
Tidak terasa telah beberapa pekan berlalu, itu artinya usia kehamilan Mira juga sudah bertambah. Sebenarnya, usia kehamilan Mira sendiri baru dalam hitungan belasan minggu. Akan tetapi, perutnya sudah terlihat menyembul. Semua itu tentu karena Mira yang mengandung dua janin di dalam rahimnya. Sehingga, ukuran perutnya menjadi lebih besar. Hari ini menjadi jadwal untuk Mira memeriksakan kandungannya. Sayangnya, ini masih hari kerja, sehingga Mira bertanya terlebih dahulu kepada suaminya apakah bisa mengantarnya ke Rumah Sakit.
"Kak, nanti waktunya periksa Twins tuh ... bisa enggak anterin aku ke Rumah Sakit?" tanya Mira.
"Hari ini yah? Bukan akhir pekan?" tanya Elkan.
"Iya tuh, Kak ... di buku catatan pemeriksaan harus kembali periksa hari ini kok. Kalau Kakak bisa anterin, kalau enggak bisa biar aku dianterin Papa Abraham saja," balas Mira.
Sebagai istri, Mira sendiri juga tidak mengharuskan suaminya harus mengantarkannya. Dia bisa meminta tolong Mama dan Papanya untuk mengantar dan menemani ke Rumah Sakit. Sebab Mira tahu bahwa suaminya benar-benar bekerja keras, mengerjakan Coffee Bay dan Agastya Properti. Membagi waktu, pikiran, dan konsentrasi tentunya tidak mudah.
"Bisa, Honey. Masak istriku hamil dan periksa diantar Papanya. Kan ada suamimu, biar aku yang antar," balas Elkan.
"Beneran bisa?" tanya Mira lagi.
"Iya, bisa kok. Yang penting sore nanti kamu sudah siap yah. Jadi, enggak menunggu lama dan kita bisa ke Rumah Sakit," balas Elkan.
"Siap Daddy ... nanti Mommy mandi dulu kok. Udah cantik, biar bisa langsung cuss ke Rumah Sakit," balas Mira.
Usai mengatakan itu, Mira dengan sendirinya mendekap tubuh suaminya itu sembari Mira menciumi aroma parfum suaminya yang sudah sejak lama menjadi parfum favoritnya itu. Apalagi, suaminya sudah mandi, rapi dan wangi. Mira tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mendekap suaminya terlebih dahulu.
"Kangen?" tanya Elkan.
"Iya, sekarang kangen terus jadinya," balas Mira. Wanita hamil itu menyandarkan wajahnya di punggung suaminya, dengan dua tangan yang melingkari pinggang suaminya itu.
"Bumilku jadi manja sekarang ... sini, peluk dulu," kata Elkan.
Membawa Mira untuk beralih, Elkan segera memeluk Mira dengan begitu eratnya. Keduanya sama-sama memejamkan mata, merasakan kehangatan dari dua pelukan itu. Tangan Elkan juga bergerak perlahan dan mengusapi puncak kepala hingga punggung istrinya.
"Aku seneng kamu peluk kayak gini, Kak ... apalagi kamu sudah rapi, wangi lagi. Biar parfum kamu nempel ke aku," kata Mira dengan mencerukkan wajahnya di dada suaminya.
__ADS_1
Elkan terkekeh, pria itu kemudian menundukkan wajahnya dan mencium kening istrinya itu. "Kamu bisa saja ... padahal tiap bekerja sih aku rapi. Walau kadang kalau ke Warung Kopi yang cuma pake jeans dan Polo shirt saja sih."
Untuk beberapa saat, Mira masih memeluk Elkan, dan kemudian dia mendorong dada Elkan perlahan. "Ya, sudah ... sana Daddy bekerja dulu. Kalau dipeluk begini, bisa-bisa gak boleh kerja nanti," kata Mira.
"Ya sudah, jangan capek-capek di rumah. Santuy saja, Honey. Sore nanti aku jemput," balas Elkan.
Akhirnya, Mira mengantar suaminya itu hingga ke depan. Tak lupa melambaikan tangan dan berdoa semoga perjalanan suaminya sampai kantor bisa selamat. Dia akan beristirahat dan sore nanti akan bersiap menuju ke Rumah Sakit.
***
Sore Harinya ....
Mira sudah bersiap, buku catatan pemeriksaan juga sudah dia bawa. Wanita hamil itu sudah menunggu suaminya pulang dari kantor. Memilih sabar dan tidak meneror Elkan dengan pesan atau panggilan telepon supaya Elkan bisa fokus mengemudikan mobilnya. Beberapa saat menunggu, terdengar suara mobil suaminya, dan Mira segera keluar rumah dan mengunci pintu rumah terlebih dahulu.
"Ke Rumah Sakit sekarang yah," kata Elkan dengan membukakan pintu mobil untuk istrinya.
"Iya, Kak."
"Mom Miranda," panggil perawat.
Seperti biasa, Mira ditimbang terlebih dahulu berat badannya, dan kemudian ditensi tekanan darahnya. Usai itu, Mira dipersilakan untuk menemui Dokter Indri.
"Selamat sore Dokter," sapa Mira dan Elkan bersamaan.
"Ya, selamat sore ... pasangan muda yang satu ini luar biasa," kata Dokter Indri sembari tersenyum. "Bagaimana sehat?" tanya Dokter Indri.
"Sehat selalu, Dokter. Beberapa pekan lalu justru suami yang morning sickness," balas Mira.
"Wah, itu katanya saking cintanya suami kepada istrinya. Jadi, yang mengalami gejala kehamilan justru suaminya," kata Dokter Indri.
__ADS_1
Mira dan Elkan sama-sama tertawa. Mereka sembari menunggu Dokter Indri yang membuka buku catatan pemeriksaan Mira. "Kalau tidak salah, sudah berusia 18 atau 19 minggu yah?"
"Benar Dokter ... kurang lebihnya," balas Mira.
"Baik, saya akan memeriksa Nak Mira dengan USG yuk," kata Dokter Indri.
Menaiki brankar dengan hati-hati, dan kemudian seorang perawat memberikan USG Gell di perut Mira. Dokter Indri pun siap memerika janin dalam perut Mira dengan transducer di tangannya.
"Sebelum ke janinnya, kenaikan berat badan Nak Mira cukup banyak yah ... sudah 10 kilogram," kata Dokter Indri.
"Iya, Dokter. Naik banyak sekali."
"Kalau hamil Twins memang seperti ini, lebih banyak lonjakan berat badannya, dan juga lonjakan selera makan berdampak juga ke kenaikan berat badannya. Dulu, embrio yang ditanam itu cowok dan cewek, dan sekarang kita lihat bersama. Masih sama atau tidak," kata Dokter Indri.
"Kenapa bisa kembar fraternal yah Dokter?" tanya Mira.
"Simpelnya karena embrio yang ditanam memang dua dan susunan kromosomnya beda. Kalau alamiah, kembar raternal dapat menghasilkan jenis kelamin atau penampilan berbeda karena mereka berbagi setengah genom mereka. Sebaliknya, kembar identik (kembar monozigot) dihasilkan dari pembuahan satu sel telur oleh satu sper-ma, dengan sel telur yang dibuahi kemudian membelah menjadi dua. Akibatnya, kembar identik berbagi genom yang sama dan selalu berjenis kelamin sama. Perbedaan antara kembar fraternal dan identik adalah kembar fraternal berasal dari dua telur yang berbeda. Namun, kembar fraternal juga bisa menghasilkan jenis kelamin yang sama."
Dokter Indri pun menjelaskan semuanya mengenai kehamilan kembar dengan jelas dan juga detail kepada Mira dan Elkan. Setelah itu, mulailah Dokter Indri menggerakkan transducer di tangannya.
"Oke, kita mulai pemeriksaannya yah … usia kehamilan sekarang tepat yah. Sudah 19 hingga 20 minggu. Ini artinya sudah setengah jalan dari 40 minggu yang harus dilalui ya. Janin kamu sekarang besarnya kira-kira seukuran lobak dengan berat kurang lebih 150 gram dan panjangnya kira-kira 12 centimeter. Di kehamilan ini, tempurung bayi berkembang dengan baik ya. Tulang rawan dan tempurungnya kian mengeras. Selain itu, plasentanya berkembang pesat. Plasenta janin sudah berkembang pesat dengan ribuan pembuluh darah yang dapat membantu mengoptimalkan fungsinya untuk menyalurkan nutrisi dan oksigen ke janin dan membuat zat sisa janin. Tali pusatnya pun sudah menjadi lebih kuat dan tebal."
Mira mengangggukkan kepalanya ketika Dokter Indri menjelaskan dan menunjukkan bagian dari janinnya yang terlihat di monitor. Bahkan Mira tersenyum melihat dua janin yang sama-sama berada di dalam rahimnya.
"Nah, sekarang kita lihat jenis kelaminnya yah," kata Dokter Indri.
"Karena terbentuk dari dua telur yang berbeda, jadi ... selamat yah ... kalian memiliki Kembar Fraternal. Anak laki-laki memiliki kromosom XY dan anak perempuan memiliki kromosom XX. Jadi, kembar laki-laki dan perempuan terjadi ketika satu sel telur X dibuahi dengan sper-ma X, dan sper-ma Y membuahi sel telur X lainnya. Selamat, boy and girl kali ini," balas Dokter Indri."
Benar ... embrio yang ditaruh memang berbeda sehingga memang terjadi kembar fraternal di dalam kehamilan Mira kali ini. Dengan begitu, Mira dan Elkan sangat bersyukur, dia akan menerima bayi cowok dan bayi cewek saat persalinan nanti. Benar-benar kembar fraternal yang terjadi.
__ADS_1
Selamat Mira dan Elkan!