
Ketika Elkan dan Mira memutuskan untuk pulang, keluar dari auditorium itu, rupanya Rosaline pun ikut keluar. Gadis itu mengejar Elkan. Sebab, Rosaline merasa tidak puas ketika Elkan terus-menerus menolaknya.
"El, Elkan ... tunggu dulu," ucap Rosaline sembari mempercepat langkah kakinya.
Di saat yang bersamaan, Elkan memilih terus menggandeng tangan Mira dan berjalan lebih cepat. Jujur saja, Elkan jengah dengan Rosaline yang terus-menerus mengejarnya. Walau Elkan sudah berkata bahwa dirinya sudah memiliki Mira dan sudah menikah, tetapi Rosaline selalu saja mengejarnya.
Merasa ada gadis yang mengejar, di depan ada seorang pemuda dengan rambutnya berwarna pirang yang menghadang Elkan sekarang. Dengan cepat, pemuda itu menghentikan Elkan.
"Hei, apakah kamu tidak mendengar bahwa gadis itu mengejar dan memanggilmu?" tanya pemuda itu.
"Aku tahu, tapi aku tidak mau berhubungan dengannya," balas Elkan.
Pemuda berambut pirang yang kala itu berbicara dengan bahasa Inggris kemudian kembali berbicara kepada Elkan. "Setidaknya dengarkan dia dulu, dengarkan yang dia katakan," ucapnya.
Lantaran di hentikan oleh pemuda berambut pirang itu, kemudian Rosaline pun berhasil untuk menemui Elkan. Gadis itu terengah-engah karena mengejar Elkan. Kemudian, Rosaline berbicara kepada Elkan. Mencoba menghiraukan orang lain yang ada di sana.
"Elkan, kamu sangat jahat kepadaku. Bahkan kamu tidak mau mendengarkan aku. Kamu melupakan semua hubungan kita di Singapura dulu," ucap Rosaline dengan menangis.
"Aku tidak memiliki hubungan apa-apa denganmu. We just a Friend," balas Elkan.
Rosaline kemudian menggelengkan kepalanya. "Tidak, di Singapura dulu. Kamu pernah berkata kalau kamu suka kepadaku."
Di sana Mira memiliki diam dan meraba suasananya seperti apa. Lalu, dia mendengarkan dulu ucapan Rosaline itu. Berusaha berada yang tepat.
"Aku suka teman. Friend not Girl Friend," balas Elkan.
Mendengar penolakan Elkan, Rosaline kembali menangis. Kemudian dia menunjukkan foto-foto di Junior high school kepada Elkan. Foto yang memperlihatkan keakraban mereka dulu.
__ADS_1
"Apa semua ini tidak menjadi bukti kalau kamu peduli kepadaku?" balas Rosaline.
Mira dan pemuda pirang itu melihat juga beberapa lembar foto itu. Memang Elkan dan Rosaline tampak dekat satu sama lain. Mira masih berusaha tenang. Mendengarkan penjelasan Elkan dulu. Terlebih dia berjanji, tidak akan lari. Dia pernah berjanji akan selalu berdiri di sisi Elkan.
"Ayolah, Bro. Dari foto ini bukankah hubungan kalian istimewa?" ucap pemuda berambut pirang itu.
"Please, diamlah. Jangan berusaha memprovokasi," balas Elkan.
"Kamu berlebihan. Namun, semua jelas dari foto ini bukan?" balas pemuda itu lagi.
Mira yang lama diam kemudian berusaha menengahi, terlebih dia tidak suka dengan sikap pemuda asing yang ikut campur itu.
"Ini urusan mereka, sebaiknya kamu tidak ikut campur. Biarkan mereka sama-sama memberikan penjelasan," ucap Mira dengan tegas.
Akhirnya pemuda berambut pirang itu menganggukkan kepalanya. Kemudian Elkan mulai memberikan penjelasan. Walau dia kesal sekali dengan Rosaline.
Namun, Rosaline menggelengkan kepalanya. Seakan dia menolak setiap penjelasan Elkan. Baginya, Elkan dulu adalah sosok yang penting dan berarti baginya.
"Itu gak benar, Elkan. Itu gak benar," teriak Rosaline.
"Bangunlah dari tidurmu, Line. Aku sudah memiliki Mira. I married with her, because I love her," balas Elkan lagi.
Akhirnya pemuda Bule itu kembali bertanya kepada Elkan, "Kamu sudah menikah?" tanyanya.
"Ya, aku sudah menikah. Dia adalah istriku," jawab Elkan.
Namun, di satu sisi Rosaline menggelengkan kepalanya. Tidak bisa menerima dengan apa yang disampaikan Elkan.
__ADS_1
"Itu gak benar, El. Aku tahu, itu tidak benar. Kalau aku tidak bisa memilikimu, aku akan menghabisi hidupku."
Tanpa berpikir panjang, Rosaline mengeluarkan cutter dari dalam tasnya. Dia mengangkat cutter yang pastinya tajam itu, dengan menatap Elkan.
"Aku menyukaimu, Elkan. Sangat menyukaimu. Aku tidak rela jika ada wanita lain yang menyukaimu, apalagi menikah denganmu. Kamu milikku, Elkan. Kamu fantasiku," teriak Rosaline.
Melihat pisau tajam di sana tentu saja semuanya menjadi panik. Terutama Elkan, bagaimana pun dia tidak mau Rosaline berbuat bodoh dengan menghabisi dirinya sendiri. Bagi Elkan, Rosaline sudah gila sekarang.
"Buang pisau itu, Line," teriak Elkan.
"Jangan menjadi bodoh," teriak pemuda bule itu kepada Rosaline.
Namun, Rosaline menggelengkan kepalanya. "Gak, gak Elkan. Aku sudah gila karena kamu. Kamu selalu mengacuhkan aku. Kamu lebih memilih dia dibandingkan aku. Kamu jahat, Elkan," balas Rosaline dengan terisak-isak.
Namun hanya berselang beberapa menit, isakan Rosaline berganti dengan tawa keras. Sungguh, dia tidak seperti Rosaline. Mendengar tawa itu saja Mira sampai bergidik ngeri. Kendati demikian, dia juga harus was-was.
Pisau tajam kemudian diarahkan kepada Elkan. "Aku tidak bodoh dan hanya akan menghabisi diriku sendiri. Aku akan menghabisi kamu, Elkan. Kalau aku tidak bisa memilikimu, maka kamu juga tidak boleh dimiliki oleh dia."
Sekarang, makin was-was lah Elkan. Begitu juga dengan Mira. Arah serangan sudah berubah. Tidak kepada Rosaline sendiri, tapi kepada Elkan.
Rosaline mengusap air matanya, kemudian dia sedikit berlari dan menghunuskan pisau cutter yang tajam itu ke arah perut Elkan.
"Elkan ...."
Suara teriakan Rosaline menggema dan dia merasa puas bisa menyingkirkan Elkan. Namun, sepersekian detik arah hunusan pisau berubah dengan begitu cepat.
Jleb!
__ADS_1
Pisau berhasil melukai perut, dan ada darah yang mulai tampak keluar. Hening. Dingin. Semuanya bingung dan kacau, karena kejadian malam itu.