Romansa Pengantin SMA

Romansa Pengantin SMA
Jerome Kembali Berusaha


__ADS_3

Ketika akhir pekan tiba, rupanya Jerome kali ini datang ke Jakarta dan dia sekarang berada di kediaman Agastya. Apalagi, dia adalah keponakan Papa Belva, anak dari adik kandung Papa Belva. Sehingga sesekali datang bermain ke rumah sepupu sendiri rasanya tidak masalah.


Namun, ketika Jerome datang ke rumah Elkan. Ternyata ada Mira di sana yang terlihat akrab membuat aneka kue kering dengan Mama Sara. Mertua dan menantu itu kompak membuat berbagai kue seperti Nastar, Kastangel, dan juga Lidah Mertua.


"Paling suka yang mana Mira?" tanya Mama Sara.


"Nastar dan Lidah Mertua, Ma," balasnya.


Mama Sara pun menganggukkan kepalanya. "Kalau lidah mertua yang ini enak dan manis ya, Ra ... gak sepedas lidah mertua sungguhan."


Mama Sara mengatakannya sembari tertawa. Seketika dia teringat dengan berbagai cerita di layar kaca yang mengisahkan ibu mertua kejam, lidahnya berbisa layaknya ular. Membayangkannya saja Mama Sara justru tertawa.


"Sebentar lagi puasa Ramadhan, Ma... nanti ajarin Mira membuat kue ya, Ma? Kalau Mama kan baik dan penyayang. Lembut juga. Makasih Mama," ucap Mira.


Hingga akhirnya, obrolan Mama Sara dan Mira terhenti karena Jerome yang datang dan menyapa keduanya. "Tante ... apa kabar?"


"Jer, tumben kamu ke mari. Sendirian saja?" tanya Mama Sara.


"Iya, sendirian saja. Mau ajakin Elkan dan Mira main, Tante," ucap Jerome.


Dibatas ini Mama Sara pun tidak curiga sama sekali karena memang dulu Jerome juga senang bermain dengan Mira dan Elkan. Jadi, menurut Mama Sara adalah hal yang biasa saja.


"Sana Mira ... itu Elkan juga sudah turun. Jadi, sana. Nanti Mama akan bawakan kue untuk kamu. Selesai main ke sini lagi yah, nanti Papa Belva mau bicara juga," ucap Mama Sara.


Mira kemudian mencuci tangannya terlebih dahulu, kemudian dia berjalan ke arah Elkan. Sama-sama berjalan ke luar rumah. Jerome juga mengikuti keduanya dari belakang.


"Ke kafe yuk," ajak Jerome kepada Elkan dan Mira.

__ADS_1


"Boleh. Kamu bawa mobilnya di depan aja, kami buntutin dari belakang. Kamu masih ingat kan Jer, kalau Mira dipercayakan orang tuanya kepadaku," ucap Elkan.


Jerome menghela nafas panjang. "Masih begitu yah?" tanya Jerome.


"Masih," jawab Elkan singkat.


Tidak bisa lagi menolak, Jerome pun akhirnya masuk ke dalam mobilnya sendiri. Sementara, Mira dan Elkan mengikuti dari belakang dengan mobil milik Elkan. Tampak Mira sedikit tersenyum kepada suaminya.


"Kawal terus ya Kak," ucapnya.


Elkan kemudian menganggukkan kepalanya. "Benar, jangan sampai ada yang deketin kamu. Termasuk Jerome yang jelas-jelas suka sama kamu," balasnya.


"Kan aku enggak suka," balas Mira.


"Tetap aja, aku harus mengawal kamu, Ra," balas Elkan.


"El, loe bisa pindah meja sebelah enggak. Gue mau ngomong sesuatu sama Mira," ucapnya.


Elkan memilih menuruti apa yang Jerome mau. Kemudian, dia memilih duduk sendiri di meja yang ada di belakang Mira. Di sana, Elkan merasa firasatnya tidak enak. Namun, kalau dia terlalu posesif dengan Mira juga kasihan Mira. Yang pasti sekarang Elkan cukup tahu bahwa Mira juga memiliki perasaan kepadanya.


"Ra, sebenarnya ada yang ingin ku sampaikan kepadamu. Sudah lama sebenarnya aku memiliki perasaan kepadamu, Ra. Lebih tepatnya sejak kamu SMP. Sekarang, aku mengatakan dengan jujur. Aku sayang kamu, Ra. Maukah kamu menjadi pacarku?"


Mira terdiam. Rupanya tepat seperti yang sudah Elkan sampaikan sebelumnya bahwa Jerome memiliki perasaan terhadapnya. Sekarang, Mira harus memberikan jawaban tegas kepada Jerome.


"Kak Jerome, sorry aku tidak bisa," ucap Mira.


Jerome yang semula menundukkan wajahnya, perlahan-lahan mengangkat wajahnya. Dia pikir Mira akan menerima pernyataan cintanya. Rupanya, tidak. Mira tidak membutuhkan waktu lama untuk mengatakan bahwa dia tidak bisa.

__ADS_1


"Kenapa, Ra?" tanya Jerome perlahan.


"Aku suka memiliki pasangan, Kak Jerome. Jadi, maaf ... aku tidak bisa," balas Mira.


Jerome menghela nafas dan bertanya siapakah pasangan Mira? Sebab, sebelumnya tidak pernah ada pria yang dekat dengan Mira. Untuk itulah, dia bertanya-tanya.


"Siapa, Ra? Kamu tidak bercanda kan?"


"Serius, aku sudah memiliki pasangan Kak. Aku sebenarnya suka dengan Kak Elkan," balas Mira.


"Enggak mungkin kan, Ra? Kamu dan Elkan kan teman dari kecil," balas Jerome.


Mira pun kemudian menganggukkan kepalanya. "Benar, Kak. Awalnya Mira juga merasa hanya sekadar teman kecil saja, tapi ternyata kami saling sayang," balas Mira.


Jerome tersenyum kecut. Benar-benar tidak mengira karena Mira nyatanya menyayangi Elkan. Satu kenyataan yang tidak pernah Jerome bayangkan sebelumnya.


"Jadi, aku ditolak?" tanya Jerome sekali lagi.


"Maaf, Kak ... itu semua karena aku sudah dengan Kak Elkan," tegas Mira.


Cinta ditolak memang menyakitkan. Terlebih, Mira terlihat tidak butuh waktu banyak untuk menolaknya. Namun, Jerome akan berbesar hati. Pemuda itu berdiri kemudian berjalan ke arah Elkan.


"Rupanya kalian sudah jadian? Kenapa tidak pernah berkata sebelumnya? Aku seolah menjadi antagonis di antara kalian berdua. Baiklah Elkan. Rukun dan langgeng dengan Mira yah. Sorry," ucap Jerome.


Elkan pun berdiri dan memeluk Jerome. "No problem, Jer ... sekarang udah clear kan?" tanya Elkan.


"Iya, baiklah. Aku duluan yah. Tidak baik jika aku menjadi penyela di antara kalian berdua," balas Jerome.

__ADS_1


Memilih mengikhlaskan walau sebenarnya Jerome juga terluka. Patah hati yang memang harus dia rasakan sekarang. Memilih pergi dan mendoakan Mira dan Elkan akan selalu bersama.


__ADS_2