
Sepulang dari Coffee Bay, Elkan pun memilih untuk menuju ke kediaman Mama Marsha dan Papa Abraham terlebih dahulu. Ada pertanyaan di dalam kepalanya yang sekarang hanya bisa dijawab dan dijelaskan oleh Mama Marsha dan Papa Abraham saja. Bagi Elkan, dia akan berusaha tidak terpengaruh dengan apa yang baru saja Bagas katakan. Akan tetapi, Elkan tetap harus berjaga-jaga. Terutama dia akan menjadi istri dan buah hatinya.
Begitu sudah tiba di rumah mertuanya seorang diri, barulah Elkan akan bertanya dengan baik-baik. Cemas tentu saja, tapi dia harus terlihat santai dan tidak membuat panik mertuanya.
"Assalamualaikum, Mama dan Papa," sapa Elkan begitu memasuki kediaman mertuanya.
"Waalaikumsalam, El ... sama siapa?" tanya Mama Marsha.
"Sendiri saja, Ma ... dari kedai terus ke sini," balas Elkan.
"Sini, masuk dulu ... kenapa, tumben dari Coffee Bay langsung ke sini," balas Mama Marsha.
Elkan hanya tersenyum, setelah itu dia kemudian duduk di ruang tamu. Sudah ada Mama Marsha dan Papa Abraham juga. Agaknya Papa Abraham tahu ada masalah yang mungkin saja cukup serius. Sehinggga, sekarang, Papa Abraham itu menanyai menantunya itu.
"Kenapa, El? Pasti ada sesuatu yang serius yah?" tanya Papa Abraham.
"Mama dan Papa, El ke sini untuk bertanya sesuatu. Mungkin terkait dengan masa lalu Mama atau Papa dulu. Maafkan, El sebelumnya ... siapakah Lista itu, Mama dan Papa?" tanya Elkan.
Sekarang Mama Marsha tampak cukup kaget. Lista tentunya adalah orang yang sempat dia ketahui. Kenal dekat tidak, tapi itu memang terkait denagn masa lalu dirinya dulu.
Sangat lama, bahkan lebih dari dua dekade. Akan tetapi, masa laku kembali datang. Tentu membuat Mama Marsha menunjukkan raut wajah yang berbeda.
"Berkaitan dengan masa lalu Mama dulu, El," jawab Mama Marsha.
__ADS_1
Elkan sekarang sudah mulai bisa berpikir kenapa Bagas berkata demikian. Rupanya itu memang ada sangkut pautnya dengan Mama mertuanya.
"Dia siapa, Ma?" tanya Elkan.
"Kalau berhubungan secara langsung tidak, El. Hanya saja, dulu jauh sebelum Mama menikah dengan Papa Abraham, sebenarnya Mama pernah menikah dengan seorang pria yang berprofesi sebagai seorang aktor. Dia bernama Melvin Andrian. Aktor papan atas pada zamannya. Kehidupan rumah tangga yang penuh intrik. Hingga terjadi perselingkuhan. Dia berselingkuh dengan Lista, sementara Mama juga sama berdosanya, El. Mama bertemu dengan mantan pacar Mama yaitu Papa kamu."
Dari cerita ini terdengar memang kisah masa lalu yang pelik. Elkan juga tidak menyangka masa lalu mertuanya seperti itu. Akan tetapi, Elkan tidak mau menghakimi. Dia memilih untuk memandang masa lalu sebagai pembelajaran untuk masa yang akan datang.
"Apakah Lista itu menikah dengan mantan suaminya Mama yang bernama Melvin itu? Di mana Om Melvin sekarang?" tanya Elkan lagi.
Mama Marsha menggelengkan kepalanya. "Seingat Mama tidak ada pernikahan di antara keduanya. Sementara Om Melvin sudah tiada, Elkan. Dia meninggal kala menjalani hukuman di penjara."
"Innaliallahi," kata Elkan lirih.
Elkan mencoba mengurai semuanya. Tidak mengira juga ada hubungan yang sangat pelik di masa lalu. Akan tetapi, Elkan percaya bahwa semua orang memiliki masa lalu. Sama seperti Mama dan Papanya yang pernah merasakan asam dan pahitnya kehidupan.
"Darimana kamu tahu sosok Lista, El?" tanya Papa Abraham.
"Kalau Tante Lista dan mendiang Om Melvin tidak menikah, apakah hubungan keduanya terlampau jauh Ma? Maaf, maksud Elkan mengarah ke hubungan badan?" tanya Elkan dengan sangat hati-hati.
Mama Marsha pada akhirnya menganggukkan kepalanya. "Ya, El. Entah berapa lama hubungan mereka Mama tidak mau. Sekadar mencari kepuasan di waktu senggang atau bagaimana. Yang pasti Mama memergoki kala Mama mengurus perceraian dengan almarhum."
Elkan merasa iba dengan masa lalu Mama mertuanya. Dia merasa kasihan. Kala mengurus perceraian, justru mendiang mantan suaminya jatuh dalam perselingkuhan. Yah, walaupun untuk Elkan sendiri merasa perselingkuhan adalah tindakan yang tidak dibenarkan.
__ADS_1
"Jika begitu, sehingga mungkin saja Tante Lista dan mendiang Om Melvin memiliki anak, Ma," kata Elkan sekarang.
"Benarkah? Mama tidak tahu, El. Sejak kepergian Om Melvin, kami tidak pernah bertemu dengan Tante Lista," balas Mama Marsha.
"Elkan memiliki teman SMA dan dia berkata adalah putra dari Tante Lista. Jadi, mungkin saja dia adalah putranya mendiang Om Melvin, Ma?"
Kaget? Ya, tentu saja. Akan tetapi, sudah lebih dari dua dekade tidak pernah ada kabar dari Lista. Toh, kalau Lista datang dan mengatakan bahwa dia hamil mendiang Melvin Andrian, pastilah keluarga Adrian akan memberikan santunan yang layak. Terlebih dulu masih ada Mama Saraswati.
"Siapa namanya, El?" tanya Mama Marsha.
"Namanya Bagas, Ma. Dulu teman SMA Elkan dan Mira juga. Barusan tadi, Bagas mengatakan bahwa dia adalah putranya Tante Lista."
"Kalau dia adalah putranya Tante Lista dan Om Melvin, jadi dia keponakan kami. Sepupu kamu juga, El," balas Papa Abraham.
Setelah mengetahui hubungan smuanya Elkan harus berhati-hati. Jika benar begitu adanya, Bagas masih sepupu Mira. Jadi, kalau ingin menghancurkan Bagas, Elkan pasti memilih tindakan yang tidak berisiko. Tidak mungkin menciderai lawan yang sejatinya adalah sepupu sendiri.
"Dia kenapa, El?" tanya Mama Marsha.
"Menabuh genderang perang, Ma. Namun, Mama tenang saja, Elkan akan berusaha keras. Jika hanya sekadar menggoyahkan bisnis, semua bisnis sudah berjalan lama dan didirikan di atas kejujuran dan kerja keras. Hal yang instan kadang kala tidak akan bisa merenggut kerja keras selama puluhan tahun, Ma."
"Tetap waspada dan hati-hati, El. Iya kalau yang diincar adalah bisnis, bagaimana kalau istri dan anakmu?" tanya Papa Abraham.
Elkan kemudian menganggukkan kepalanya. "Papa selalu bisa mempercayai Elkan, Pa. Apa pun akan Elkan lakukan untuk Mira, Aryan, dan Aaliya. Jangan khawatir, Pa. Sampai titik darah penghabisan, Elkan akan selalu memperjuangkan Mira dan anak-anak," balas Elkan.
__ADS_1
Papa Abraham menganggukkan kepalanya. Dia sangat percaya dengan Elkan. Akan tetapi, Papa Abraham tetap mengingatkan Elkan untuk berhati-hati. Kadang musuh itu lebih licik, berkata mengincar A, tapi bisa saja yang diincar sebenarnya adalah hal yang lainnya. Untuk itu, Elkan tidak boleh lengah. Dia harus waspada dan selalu berhati-hati. Sekarang ada ancaman, sehingga membuat mereka tidak boleh lengah sama sekali.