
Sydney memiliki iklim sub tropis basah. Ketika siang matahari tidak begitu terik, dan malam harinya terasa sejuk. Terlebih sekarang, suhu udara di Sydney adalah 22°C. Kondisi ini tentu lebih dingin dibandingkan di Jakarta yang lebih panas.
Mira tampak duduk di balkon apartemennya, menatap langit kota Sydney yang sekarang sudah menjadi gelap. Dia tidak mengira, jika Elkan tiba-tiba memeluknya dari belakang. Tentu saja, Mira menjadi terkesiap jadinya.
"Hei, bengong aja sih, Honey," panggil Elkan dengan memeluk Mira.
"Ya ampun, Kak ... ngagetin banget sih. Tiba-tiba nongol dan main peluk kayak gini," balas Mira dengan memegangi dadanya yang memang terasa kaget.
Elkan tersenyum. Kemudian mengambil tempat duduk di sisi Mira. "Enggak dingin? Udaranya seperti di Bogor yah?" tanya Elkan lagi.
"Anginnya lebih kencang ini, Kak ... padahalnya tadi cukup terik yah," balas Mira.
"Benar ... sub tropis basah ya seperti ini, Honey. Nanti Oktober itu sudah mulai musim dingin dan salju di Sydney dan beberapa wilayah Australia," balas Elkan.
Mira mendengarkan penjelasan dari Elkan itu. Sekalian mengetahui musim di negara tempat mereka tinggal. Setelahnya, Elkan mengajak Mira untuk masuk ke dalam karena takut jika Mira terkena flu karena angin semakin dingin.
"Bosen enggak, Honey?" tanya Elkan lagi.
"Belum, Kak ... mungkin karena baru hari pertama yah. Enggak tahu nanti kalau sudah terlewati beberapa hari," balas Mira.
"Mau nonton TV enggak?" tanya Elkan.
"Boleh deh ... daripada tidak ada hiburan," balas Mira.
Menurut Mira itu adalah ide yang bagus. Daripada hanya sekadar duduk bersama. Menurut Mira itu lebih baik. TV sudah menyala, dan saluran di Australia tentu tidak sama seperti di Indonesia. Terutama memang sebenarnya Mira dan Elkan jarang menonton televisi ketika berada di rumah.
"Duh, filmnya kok dewasa semua," ucap Elkan dengan resah. Memang beberapa series di sana berisikan adegan dewasa. Tentu ada perbedaan kultur juga dengan Indonesia. Oleh karena itu, memang Mira juga malu karenanya.
"Matikan saja ya, Kak," pintanya.
Elkan tersenyum, dia akhirnya memilih untuk mematikan televisi. Mungkin juga Mira yang belum terbiasa, seharian terkurung dalam satu kamar dengan Elkan. Terlebih, kadang aktivitas pagi tadi masih berseliweran di kepalanya. Membuat Mira juga kadang bingung harus melakukan apa.
Tidak akan membiarkan suasana berubah menjadi krik ... krik ..., Elkan segera merangkul Mira. Dia mendekatkan wajahnya perlahan, dan mengecup pipi Mira.
__ADS_1
Cup!
Ada kedikan samar di bahu Mira. Kaget juga dengan Elkan yang tiba-tiba merangkul dan sekarang menciumnya. Kendati demikian, seolah tidak ada penolakan dari Mira. Itu juga karena sejak Mira menikah ketika masih SMA, Mama Marsha pernah memberitahukan kepada Mira bahwa ketika sudah sah dalam pernikahan suami dan istri sebaiknya memenuhi kebutuhan secara lahir dan batin. Sebab, hal ini merupakan kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan, juga akan bernilai ibadah dan bila dilakukan dengan niat yang baik, ada nilai pahalanya.
Walau, pada akhirnya nanti tetap akan bisa saling berkomunikasi. Misalnya jika salah satu kecapekan atau ada masa tertentu tidak bisa disentuh.
"Mau lagi boleh?" tanya Elkan sekarang.
"Kak, kalau masih sakit bagaimana?"
"Kan, aku tadi sudah menjelaskan kalau nanti lama-lama akan terbiasa."
Tidak menunggu waktu lama, Elkan kian mendekat. Dia memangkas jarak wajahnya. Sikap tidak segan kembali ditunjukkan oleh Elkan sekarang. Dia membelai sesaat wajah Mira, kemudian mulai kian memangkas jarak kedua wajah yang tidak seberapa itu. Refleks, Mira sudah memejamkan matanya. Dalam mata yang sudah terpejam, bisa Mira rasakan kecupan yang mendarat di bibir Mira. Kecupan yang lembut, dan hangat. Sensorik di bibirnya bisa merasakan semuanya itu. Ditambah dengan pagutan bibir Elkan di bibirnya, membuat Mira menahan nafas. Itu adalah rasa hangat hangat dan sedikit basah. Ada dorongan untuk bisa membalas ciuman Elkan, tapi Mira hanya bisa merespons sebisanya saja.
Namun, Elkan tidak akan berhenti. Jiwa mudanya kian menggebu. Ada dorongan dari lidahnya yang menelusup masuk dan mulai mengeksplorasi rongga mulut Mira yang hangat. Saling mengecup, saling mencium, memagut, dan memberikan usapan yang hangat dengan lidahnya. Dalam posisi duduk saja, Mira menjadi gelisah. Termasuk dengan sentuhan Elkan di lengannya, beralih ke punggung, hingga ke tengkuknya. Semuanya adalah mengirimkan sinyal yang menggetarkan dirinya.
Di sofa, seolah Elkan ingin melakukan permainan pembuka. Dia sedikit mendorong tubuh Mira, membuat istrinya itu berbaring di sofa, dan dia segera menindihnya. Dengan posisi yang sangat intim, ciuman Elkan lebih memburu. Bahkan kian menjadi-jadi. Dari bibir, hingga akhirnya Elkan kini memberikan kecupan dan meninggalkan jejak basah di leher Mira. Elkan masih bisa melihat jejak merah yang tadi pagi dia tinggalkan di leher Mira. Biarkan itu menjadi tanda cinta untuknya.
Dari sana, Elkan menarik ke atas kaos yang dikenakan Mira. Ada napas yang tertahan di dada Mira. Terlebih dengan kondisi dirinya sekarang, masih malu. Namun, ingin berkata malu juga Elkan tidak akan berhenti.
Menurut. Mira membawa kedua tangannya memegangi ujung kaos yang dikenakan Elkan, kemudian menariknya ke atas. Langsung bisa Mira lihat tubuh suaminya yang shirtless. Walau tidak six pack, tapi tubuh Elkan pun bagus. Dadanya bidang, berkulit putih bersih, dan juga dengan beberapa otot liat di sana.
Elkan tidak malu, dia justru tersenyum. Lantas pria muda itu berdiri, dia menggendong Mira layaknya koala, mempertahankan Mira, langkah berjalan menuju arah yang pasti dan itu adalah tempat tidur. Perlahan-lahan, Elkan menaruh Mira di tengah ranjang, sembari tangannya menyusup ke balik punggungnya dan kemudian melepaskan pengait besi di sana. Kembali menatap dan begitu terpesona dengan bulatan indah milik Mira. Tidak menunggu lama, dia membawa tangannya meraba dan memberikan remasan di bulatan indah itu, meremasnya memutar hingga akhirnya Elkan menunduk dan mendaratkan bibirnya di sana. Mencumbunya, menghisapnya. Bahkan ketika mulut dan bibirnya mencumbu dan memberikan hisapan, bahkan ketika satu bulatan indah dia buai dengan bibir dan mulutnya, satu bulatan indah yang lain akan dia buai dengan remasan dan pilinan. Hingga Mira benar-benar melenguh dan bergerak gelisah.
"Kak Elkan ...."
Suara Mira terdengar dalam dan berpadu dengan nafas yang terengah-engah. Sungguh luar biasa indah. Sekadar godaan di bulatan indahnya saja, Mira sudah melayang. Benarkah itu karena begitu pintarnya Elkan? Yang pasti sekarang, Mira kehilangan kewarasannya.
Ketika Mira sudah melayang, Elkan melepas celananya sendiri. Tak ragu menunjukkan pusakanya yang sudah berdiri dan menegang. Sekarang, Elkan menuntun tangan Mira untuk menyentuh pusakanya. Memperkenalkan pusaka ajaib itu kepada Mira, sebagai sang pemiliknya.
"Kak, ini ...."
Elkan menganggukkan kepala. "Ya, punya kamu," balasnya.
__ADS_1
Ya Tuhan, tangan Mira bergetar. Baru sekarang dia menyentuh organ yang sangat vital untuk pria. Hangat di genggamannya. Dia takut, tapi bingung.
"Mau kenalan?" tanya Elkan lagi.
"Kenalan gimana?"
Elkan tersenyum. "Kamu polos banget sih, Honey. Cium dan kulum," jawabnya.
Mira membayangkan saja bergidik ngeri tidak mungkin mengulum pusaka itu. Namun, Elkan sudah membimbing Mira untuk sedikit duduk.
"Kenalan saja," ucapnya.
Ragu-ragu, Mira mengecup ujungnya perlahan. Kemudian benar-benar mengulumnya. Elkan merasakan sensasi yang sangat dahsyat dan dia merasakan sengatan luar biasa. Mira ternyata mau berkenalan. Walau sebentar tak jadi masalah untuk Elkan.
Hingga akhirnya, dia merasakan cukup. "Sudah, cukup, Honey," ucapnya.
Elkan tersenyum dan kembali membaringkan Mira, sembari dia melepaskan sisa busana di tubuh Mira. Lagi Mira meminta Elkan untuk menyelimuti dirinya. Masih merasa malu.
Baiklah. Ketika Selimut sudah menutupi keduanya, Elkan menyusup ke bawah. Dia menyapa lembah di bawah sana dengan sapaan yang hangat dan basah. Tak ragu membuat Mira mende-sah panjang dalam kenikmatan. Memang dalam kondisi seolah bersembunyi di balik selimut, Elkan tak bisa melihat ekspresi Mira. Padahal, dia ingin melihat Mira yang cantik dengan mata terpejam, wajah yang memerah, dengan suaranya yang lirih manja.
Merasa Mira sudah menegang dan basah, mulailah Elkan mengubah posisinya. Dia kembali menampakkan wajahnya dan menyatukan dirinya. Hentakan disertai dorongan yang lebih lembut. Terasa licin dan mulus kala memasuki Mira. Elkan menggeram.
"Oh, astaga ..., kamu nikmat, Honey!"
Pengalaman kedua dan sensasinya masih sama. Membuat Elkan gila. Sapaan yang erat, hangat, bahkan cengkeraman yang sangat kuat. Pria itu kemudian melakukan gerakan seduktif maju dan maju. Menghentak dan menusuk. Melakukan dorongan licin. Sekarang bisa Elkan tatap wajah Mira yang begitu cantik. Bibirnya yang sedikit terbuka dan wajahnya memerah.
"Kamu cantik banget, Honey!"
Fixed, di mata Elkan kecantikan Mira justru bertambah berkali-kali lipat. Walau masih malu-malu, Elkan memaklumi usia muda dan pengalaman kedua. Masih belum terbiasa. Sementara Mira justru refleks mengalungkan kakinya di pinggang Elkan. Justru dalam posisi ini membuat Elkan kian leluasa untuk memasuki dengan sempurna. Tanpa celah.
"Kak Elkan ... aku," ucap Mira dengan terengah-engah.
"Sama, Honey. Aku ... juga ...."
__ADS_1
Kian merapatkan diri, tenaga Elkan terkuras untuk menghentak begitu dalam. Peluhnya bercucuran, dan sampai pada Elkan tercurah habis. Memenuhi cawan surgawi Mira untuk kali kedua. Sangat indah.
Beratapkan langit kota Sydney dan juga perwujudan cinta yang begitu padu, Elkan dan Mira mereguk kembali madu pernikahannya. Walau usia masih muda, gejolak juga kadang memuncak. Setidaknya ada satu ikatan yang bernama pernikahan yang menghalalkan perbuatannya sekarang. Bulan madu yang sesungguhnya.