
Menolak dengan sopan tawaran untuk minum walau hanya bir dengan kadar alkohol yang rendah. Sejujurnya Mira menjadi bangga dengan suaminya itu. Musim dingin yang masih berlangsung memang terasa menusuk sampai ke tulang, rasanya cocok ketika ditemani dengan segelas bir, vodk*, atau minuman lainnya.
"Kamu menolak tadi, Kak?" tanya Mira.
Sekarang mereka masih berjalan bersama. Menuju ke unit mereka lagi. Memilih untuk berjalan kaki karena jarak unit ke kampus yang tidak terlalu jauh.
"Iya, ingat sama pesannya Papa Abraham dulu, jangan pernah mencoba minum. Taat lah sama Papa mertua, daripada aku dipecat nanti jadi mantu," balas Elkan.
Elkan mengatakan semua itu dengan begitu santai. Kendati demikian, Mira merasa bahwa di saat jauh saja suaminya sudah bisa menuruti kemauan Papanya. Menantu idaman dan sosok yang baik bukan?
"Kamu bisa aja? Berarti di Singapura juga tidak pernah nyoba yah?" tanya Mira.
Dengan cepat Elkan menggelengkan kepalanya. "Gak pernah juga sih, Honey. Walau katanya bir itu 0% alkohol, aku juga gak pernah mencobanya. Udah punya minuman favorit aku," balas Elkan.
Mira melirik suaminya itu. "Lemon tea dan Frappuccino?" tanya Mira.
"Ada lagi yang lain," balas Elkan.
"Ada lagi? Emangnya apa?" tanya Mira yang sekarang tampak menjadi ingin tahu.
Elkan pun merangkul Mira, dan berbisik lirih kepada istrinya itu. "Su ... su. Lezat dan bergizi," balasnya.
Dengan cepat Mira mencubit pinggang suaminya itu. Hingga membuat Elkan tertawa dan mengusapi pinggangnya yang usai mendapatkan cubitan dari Mira. Elkan menerka kalau cubitan Mira itu membuat pinggangnya merah.
"Udah ah, Kak. Nyebelin," balas Mira dengan memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
Begitu sudah tiba di unit keduanya memilih untuk berganti pakaian terlebih dahulu. Mira juga menata bukunya kembali, sekaligus menyiapkan untuk jadwal mata kuliah keesokan harinya. Namun, Mira masih kepikiran kenapa suaminya itu kekeh tidak meminum minuman beralkohol.
"Kak, boleh tanya lagi?" tanya Mira yang sekarang menyusul Elkan. Dia menghampiri Elkan yang sekarang duduk di sudut sofa dan tampak serius membaca sesuatu.
"Hm, tanya apa lagi, Honeyku?" tanya Elkan.
"Seriusan aku tanya. Kenapa tadi gak mau minum dan gak pernah minum sebelumnya?" tanya Mira.
Elkan tersenyum. Begitulah Mira, ketika sudah tertarik dan jawaban yang dia dapatkan belum memasarkannya. Maka, Mira akan bertanya lagi.
"Give me a kiss dulu," pinta Elkan dengan menyentuh pipinya. Dia ingin mendapatkan ciuman dulu dari Mira.
"Jawab dulu dong. Kalau jawabannya sesuai barulah aku kasih sun," balas Mira.
"Enggak, aku dulu dapat nasihat gitu dari temenku di Singapura. Dia kristiani, tapi dia pernah berkata begini kalau 'pergaulan yang buruk itu merusak kebiasaan yang baik.' Makanya temenku itu jaga banget hidupnya. Nah, aku juga begitu. Pengen menjaga hidupku. Salah Bergaul dikit aja, kebiasaan baik yang sudah dibangun sejauh ini bisa rusak, Honey. Menjaga hidup itu penting banget. Jangan coba-coba kalau memang kamu tidak terbiasa. Sebaiknya jauhi, dan tidak usah tertarik lagi,"cerita Elkan dengan serius.
Mira mendengarkan perkataan itu. Berarti memang bukan semata-mata, Papa Abraham dulu yang meminta Elkan menjauhi alkohol, dan segala macam pergaulan bebas di Australia. Itu karena Elkan sudah memiliki prinsip sendiri sebenarnya.
"Kalau rokok, Kak?" tanya Mira lagi.
Elkan menggelengkan kepalanya. "Gak pernah juga. Kata Papa bakar-bakar uang itu, Honey. Udah, paling bener memang kamu itu dapat jodoh aku. Aku pria muda berpikiran dewasa yang gak neko-neko," balas Elkan.
Seketika Mira tertawa. Setiap kali Elkan menjadi percaya diri seperti ini terasa menggelikan. Namun, sebenarnya yang Elkan katakan adalah hal yang benar bahwa memang Elkan tidak neko-neko. Masih muda, tapi cukup dewasa. Untuk urusan memberi nafkah pun, Elkan adalah sosok bertanggung jawab juga.
"Amazing," balas Mira.
__ADS_1
"Intinya aku dari kecil udah calon menantu idaman Papa Abraham. Itu fakta, Honey. No debat," balas Elkan.
"Iya, percaya. Pasti Papaku bahagia banget loh, menyerahkan anak perempuannya ke pria yang baik. Terlihat kalau Papaku bahagia," balas Mira.
Elkan kemudian menggenggam satu tangan Mira. Mengusap punggung tangannya perlahan. "Kenakalanku itu paling banter ya sama kamu, Honey. Berani macam-macam ya sama kamu. Di dalam pernikahan. Sebelumnya mana pernah aku sentuh-sentuh kamu. Cintaku itu menjagamu. Setelah menikah dan hidup bersama baru aku hilang kewarasan."
Sekarang Elkan mengakui itu. Jujur dia mengatakan bahwa sekarang dia hilang kewarasannya. Tidak perlu meneguk minuman beralkohol, bersama Mira saja dia bisa menjadi gila dan hilang kewarasannya.
"Ihh, pasti begitu deh," balas Mira.
"Serius. Aku nakal cuma sama kamu. Kenakalanku ya itu, tapi semua aku lakukan di dalam pernikahan. Nah, aku udah cerita semua. Sekarang, mana janjinya? Give me a kiss," balas Elkan.
Rupanya Elkan tidak main-main. Usai memberikan jawaban, dia berkata demikian. Meminta janji yang Mira ucapkan untuk memberinya ciuman.
"Cium kamu, satu kecupan tidak akan cukup, Kak," balas Mira.
"Lebih dari satu kecupan juga boleh kok," balas Elkan.
Mira kemudian menundukkan wajahnya, malu sebenarnya. Untuk menjelma jadi sosok yang begitu percaya diri. Rasanya Mira belum sepercaya diri suaminya.
"Masih sore, Kak," balas Mira.
"Gak apa-apa. Boleh kok. Kamu yang nakal juga boleh," balas Elkan.
Seketika Mira terdiam. Sukar juga untuk mengambil keputusan di saat seperti ini. Walau sudah menikah, tetap saja ada rasa malu.
__ADS_1