
Menyuruh Elkan untuk makan di rumahnya, rupanya Papa Abraham benar-benar menelpon ke rumah keluarga Agastya dan meminta izin kepada Papa Belva dengan memberitahukan bahwa Elkan ada di rumahnya sekarang dan sedikit pulang terlambat karena Elkan akan makan dulu di rumahnya. Tentu saja, Papa Belva yang menerima telepon dari Besannya itu justru terkekeh geli karenanya. Kendati demikian, apa yang disampaikan Papa Abraham tetap diterima baik oleh Papa Belva.
"Besan, anak cowok di sini dulu yah ... aku minta makan malam di sini dulu," ucap Papa Abraham melalui sambungan telepon kepada Papa Belva.
"Oh, Elkan di sana yah? Sudah pulang dari malam mingguan?" tanya Papa Abraham.
"Iya, baru saja sampai ... tadi mereka hanya nonton, dan sekarang baru pulang. Tadi kena macet di jalan. Boleh kan Besan?" tanya Papa Abraham.
"Tentu ... boleh saja, Elkan kan sudah menjadi anakmu juga. Aman," balas Papa Belva.
Setelah mendapatkan izin dari Papa Belva, kemudian Papa Abraham mengajak Elkan dan Mira menuju ke meja makan. Bersamaan dengan Mama Marsha yang baru saja turun dari tangga. Tampak Mama Marsha tersenyum dan bingung juga ada Elkan di meja makan.
"Malam Ma," sapa Elkan dengan berdiri dan segera bersalam takzim Mama mertuanya.
"Malam El, tumben kamu?" tanya Mama Marsha.
Elkan pun menganggukkan kepalanya. "Habis nganterin Mira, Ma ... sekarang diminta Papa untuk makan malam di sini, Ma," balas Elkan.
"Iya El ... tunggu yah, Mama siapin buat kalian," balas Mama Marsha.
__ADS_1
Akhirnya, Mira turut berdiri dan membantu Mamanya untuk menyiapkan makan malam. Bahkan Mira membuatkan minuman untuk Elkan. Seingatnya, Elkan menyukai Lemon Tea dingin. Oleh karena itu, Mira membuatkan sendiri Lemon Tea untuk Elkan.
"Minumnya Kak," ucap Mira.
"Thanks, Ra," balas Elkan.
Setelahnya, Papa Abraham dan Mama Marsha bergabung di meja makan. Akan tetapi, pasangan paruh baya itu hanya sekadar menemani minum teh saja. Sementara Mira dan Elkan yang makan bersama.
"Diambilkan makannya untuk Elkan, Ra," ucap Mama Marsha.
Mungkin masih belia dan tidak tahu bagaimana harus melayani suaminya, Mama Marsha mengajari Mira untuk mendahulukan mengisi piring kosong suaminya terlebih dahulu. Memprioritaskan suaminya.
"Diingat-ingat, ya Mira ... ketika makan apa pun, dahulukan untuk mengisi piring kosong suamimu dulu," ucap Mama Marsha.
"Iya, Ma," balas Mira dengan menundukkan wajahnya.
Di dalam hatinya, Mira hanya merasa seperti mendapatkan les privat dari Mamanya sendiri terkait bagaimana berumahtangga nanti. Hingga tiba-tiba, Mira membayangkan bagaimana jika benar seandainya keduanya tinggal bersama sebagai suami dan istri dalam usia yang masih begitu muda.
"Di Singapura, biasanya main ke mana El?" tanya Mama Marsha kemudian.
__ADS_1
"Jarang main, Ma ... tapi paling seneng sih lari dan olahraga di Henderson Brigde. Kalau akhir pekan, biasanya sering dipakai Elkan untuk olahraga, Ma," balasnya.
Mama Marsha pun menganggukkan kepalanya perlahan. Sekaligus Mama Marsha juga tahu bahwa menantunya itu termasuk suka berolahraga. Mirip seperti suaminya dulu saat masih muda.
"Kok selama lima tahun di Singapura, kamu tidak pernah pulang ke Jakarta, El?" Kini giliran Papa Abraham yang bertanya kepada Elkan.
Mengingat jarak Singapura dan Jakarta yang terbilang dekat, hanya dua jam penerbangan dengan pesawat udara adalah jarak yang mudah ditempuh. Lagipula, jika hanya beberapa pulang dari sekian bulan sekali, Elkan pun tergolong mampu.
"Nanti kalau Elkan pulang ke Jakarta dan bertemu seseorang, justru Elkan tidak mau kembali ke Singapura, Pa," balasnya dengan melirik Mira yang duduk di hadapannya.
Mira sih memilih tenang. Sementara Mama Marsha dan Papa Abraham mengulum senyuman di wajahnya. Mungkin pasangan paruh baya itu tahu apa yang dikatakan oleh Elkan sekarang. Namun, melihat Mira yang diam, rasanya lebih baik sebagai orang tua tidak banyak berkomentar.
"Sering-sering makan di sini, El ... biar makin akrab sama Mira," balas Mama Marsha kemudian.
"Kan di sekolah, kamu juga duduk satu meja, Ma," balas Mira.
"Ya, itu bagus ... biar makin akrab, dan makin terbiasa," balas Mama Marsha.
Sementara itu, Elkan menyelesaikan makan malamnya. Dalam hatinya dia merasa senang karena diterima dengan baik oleh keluarga mertuanya. Kendati demikian, Elkan tampaknya masih harus berusaha untuk bisa mendapatkan hatinya Mira.
__ADS_1