Romansa Pengantin SMA

Romansa Pengantin SMA
Pembicaraan Serius


__ADS_3

"Mira ..., Elkan, sudah tidur?"


Rupanya yang sekarang mengetuk pintu kamar adalah Papa Abraham. Jika siang tadi, Papa Abraham mengetuk kaca jendela mobil, sekarang Papa Abraham yang datang dan mengetuk pintu kamar. Kendati demikian, Mira berusaha bersikap biasa saja. Setidaknya Papanya dulu juga pernah muda, pasti bisa memahami anaknya.


"Pa," sahut Mira dengan membukakan pintu.


"Ah, Papa pikir kalian sudah tidur. Ada Mama Sara dan Papa Belva di luar. Kalian temui dulu sebentar yah," ucap Papa Abraham.


Mira tampak bingung. Sekarang sudah jam 21.00. Tidak biasanya juga, Mama Sara dan Papa Belva berkunjung ke rumahnya ketika hari sudah malam begini. Oleh karena itu, Mira dan Elkan pun segera keluar dari kamar bersama-sama. Benar, di ruang tamu sudah berkumpul Mama Sara dan Papa Belva.


"Kalian belum tidur? Atau kami yang mengganggu kalian berdua?" tanya Mama Sara.


"Belum tidur kok, Ma," balas Mira.


Elkan pun turut menganggukkan kepalanya. Sekarang di ruang tamu, ada Mira dan Elkan, Mama Sara dan Papa Belva, serta Mama Marsha dan Papa Abraham. Semuanya berkumpul di ruang keluarga keluarga Narawangsa. Menurut pendapat Elkan dan Mira, jika orang tua sudah berkumpul begini sih biasanya akan ada pembicaraan yang serius.


"Sorry yah, mengganggu waktu kalian berdua. Namun, Mama dan Papa ingin berbicara sesuatu ... mengingat kalian sudah melaksanakan UAN, dan tidak lama lagi kelulusan dan kalian akan terbang ke Australia. Tidak dipungkiri bahwa ada gejolak cinta anak-anak muda seperti kalian. Sebelumnya, ada wacana dari Papa Bram, bahwa Mira memiliki impian dan cita-cita yang tinggi. Jadi, bagaimana dengan kalian berdua?"


Dengan lugas dan tegas Mama Sara menjelaskan semuanya. Anak-anaknya masih belia, tapi tak dipungkiri bahwa keduanya juga pasti memiliki sisi gejolak cinta anak muda. Sehingga, lebih baik orang tua mendampingi anak untuk menata masa depan dan juga melihat sebuah hubungan pernikahan.


"Mama, begini ... Mira masih ingin kuliah dan menggapai impian. Namun, bukankah ada cara untuk mencegah kehamilan?" tanyanya.

__ADS_1


"Ada, kamu ingin menunda dulu jadinya?" tanya Mama Sara lagi.


"Iya," jawab Mira.


"Kamu sendiri bagaimana, El?" Sekarang giliran Mama Marsha yang menanyai Elkan. Rasanya kurang jika hanya menanyai satu anak saja dan yang lain tidak ditanyai. Oleh karena itu, Mama Marsha yang menanyai Elkan.


"Elkan sama, Ma ... lagipula, untuk memiliki keturunan dibutuhkan persiapan yang matang. Persiapan fisik, mental, dan finansial. Secara usia dan penghasilan, Elkan merasa mampu. Namun, secara mental, Elkan belum siap. Elkan baru memasuki usia 20 tahun. Masih terlalu dini menjadi seorang Papa," jawabnya.


Jawaban yang diberikan Elkan pun terdengar begitu logis. Dia merasa sudah siap secara usia, secara finansial juga sudah siap. Namun, secara mental Elkan belum siap. Usia 20 tahun terlalu dini untuk berubah peran menjadi seorang Papa.


Papa Abraham dan Papa Belva yang mendengarkan jawaban Elkan tampak menganggukkan kepala. Namun, di dalam hatinya, mereka bangga dengan Elkan. Sebagai anak muda, tapi Elkan juga memperhitungkan fisiologis, psikis, dan finansial. Tidak gegabah dalam mengambil keputusan.


"Ya, Pa ... menunda memiliki anak bukan berarti menunda yang itu kan Pa?" tanya Elkan dengan senyam-senyum.


Sungguh, karakter Elkan yang senyam-senyum ini berbanding terbalik dengan Papanya yang pembawaannya tenang dan cool. Sementara Elkan terkesan santai, ramah, dan banyak tersenyum. Padahal Kakaknya saja, memiliki karakter yang 11-12 dengan Papa Belva. Sementara Elkan justru berbeda.


"Kamu ini," balas Papa Belva dengan melirik ke Elkan.


"Kan Elkan jujur," balasnya.


"Nah, sekarang kita lanjutkan diskusi kita. Kalian bisa menahan berapa lama lagi? Toh, UAN baru selesai tadi. Apakah ingin langsung ceremoni?" tanya Mama Sara.

__ADS_1


"Kenapa Mama bertanya begitu?" balas Elkan.


"Itu karena sekarang agaknya kamu sudah makin seneng menginap di sini, El. Tidak ingin pisah dengan Mira. Sebelumnya semua berlanjut, tanpa ada pencegahan. Lebih baik, dipetakan dulu apa yang ingin kalian capai dan lakukan," balas Papa Belva dengan tegas.


"Usai lulus," jawab Mira.


"Di Australia," jawab Elkan.


Rupanya baik Mira dan Elkan memiliki jawaban sendiri-sendiri. Setitik senyuman terbit di wajah para orang tua yang ada di sana.


"Jadi mau usai kelulusan atau di Australia?" tanya Mama Sara lagi.


"Di Australia saja, Ma," balas Elkan.


"Bagaimana Mira?" tanya Mama Sara sekarang menatap kepada Mira.


"Mira ikut Kak El saja, Ma. Namun, sebelum ke Australia, temani Mira untuk memasang kontrasepsi ya, Ma," balasnya.


"Baiklah ... jadi, kita membuat keputusan bersama. Saling menjaga. Elkan juga jangan macam-macam. Mama dan Papa bukan ikut camput. Namun, kalian masih muda banget, masih perlu dibimbing. Bagaimana pun akhirnya, rumah tangga ini yang menjalani kalian berdua," ucap Mama Sara.


Elkan dan Mira sama-sama menganggukkan kepalanya. Mereka sangat tahu bahwa orang tua masih memberi batasan juga karena mereka masih muda. Masih perlu dibimbing. Pastilah ketika mereka semakin dewasa, terbiasa melakukan problem solving atau pemecahan masalah, pastilah orang tua perlahan mulai lepas tangan. Mempercayakan sepenuhnya biduk rumah tangga kepada Elkan dan Mira.

__ADS_1


__ADS_2