Romansa Pengantin SMA

Romansa Pengantin SMA
Gerimis Menciptakan Romansa


__ADS_3

Jujur, Mira seolah-olah diperebutkan oleh Bagas dan Elkan di saat yang bersamaan. Akan tetapi, Mira sudah tahu bahwa apa yang harus dia lakukan. Dia meminta kepada kedua cowok itu untuk melepaskan tangannya terlebih dahulu.


“Please, lepasin tanganku dulu,” pintanya.


Merasa kali ini ucapan Mira bersungguh-sungguh. Akhirnya baik itu Bagas dan Elkan sama-sama melepaskan tangan Mira. Sementara Mira mengibaskan telapak tangannya yang sedikit sakit karena dipegang erat oleh Bagas dan Elkan. Hingga akhirnya, Mira menatap kedua cowok itu bergantian.


“Jangan membuat keributan di sekolah. Gas, sorry … aku pulang sama dia,” ucap Mira kemudian.


“Hujan, Ra … kalau hujan-hujan gini, kamu bisa masuk angin,” balas Bagas lagi. Seakan hujan menjadi alibi yang kuat untuk Bagas supaya Mira mau dia antar pulang dengan menaiki mobil.


“Tidak usah sok care sama gue, Gas. Tadi gue berangkat sekolah sama El, jadi gue pulang juga sama dia,” balasnya.


Elkan tersenyum miring di sana. Kendati demikian sebenarnya Elkan senang ketika Mira memberikan jawaban bahwa dia ingin pulang dengannya. Rasanya, Elkan merasa bahwa memang Mira menghargai pernikahannya. Walau dilakukan sembunyi-sembunyi, tapi pilihan Mira tetap jatuh kepadanya. Bukan hanya sekarang, tetapi juga saat Mira diajak nonton oleh Jerome. Elkanlah yang dipilih Mira untuk mengantarkannya pulang.


“Sekarang sudah jelas kan, siapa yang dipilih Mira?” Elkan berbicara dengan menatap tajam kepada Bagas di sana.


“Kelihatannya tebakan gue benar deh, Ra … loe mau sama Elkan karena dia anak pengusaha besar kan? Dia tajir dan bisa kasih loe apa pun,” balas Bagas lagi. Seakan cowok itu kembali mengungkit tentang pembicaraannya sebelumnya bahwa Mira mau dengan Elkan karena Elkan adalah anaknya orang kaya.


Kemudian Mira menatap Bagas di sana. “Sebenarnya, kalau loe kembali menjadi Bagas yang dulu, loe punya banyak kelebihan yang membuat cewek-cewek jatuh cinta ke loe, Gas. Kenapa sekarang loe bisa berubah drastis sih Gas? Kenapa, gue sangat menyayangkan dengan perubahan loe yang tidak baik ini,” balas Mira.


“Tidak usah mengungkit yang dulu, Ra,” balas Bagas.

__ADS_1


“Kita dulu berteman, Gas. Bisa berbagi mata pelajaran yang susah dan dicari jawabannya bersama-sama. Sekarang, loe hanya membuat hipotesis sendiri dan menjelekkan gue. Berubahlah, Gas. Loe sebenarnya cowok yang baik,” balas Mira.


Setelah mengatakan semua itu kepada Bagas, Mira kemudian menatap kepada Elkan. “Kita pulang sekarang,” ajaknya.


Elkan pun menganggukkan kepalanya. Kemudian dia berjalan di depan, sementara Mira mengekorinya dari belakang. Begitu di parkiran sepeda motornya, Elkan memberikan helm kepada Mira. Elkan juga tahu di luar hujan dan juga seragam Mira berwarna putih, tentu saja kemeja putih jika basah terkena air, bisa memperlihatkan hal-hal di balik sana.


“Pake jaketku ya, Ra,” ucap Elkan sekarang.


“Gak usah, Kak,” balas Mira. Dia hanya merasa tidak enak dengan Elkan. Selain itu, juga kasihan jika Elkan sampai sakit nanti.


“Kemeja kamu putih, Ra … nanti bisa menerawang ke mana-mana,” balas Elkan.


“Bukan begitu. Usaha seorang yang perhatian supaya tidak tembus pandang kemana-mana,” balas Elkan.


Tidak menunggu lama, Elkan kemudian melepaskan jaketnya dan meminta Mira untuk mengenakannya. Dia bahkan sampai menunggu hingga Mira sudah mengenakan jaket denim miliknya itu. Kemudian, Elkan memberikan helm kepada Mira, masih menunggu untuk Mira mengenakan helm di kepalanya.


“Kacamata kamu dilepas dulu saja, nanti kebasahan loh,” ucap Elkan sekarang.


Menuruti apa yang Elkan ucapkan, Mira pun melepaskan kacamatanya dan kemudian memasukkannya ke dalam tas. Setelah itu, dia menaiki sepeda motor Elkan yang besar dan tinggi itu. Walau masih canggung, tetapi Mira bersikap tenang saja. Ketika motor milik Elkan melewati Bagas, justru Elkan bersikap santai saja. Kedua mata Bagas menatap Mira dan Elkan yang berboncengan. Ada rasa kesal ketika melihat Mira justru memilih Elkan dibandingkan dengan dirinya.


“Pegangan, Ra,” pinta Elkan kali ini.

__ADS_1


“Gini aja, Kak,” balasnya.


Elkan tersenyum tipis. Walau hujan kian rintik-rintik menuju ke deras, tetapi dia justru senang bisa berhujan-hujan ria dengan Mira. Bahkan melihat gadis itu mengenakan jaketnya, entah rasanya senang saja. Setidaknya, sebagai seorang suami Elkan sudah mengutamakan yang terbaik untuk Mira. Membiarkan dirinya sendiri kehujanan, asalkan Mira tidak terlalu basah.


Elkan kemudian meraih tangan Mira di belakang punggungnya dan menaruhnya di pinggangnya. “Pegangan, Ra … memang hujan, dan aku mengurangi kecepatan berkendara. Cuma, kamu harus pegangan ke aku,” ucapnya.


Ya Tuhan, kembali melingkarkan tangannya ke pinggang Elkan membuat jantung Mira berdebar-debar rasanya. Terlebih sekarang Elkan memposisikan bukan hanya satu tangannya, tetapi dua tangannya. Sehingga kedua tangan itu melingkari pinggangnya. Bahkan kini Elkan sengaja menarik gasnya, membuat tubuh Mira seakan jatuh ke depan hingga dada gadis itu mengenai punggung Elkan.


“Kak El,” ucap Mira dengan tampak kaget.


“Pegangan … lebih rapat,” balas Elkan.


Mira hanya bisa menghela nafas dengan kelakuan suaminya itu. Ada kalanya memang Elkan seolah mencari kesempatan di dalam kesempitan. Bahkan kini keduanya lebih rapat, walau hujan turun, pegangan Mira justru membuat Elkan merasa hangat. Dari kaca spion bisa Elkan lihat wajah Mira yang memerah juga tampak begitu bingung di sana.


“Kita halal, Ra … tidak usah mikir aneh-aneh. Anak SMA yang jatuh ke pergaulan bebas juga banyak,” ucap Elkan di sana.


“Aku tidak mau. Aku mau lulus dulu,” balas Mira.


“Iya … iya, pasti. Tinggal empat bulan lagi ujian SMA dan kita lulus kan? Anggap saja kamu sedang pacaran sama aku, suamimu sendiri,” balas Elkan.


Setidaknya biarlah romansa ini akan selalu ada. Walau masih mengenakan seragam putih abu-abu, sebenarnya keduanya adalah pasangan suami dan istri. Berbalut romansa, dan terus menatap ke depan untuk mengejar cita-cita.

__ADS_1


__ADS_2