Romansa Pengantin SMA

Romansa Pengantin SMA
Romansa Pengantin SMA 2


__ADS_3

Masih di tepi Darling Harbour, sekarang Elkan dan Mira berjalan-jalan sejenak. Hari sudah menjelang sore, angin di sepanjang Darling Harbour pun semakin kencang. Tidak hanya itu, hujan pun tiba-tiba turun. Sehingga, sekarang Elkan dan Mira berlari-lari untuk menuju ke mobilnya.


Walau berlari, Elkan dan Mira masih menautkan tangannya, saling menggenggam dan juga mereka justru tertawa bersama.


"Malahan kehujanan," kata Mira.


"Sebentar lagi sampai di mobil kita kok," balas Elkan.


Begitu sudah memasuki mobil, napas keduanya terengah-engah. Sementara Elkan menghidupkan mesin mobil terlebih dahulu. Mira merapikan rambutnya, dan mengambil tissue mengeringkan wajahnya yang terkena air hujan.


"Hujannya tambah deras, Honey," kata Elkan.


"Iya, ngedatenya sampai di sini ya Kak. Sepatuku basah, gak enak untuk jalan-jalan lagi. Kita pulang yah," ajak Mira.


Elkan tersenyum perlahan. Pria sedikit beringsut, tangannya membelai sisi wajah Mira dengan tangannya yang setengah basah. Sementara Mira seolah tak was-was apa pun dengan tindakan Elkan. Wanita itu masih tersenyum dan menetralkan napasnya yang masih terengah-engah.


Lantas, tanpa permisi, Elkan beringsut. Pria itu kini mengecup bibir Mira. Satu kecupan. Permukaan kulit yang kenyal, dan sedikit basah lantaran terkena hujan itu justru membuat Elkan melakukannya lagi.


Dua kali kecupan, dengan mata keduanya yang sama-sama masih terbuka. Sementara hujan di luar sana justru semakin deras. Pada kecupan ketiga, Elkan benar-benar memberikan usapan basah di permukaan bibir Mira. Maka, kini kedua mata sama-sama terpejam. Jika memang ini adalah kegilaan, Elkan mengakui dia begitu gila.


Fantasinya dulu bisa mencium Mira di dalam mobilnya saat masih sama-sama berseragam SMA. Sekarang, barulah terlaksana setelah sekian tahun pernikahan mereka. Dua bibir bertemu, bukan hanya saling mengecup, tapi saling memagut, saling mencecap, dan disertai dengan lu-matan di sana.


Untuk keduanya itu adalah kiss in the car pertama mereka. Momennya kian manis, karena hujan yang turun begitu deras sore itu. Andai terjerembab dalam hujan pun, keduanya pun rela.


Beberapa saat berlalu, seluruh mobil terdengar decakan dari kedua bibir yang saling memagut. Hingga akhirnya, Elkan mengurai ciumannya dengan menarik wajahnya.


"Aku takut tidak bisa menahannya di sini, kita pulang yah?" ajak Elkan.

__ADS_1


Anggukkan yang diberikan oleh Mira cukup menjadi jawaban. Sebelum melajukan mobilnya, Elkan kembali mengecup bibir Mira di sana. Barulah, dia menjalankan mobilnya.


Menerobos hujan dan jalanan di kota Sydney tidak membutuhkan waktu lama. Tidak ada kemacetan atau ruas jalan yang terkena banjir. Hanya belasan menit sekarang mereka sudah tiba di parkiran unit mereka. Elkan turun terlebih dahulu dan membukakan pintu mobil untuk Mira. Pria itu tak ragu kembali menautkan tangannya di tangan Mira, mengajak istrinya itu naik menggunakan lift menuju ke unit mereka.


Tanpa ada dari keduanya yang bersuara. Hanya kedua tangan yang saling menggenggam, dengan badan mereka yang juga belum sepenuhnya kering. Namun, sama sekali tak ada suara. Begitu pintu lift terbuka, Elkan mengajak Mira segera menuju ke unitnya. Membuka pintu, dan Elkan segera menghimpit tubuh Mira sampai punggungnya mengenai tembok.


Elkan pun membuang asal tas yang semula dia bawa. Tatapan matanya hanya mengunci Mira yang berdiri di hadapannya. Sedikit menunduk, objek yang Elkan lihat sekarang adalah bibir Mira yang semerah ceri.


Dia memangkas jarak wajahnya yang tak seberapa, lantas mulai mencium bibir Mira. Kedua tangan yang memegangi pinggang ramping Mira, bahkan Elkan membimbing tangan Mira untuk melingkari lehernya. Decakan pun tak bisa dihindari lagi. Lu-matan yang terjadi pun kian panas. Keduanya sama-sama menggelora. Saling mengusap dalam kesan basah, saling memberikan godaan dan belitan.


Dari balik pintu unit saja, keduanya bisa bergerak perlahan tanpa melepaskan tautan bibir mereka dan tempat yang Elkan tujuan adalah sofa. Dia membiarkan Mira duduk, kepalanya bersandar hingga sandaran sofa, dan Elkan kian memperdalam ciumannya dengan napas yang memburu.


Tak hanya itu, Elkan pun melepaskan jaketnya yang sedikit basah di sana. Pun, tangannya melepaskan cardigan yang dikenakan Mira. Kemeja putih dengan logo SMA di dada yang basah, memperlihatkan dengan jelas wadah berenda berwarna hitam di sana. Sedikit melihatnya saja, Elkan mulai membawa tangannya membuka kancing demi kancing di kemeja SMA milik Mira.


Jujur, ini adalah fantasi seorang Elkan. Sekarang, baru bisa melakukan. Maka, Elkan tidak akan menunggu lagi, dari bibir Mira, pria itu memberikan kecupan demi kecupan di pipi, kelopak mata, kening, turun ke bibir, dagu, dan kian turun hingga ke garis leher Mira.


"Kak El ... kan, hh."


"Ya, Honey."


Walau menyahut, tapi Elkan benar-benar tak memberi jeda. Tangannya kian nakal dan membelai lekuk-lekuk feminitas sang istri. Kancing di kemeja Mira saja sampai hendak terlepas semua.


Ya Tuhan, mana pernah sebelumnya Mira membayangkan akan memulai kegiatan panas dan membara itu dengan masih mengenakan seragam SMA. Namun, Mira merasa ini bukan dosa. Ini adalah aktivitas hangat dan sangat menyenangkan.


Tangan Mira pun juga bergerak dan melepaskan kancing demi kancing di kemeja suaminya. Tak ragu, Elkan sudah shirtless di depan istrinya.


Sementara Elkan tidak ingin melepas kemeja istrinya. Cukup melihat beberapa kancing terbuka di sana. Elkan membenamkan wajahnya di area sembulan dada sang istri merasakan hangatnya, kecupan demi kecupan pun dia jatuhkan di sana.

__ADS_1


Sekarang, tanpa melepaskan wadah hitam berenda di sana, Elkan mengeluarkan satu bulatan indah dari tempatnya. Tak menunggu lama, Elkan meremasnya perlahan, lantas dia sapa dengan kehangatan dengan lidah, bibir, dan mulutnya. Memberikan hisapan dan gigitan di sana.


Bahkan untuk bulatan indah yang lain, Elkan berikan godaan serupa secara bergantian. Pria muda benar-benar terbakar gelora. Semua yang bisa dia lakukan, akan Elkan lakukan.


Puas memberikan kepuasan di area dada, Elkan mengajak Mira menuju ke kamarnya. Seragam SMA berserakan di lantai. Kemeja putih, rok abu-abu, celana panjang abu-abu, dan jenis pakaiannya lainnya.


Kini Elkan siap mengajak Mira terbang hingga ke Nirwana. Pria itu menyapa cawan surgawi istrinya terlebih dahulu. Memastikan kepuasan penuh untuk Mira. Ketika istrinya memekik dan mende-sah, justru Elkan kian bersemangat. Pun, dia menerima ketika Mira juga memberikan sapaan dalam kehangatan penuh pada pusakanya.


Indah. Sampai pada akhirnya, Elkan memposisikan dirinya. Tak segan untuk menyatukan diri dengan istrinya. Hujam demi hujaman terjadi. Tusukan syarat akan benturan tercipta. Gerakan seduktif keluar dan masuk, menghujam dan menusuk.


"Honey ... Honey!"


Elkan memanggil istrinya dengan suaranya yang parau dan dalam. Luar biasa rasanya. Sungguh dahsyat. Darahnya mendesir, jantungnya berdegup kian kencang. Hingga kesan liat dan basah pun tercipta.


Dua jiwa yang terombang-ambing di angkasa. Dilingkupi stratosfer di awan, keduanya tak segan menunjukkan dirinya yang sebenarnya.


"You drive me crazy, Honey," kata Elkan sekarang.


Hujaman dan hentakan terjadi. Sprei di ranjang mereka sampai benar-benar berantakan. Namun, peraduan di sana sangat indah. Berpadu dengan ciuman di bibir, atau perlakuan Elkan di bulatan indah istrinya. Sore dalam balutan hujan yang benar-benar menggelora.


Sampai akhirnya Elkan menggeram. Dia memuntah lava pijar dari pusakanya dan memenuhi cawan surgawi Mira. Benar-benar peraduan indah. Tubuh yang bergetar, bibir yang tak henti-hentinya memanggil pasangannya, dan luapan samudera yang seakan benar-benar meluapkan mereka.


Indah.


Padu.


Tak terselami.

__ADS_1


__ADS_2