Yang pasti sekarang Elkan hanya mencoba untuk jujur saja. Walau dia menginginkan istrinya, tapi Elkan memilih menahan diri saja. Jujur, Elkan sendiri juga memberikan waktu untuk Mira benar-benar pulih. Hanya yang Elkan tahu, recovery untuk wanita yang melahirkan secara Caesar lebih lama. Untuk itu, Elkan memilih sabar dan menahan dirinya sendiri.
Mira tersenyum, ucapan suaminya itu meneduhkan dirinya. Membuat Mira sangat yakin sikap penyabar suaminya tak jauh berbeda dari Papa Abraham. Dimengerti oleh suami sendiri membuat Mira sangat bahagia.
Mira sedikit menengadahkan wajahnya, dengan sedikit keberanian Mira memulai untuk menyapa bibir suaminya dengan mengecupnya perlahan. Rasanya sentuhan itu adalah cara Mira mengungkapkan perasaannya sekarang.
"Makasih sudah sabar dan menahan diri selama ini," kata Mira.
Elkan pun tersenyum, pria itu lantas menundukkan wajahnya perlahan. Dengan pelan-pelan, Elkan membalas untuk menyapa bibir istrinya. Sekian lama tidak menyapa bibir istrinya membuat Elkan merasa berdebar-debar. Akan tetapi, debaran itu membahagiakan. Ada rasa gelenyar juga yang seakan dipatik di sana. Bukan hanya sebatas menempel, tapi Elkan benar-benar membuka mulutnya dan memberikan pagutan demi pagutan, hisapan demi hisapan, dan tentunya lu-mat di kedua belah lipatan bibir Mira.
Perasaan Elkan tumpah ruah. Dia tidak ingin menahan diri lagi. Hingga akhirnya, Elkan mencium Mira kali ini dengan napas yang lebih memburu, dengan satu telapak tangan yang memberikan belaian di sisi wajah hingga tengkuk Mira. Sementara Mira sendiri terombang-ambing karenanya. Dia memekik perlahan.
Dengan pekikan Mira ini Elkan sangat yakin bahwa istrinya itu kini telah tersulut. Rindu rasanya mengarungi momen-momen mendebarkan seperti ini. Elkan sudah berketetapan tidak akan menahan lagi, tangannya mulai bergerilya menjamah lekuk-lekuk feminitas di tubuh istrinya. Kian Mira memekik, Elkan kian berhasrat rasanya.
Hingga akhirnya, Elkan dengan cepat menarik ke atas kaos yang Mira kenakan. Kecupannya kian jatuh di sepanjang garis leher, tulang selangka, hingga tulang belikat Mira. Rasanya sangat indah, Elkan kembali menyentuh permukaan epidermis yang mulus. Hingga, Elkan melepaskan pengait besi yang bersembunyi di belakang punggung istrinya.
Mira sangat tak percaya diri sekarang. Sebab, pastilah area dada miliknya sudah banyak berubah. Terlebih sekarang dia tengah memberikan ASI untuk kedua bayi kembarnya. Namun, Elkan tetap berhasrat. Lelaki bermain-main di sana, membuat Mira melenguh beberapa kali dengan mengusap perlahan helai demi helai rambut suaminya.
Elkan tidak ingin terburu-buru. Ini adalah waktu yang sudah begitu dia nantikan. Oleh karena itu, Elkan akan menikmati intimitas bersama istrinya. Hingga akhirnya, Mira kembali mengambil langkah berani, dia melepaskan busana suaminya. Tanpa ragu menyentuh suaminya, dan memberikan service terbaik untuk suaminya.
"Oh, Honey," kata Elkan mana kala merasakan Mira yang benar-benar memberikan pelayanan pertama untuknya.
Itu adalah sapaan yang begitu Elkan rindukan. Lebih dari tiga bulan, sekarang barulah Elkan merasakan sensasi hangat dan basah yang membaluri seluruh pusakanya. Masuk dan tenggelam di dalam rongga mulut istrinya. Pria itu memejamkan matanya, sensasinya selalu nikmat mendapatkan perlakuan seperti ini dari Mira. Sungguh, Elkan sampai menggertakkan rahangnya dan beberapa kali mengusap rambut panjang Mira. Nikmat selalu. Pria itu sampai meracau dan memuji-muji apa yang Mira lakukan.
__ADS_1
Namun, Elkan adalah pria sejati. Dia tidak ingin apabila istrinya bersusah payah seorang diri memuaskannya. Maka, Elkan mengatakan cukup kepada istrinya. Sekarang, giliran Elkan yang mengambil alih kendali. Dia kecup inci demi inci lapisan epidermis di tubuh istrinya. Hingga di bekas luka Caesar yang ada di perut istrinya.
Cup!
Mira tak mempedulikan lagi. Waktu yang akan mereka selami bersama, seolah Mira pasrahkan kepada suaminya itu. Hingga mulailah Mira menerima sapaan yang membuat sekujur tubuhnya meremang. Tak hanya itu, kecupan, hisapan, gerakan berpadu tusukan dengan usapan lidah membuat Mira benar-benar kehilangan dirinya sendiri.
"Kak ... hh, Kak Elkan ...."
Lenguhan Mira kian menjadi-jadi rasanya. Suaminya itu selalu saja tak pernah gagal untuk memberikannya kepuasan. Seolah Mira benar-benar ditenggelamkan hingga ke palung samudra. Luar biasa rasanya.
Sementara reaksi alamiah yang Mira tunjukkan sekarang membuat Elkan rindu dan kian menggelora jadinya. Hingga Mira menyingkirkan wajah suaminya dari bawah sana. Sementara wanita itu terengah-engah dengan mata yang terpejam.
Elkan nyatanya justru tersenyum. Sekarang, tidak ada lagi yang Elkan tunggu. Dia mengambil posisi dan mulai menyatukan dirinya dengan istrinya. Oh, luar biasa rasanya. Sambutan yang hangat, erat, dan basah benar-benar membuat Elkan seolah menghisap bubuk candu.
Tiga bulan berpuasa panjang, sekarang jiwa maskulinitasnya kembali dipatik dengan api. Elkan sangat berhasrat sekarang. Dia memacu dengan terdengar suara benturan di sana. Kurang dari satu menit, peluh sudah bercucuran dengan sendirinya.
"Nikmat, Honey ...."
Elkan menggeram, gerakan seduktif yang dia lakukan kian menjadi-jadi. Maju dan mundur, keluar dan masuk. Bahkan beberapa kali, pusaka itu keluar dan Elkan kembali memasukkan dengan hentakan kuat. Tidak ada yang Elkan tahan. Waktu ini, momen ini adalah waktu yang benar-benar Elkan tunggu.
"Kak El ...."
Suara Mira kembali terdengar. Suara lirih yang mengalun indah di telinga Elkan. Tak hanya itu, Elkan yang lepas kendali mulai meraup dan memasukkan satu bulatan indah milik istrinya ke dalam rongga mulutnya, menghisapinya, menggigitnya perlahan, menarik puncaknya dan menghisapnya, semua itu Elkan lakukan beberapa kali.
Sungguh luar biasa. Elkan yang tak menahan, sementara Mira yang memberi akses penuh membuat malam yang berlalu dalam dentingan hujan itu benar-benar syahdu. Suasana dingin teralihkan dengan hawa panas yang menyelimuti keduanya. Hingga akhirnya, Elkan tiba di ambang batasnya.
"Sampai, Honey ... Astaga!"
Elkan meledak dan benar-benar pecah. Pun dengan Mira. Keduanya melebur. Hingga dengan sendirinya bulatan indah milik Mira menyemburkan ASI murni hingga mengenai wajah Elkan. Di tengah-tengah rasa nikmat yang menghantam, Elkan dan Mira kebingungan bagaimana bisa ASI itu keluar dengan sendirinya.
__ADS_1
"Ya Tuhan, kok bisa ...."
Sedikit panik, Elkan meraih tissue di sisi nakas. Bahkan sesudahnya keduanya tertawa. Bingung, kaget, panik, dan takjub dengan apa yang keduanya lakukan bersama. Walau begitu, usai tiga bulan berlalu, malam ini sangat luar biasa untuk Elkan dan juga Mira.