
"Jangan menangis ... aku pulang untuk kalian. Untuk keluargaku."
Mendengar ucapan Elkan rasanya membuat hati Mira tersentuh. Seharusnya suaminya itu masih berada di Rumah Sakit. Setidaknya untuk satu hari satu malam lagi, tapi Elkan memilih untuk pulang. Semua itu Elkan lakukan karena kerinduan dengan keluarganya, istri dan kedua anaknya.
"Makasih, Kak," jawab Mira.
Air mata Mira kembali jatuh. Mira bisa melihat wajah Elkan yang masih lebam. Bekas jarum intravena di tangannya juga sedikit bengkak. Akan tetapi, Elkan memilih pulang.
"Sudah jangan menangis," kata Elkan dengan lembut.
Mama Marsha tersenyum melihat hubungan pasangan muda itu. Namun, terlihat kepedulian yang besar di antara Mira dan Elkan. Ketika dua pasangan saling peduli, itu menunjukkan hubungan yang kuat di antara keduanya.
"Terlalu cinta dan khawatir sama kamu, El. Kemarin aja Aryan dan Aaliya juga nangis. Bertiga nangis barengan," balas Mama Marsha.
Mendengar cerita dari Mama Marsha, Elkan terlihat sedih. Tidak bisa membayangkan bagaimana istri dan kedua bayinya menangis bersamaan. Mama Sara juga sedih, pastilah kemarin Mira sangat down.
"Lalu, yang menemani Mira kemarin siapa?" tanya Mama Sara.
"Aku yang menemani Mira kemarin," balas Mama Marsha.
"Syukurlah, kalau sedang sedih jangan di rumah sendirian, Ra. Kamu dekat dengan Mama dan Papa, jadi kalau ada apa-apa selalu hubungi kami. Jangan sungkan, seorang ibu juga butuh bala bantuan," balas Mama Sara.
Memiliki pengalaman pernah menjadi ibu juga sehingga Mama Sara tahu pentingnya bala bantuan atau support sistem untuk seorang ibu. Terlebih ibu hamil dan ibu menyusui yang memang membutuhkan support. Untuk itu, Mama Sara meminta Mira untuk selalu bilang jika butuh bantuan.
"Mira dan Andin sama, kalau memang sedih, merasa tidak enak badan, membutuhkan bantuan jangan sungkan memberitahu Mama. Kita keluarga, jadi kita bisa saling mensupport satu sama lain," balas Mama Sara.
"Iya, Ma ...."
Mira dan Andin sama-sama menganggukkan kepalanya. Keluarga yang bisa mensupport satu sama lain sungguh luar biasa. Selain itu, Mama Sara juga orang yang baik dan tulus, sosok mertua yang menyayangi dan memperlakukan anak-anak menantu seperti anak kandung.
__ADS_1
"Elkan sudah pulang, jadi jangan sedih lagi. Kamu tidak berubah yah, Mira. Dulu Elkan jatuh dari sepeda, kakinya luka aja kamu nangis lama. Sekarang, menangis lagi. Kalian itu," kata Mama Sara mengenang masa di mana Elkan dan Mira masih kecil.
"Tandanya memang mereka saling sayang sejak kecil," balas Evan.
Mama Sara menganggukkan kepalanya. "Iya, kalau kamu yang jatuh, Mira juga nangis sih, tapi gak sehisteris kalau yang jatuh adalah Elkan. Kamu kan sosok kakak untuk mereka berdua. Beda cerita kalau Elkan yang jatuh Elkan yah," kata Mama Sara.
"Teman sedari kecil yah Ma?" tanya Andin.
"Iya, Ndin ... bahkan Mama dan Papa sudah menjodohkan Mira dan Elkan sejak kecil. Mama dan Papa memang sayang ke Mira, selain itu Elkan juga sayang banget ke Mira," cerita Mama Sara.
Andin menganggukkan kepalanya, mendengarkan semuanya dari Mama Sara membuat Andin malu karena dulu cemburu dengan Mira yang dirasa sangat akrab dengan Evan. Sekarang, memang terlihat Mira adalah bagian dari keluarga Agastya sejak kecil. Begitu juga hubungan keluarga Agastya dan Narawangsa yang begitu akrab.
"Kita beri waktu Elkan dan Mira dulu yuk. Pasti keduanya saling kangen," kata Papa Belva.
Akhirnya semua keluarga memilih ke ruang keluarga dengan membawa Twins A sekalian. Di ruang tamu hanya ada Mira dan Elkan. Ketika tadi suara riuh, sekarang menjadi hening karena hanya ada Mira dan Elkan di sana.
"Honey," sapa Elkan dengan menatap sang istri yang duduk di sampingnya.
"Jangan sedih lagi," kata Elkan.
Mira menundukkan wajahnya. Dia merasa sangat sedih, tapi sekarang sudah lega karena suaminya sudah berada di rumah. Walau begitu, Elkan pasti belum bisa banyak membantu mengurus Twins A. Hanya berada di rumah saja.
"Aku kangen kamu," kata Mira dengan suara yang bergetar.
Elkan menghela napasnya, dia kemudian memeluk Mira. Hal yang paling membuat Elkan sedih adalah melihat Mira menangis. Akan tetapi, sekarang Elkan memberi waktu bagi Mira untuk menangis. Ada kalanya air mata bisa melegakan.
"Semuanya karena aku yah Kak? Ulahnya Bagas kan?" tanya Mira.
Elkan menganggukkan kepalanya. Benar semua adalah karena Bagas, tapi semuanya bukan karena Mira. Hanya karena dendam tak beralasan menurut Elkan. Toh, yang bersalah bukan Mira dan keluarganya. Akan tetapi, Bagas sendiri yang gegabah.
__ADS_1
"Bukan kamu, dasar orangnya aja," balas Elkan.
"Kan Bagas selalu begitu sama aku," balas Mira.
"Enggak, udah gak usah dipikirin. Yang pasti aku sudah pulang. Aku sudah berada di sampingmu lagi," balas Elkan.
Mira menganggukkan kepalanya, memang dia merasa senang dan lega ketika Elkan sudah berada di sampingnya. Mira juga pasti akan merawat Elkan sampai suaminya itu benar-benar sembuh.
"Aku pulang untuk kalian. Sebenarnya diminta Dokter istirahat di Rumah Sakit semalam lagi, tapi aku gak mau. Aku kangen kamu dan anak-anak. Sudah, jangan menangis," kata Elkan menenangkan Mira.
"Lalu, Bagas sekarang di mana? Enggak mendapatkan hukumannya?" tanya Mira.
Elkan menghela napas lagi. "Dia menjadi buronan sekarang, Honey. Tenang saja, gak lama lagi dia juga pasti akan tertangkap kok. Orang-orang kepercayaan Papa sudah bergerak. Menunggu kabar saja."
"Bukan kepolisian? Jangan main hakim sendiri, Kak," balas Mira.
"Orang kepercayaan Papa ada dari pihak penegak hukum kok. Tenang saja. Papa tidak akan pernah main hakim sendiri, Honey. Tenang saja," balas Elkan.
Mira mengangguk, dia akan mempercayai ucapan suaminya. Selain itu, Mira juga percaya bahwa tidak mungkin Papa Belva akan main hakim sendiri. Selama ini Papa Belva adalah pengusaha kaya raya yang taat akan hukum.
"Semalam kamu nangis? Twins juga nangis?" tanya Elkan.
"Iya sedih karena Daddy sakit. Terus aku gak bisa merawat kamu buat aku tambah sedih. Di Sydney dulu waktu aku sakit, kamu merawatku sampai aku sembuh, sekarang ketika kamu sakit justru aku gak bisa merawat kamu. Maaf," kata Mira.
"Kan sekarang ada Aryan dan Aaliya yang lebih membutuhkan Mommy nya. Tidak apa-apa. Prioritaskan buah hati kita dulu."
Itulah yang Elkan mau. Untuk anak-anak, Elkan akan mengalah. Walau dia membutuhkan Mira di sisinya, tapi Aryan dan Aaliya lebih membutuhkan Mira.
"Kamu tidak pernah egois. Segera sembuh yah, Daddy El," balas Mira.
__ADS_1
"Doa kamu, anak-anak, dan keluarga, aku pasti akan segera sembuh kok. Jangan sedih lagi, nanti produksi ASI kamu bisa berkurang. Kasihan Twins kalau sumber makanannya berkurang," balas Elkan.
Elkan mengingatkan supaya Mira tidak sedih lagi. Terlebih Elkan sudah berada di rumah sampai sembuh nanti. Dekat dengan anak dan istri akan membuatnya lebih cepat sembuh.