
Pulang dari Rumah Sakit, Elkan mengantarkan Mira menuju ke salon dulu, itu juga karena Mira ingin mencuci rambutnya. Dengan bekas jahitan di perut, Mira kesusahan untuk mencuci rambutnya. Oleh karena itu, dia memilih untuk mencuci rambut ke salon saja.
Sebagai suami pun, Elkan setia menemani Mira. Bahkan pria itu justru mengamati Mira yang sedang dicuci rambutnya, diberikan condisioner, Vitamin rambut, dan dikeringkan. Tidak lupa rambut hitam dan panjang Mira juga dikeringkan dengan hair dryer. Lebih dari setengah jam, perawatan rambut itu baru selesai. Setelahnya, mereka memilih kembali ke unitnya.
Terlebih masih musim dingin di Sydney, membuat keduanya memilih untuk berada di unit saja yang hangat. Setibanya di unit, Elkan bekerja dengan macbook miliknya, mengerjakan setiap pekerjaan yang diberikan Papanya. Sementara Mira memilih untuk tidur saja. Beristirahat sembari menunggu Elkan yang masih bekerja.
"Aku mau bobok bentar boleh Kak?" tanya Mira kepada Elkan.
"Boleh, aku juga kerja dulu, Honey. Biar bisa menghidupi kamu," balas Elkan dengan tertawa.
Padahal Mira juga mendapat uang dari beasiswanya, sehingga dipakai bersama-sama tidak masalah. Akan tetapi, Elkan selalu memberinya. Untuk makan sehari-hari dan pengobatan Mira, juga Elkan mengeluarkan uangnya sendiri. Uang gajian dari Papanya lebih dari cukup untuk hidup sebulan. Bahkan ada sisa yang selalu Elkan tabung dan sisihkan. Siapa tahu nanti begitu pulang ke Jakarta bisa membuka bisnis baru yang dikelola bersama dengan Mira.
"Makasih Kakak ... suami yang bertanggung jawab banget sih," balas Mira.
"Harus dong. Pria itu harus tanggung jawab. Inget banget aku dengan pesannya Papa Abraham. Honey, kalau Marvel itu nanti pengen kuliah apa?" tanya Elkan tiba-tiba.
Elkan bertanya demikian karena sekarang adik iparnya sudah kelas 10 SMA. Ketika sudah berada di SMA, tentu harus berpikir ingin kuliah apa. Sudah bisa menentukan ingin menjadi apa suatu hari nanti. Anak SMA juga dinilai sudah dewasa, minat dan bakatnya juga sudah terlihat.
"Mungkin broadcasting, Kak. Itu perusahaan peninggalan almarhum Opa yang sekarang dikelola Papa. Harus ada yang melanjutkan juga kan," balas Mira.
Itu memang Opa atau papa kandungnya Papa Abraham dulu memiliki rumah produksi. Beberapa tahun setelah Opa meninggal, rumah produksi itu diserahkan kepada Papa Abraham. Sehingga, Papa Abraham tidak hanya memiliki studio foto, tapi juga rumah produksi yang sekarang lebih banyak memproduksi Web series. Jadi, kemungkinan Marvel akan diproyeksikan untuk melanjutkan memimpin Rumah Produksi itu.
"Oh, begitu yah. Semoga saja Marvel bisa serius menggeluti itu. Yang penting dalam bisnis itu konsisten, Honey. Kayak Papa Belva yang konsisten menjalankannya. Begitu juga Mama Sara dengan food and bavarage miliknya. Nanti kalau kita berbisnis yah penting konsisten dan pelan-pelan saja," balas Elkan.
"Iya, Kak El. Ya sudah, aku bobok bentar yah. Kadang di bekas jahitan ini gatal, Kak. Cuma aku tahan-tahan aja," balas Mira.
"Benar, Honey ... tahan dulu yah. Ya sudah kamu bobok aja. Mimpiin aku yah," balas Elkan dengan tertawa.
__ADS_1
Elkan membiarkan Mira untuk tidur. Dia duduk di meja belajar, kemudian sesekali mengamati Mira yang tertidur. Ada rasa ingin mencium bibir Mira ketika istrinya itu sedang tertidur. Layaknya pangeran yang membangunkan putri tidur dengan ciuman penuh cinta. Namun, Elkan mengurungkan niatnya. Dia masih harus berpuasa dulu, takut melukai Mira. Lagipula, Mira bisa sakit seperti ini juga karena dia. Sehingga, sekarang Elkan fokus untuk bekerja. Nanti kalau harinya sudah tiba, pasti akan bisa mereguk setiap manisnya madu dalam pernikahan dengan istrinya lagi.
***
Tiga Hari Kemudian ....
Masih ada liburan kuliah kurang lebih dua pekan lagi, Mira yang sekarang sedang membaca beberapa buku bisnis pun bertanya, berapa SKS yang bisa dia ambil di semester ini.
"Kakak, kamu ambil berapa SKS semester ini?" tanya Mira.
"Kamu berapa, Honey?"
Mira menggelengkan kepalanya, kemudian melirik Elkan sekilas. "Kalau aku ambil kuliah padat, supaya bisa lulus 7 semester gimana Kak?" tanya Mira.
Tidak langsung menjawab, Elkan membelalakkan matanya. Kenapa istrinya tiba-tiba ingin menyelesaikan kuliah lebih cepat hanya 3,5 tahun saja. Padahal biasanya Starta Satu ditempuh empat tahun.
"Biar bisa lulus cepat dan merencanakan masa depan kita berdua setelahnya," balas Mira.
Mendengar apa yang disampaikan Mira, Elkan kemudian menganggukkan kepalanya. "Oke deh, baiklah. Kamu sudah pengen jadi Mommy yah?" tanya Elkan.
Jika cepat-cepat selesai kuliah, Elkan sudah merencanakan Next step selanjutnya adalah menjadi orang tua. Mumpung masih muda. Sehingga nanti ketika anak sudah besar, Elkan masih muda dan kuat.
"Boleh, jadi Mommy muda. Usia 22an tahun punya baby," balas Mira dengan terkekeh.
"Mommy cantik dan sexy," balas Elkan.
Mira kemudian tertawa, wajahnya sampai memerah. Membayangkan masih muda, lulus kuliah langsung memiliki baby. Lucu pastinya.
__ADS_1
"Kamu, Daddy, Kak?" tanya Mira.
Elkan menganggukkan kepalanya. "Iya, sih ... Super Dad," balasnya.
"Lucu ya Kak. Kita masih kecil-kecil, tapi sudah menikah, sudah berumahtangga, bahkan sudah memikirkan anak. Di saat mereka yang seusia kita masih memikirkan main-main ke sana ke mari," sahut Mira.
"Tidak apa-apa, Honey. Dewasa bukan berdasarkan pada usia kok. Justru kita bisa membuat perencanaan lebih matang. Kesenangan hidup salah satunya juga karena berkeluarga kan, Honey," balas Elkan.
"Iya, benar banget. Daripada pacaran menambah dosa, mending menikah, membahagiakan suami justru dapat pahala," balas Mira.
"Suami kamu masih puasa, Honey. Dua minggu," balas Elkan dengan cemberut sekarang.
Mira kemudian menatap suaminya sejenak. "Pasti menderita yahh? Pusing yahh?" tanyanya.
"Kalau menderita sih enggak. Kalau pusing iya. Cuma gak apa-apa. Santai saja, Honey. Aku akan selalu menunggu," balas Elkan.
Mira tersenyum. Dia tahu kalau Elkan tidak menganggap itu penderitaan, tapi Mira juga tahu mungkin kalau membuat kepala pusing ada benarnya. Kasihan juga dengan suaminya jadinya.
"Jangan diem, Honey. Belajar lagi, biar bisa lulus lebih cepat. Aku juga sudah pengen punya baby-baby lucu sama kamu. Elkan atau Mira Junior. Kayaknya seru."
Elkan kembali berbicara, mengalihkan pembicaraan supaya Mira tidak kepikiran. Namun, Elkan berkata jujur bahwa kadang dia ingin memiliki baby. Masih muda tidak menjadi masalah. Justru bisa membantu istrinya mengasuh anaknya nanti. Ketika anak semakin dewasa, bisa menjadi sahabat untuk anak-anaknya.
"Kamu bisa aja, Kak," balas Mira.
"Serius. Mungkin lucu kalau punya baby, tapi ya selesaikan kuliah dulu. Biar fokus. Aku tidak keberatan kok. Walau kamu lebih pinter, aku akan berusaha menyesuaikan diri. Aku akan berusaha mengambil SKS lebih banyak. Kita lulus sama-sama yah," balas Elkan.
Yang Elkan minta sekarang bisa lulus bersama-sama dengan istrinya. Mereka datang ke Sydney bersama-sama. Oleh karena itu, Elkan juga ingin lulus dari perkuliahan nanti sama-sama dengan Mira juga.
__ADS_1