
Buru-buru Mira pergi meninggalkan Evan dan Andin. Bukan tanpa sebab, tapi memang keramahan kakak iparnya itu seolah sirna. Selain itu, sorot mata Andin juga terlihat begitu berbeda. Elkan bukannya tidak tahu, dari jauh Elkan juga melihat sendiri bagaimana kikuknya Mira. Selain itu, istrinya itu terlihat kebingungan. Untung saja, dia segera datang. Jika tidak, mungkin saja Mira semakin kebingungan di sana.
Menaiki lift menuju ke ruangan Elkan, memang ruangan khusus supporting staf, Mira terdiam. Dia berpikir di mana letak kesalahannya. Kenapa suasananya tiba-tiba menjadi kikuk dan canggung.
"Kenapa diem aja, Honey?" tanya Elkan.
"Enggak apa-apa, Kak," jawab Mira.
Begitu sudah tiba di ruangan pribadi Elkan, Elkan pun seperti biasa, mendekap Mira dari belakang. Jujur, pria itu memang begitu suka mendekap Mira dengan tiba-tiba. Dengan tangan yang melingkar indah di pinggang Mira, tapi sekarang sedikit berbeda karena tangan Elkan mengusap perlahan perut istrinya itu.
"Tumben kamu ke sini, Honey ... sering-seringlah ... aku kan kangen," kata Elkan.
Mendengarkan perkataan Elkan, lantas Mira berbicara. "Aku tadi dari SBC, Kak ... diajak Mama. Daripada suntuk di rumah kan. Bisa bantuin Mama sebentar. Terus Mama kan mau ketemu Papa, ya sudah, aku ikutan. Mau ketemu kamu, eh, di bawah ketemu sama Kak Ev," cerita Mira.
"Iya, aku tahu, Honey ... kamu jadi sedih tiba-tiba?" tanya Elkan.
Itu adalah pertanyaan pancingan supaya Mira mau mengungkapkan perasaannya. Sebagai seorang suami dan sosok yang sudah mengenal Mira cukup lama, Elkan yakin bahwa istrinya itu sedang memikirkan sesuatu.
"Kenapa Kak Andin menatapku dengan pandangan berbeda yah, Kak ... ini hanya perasaanku sendiri atau bagaimana?" tanya Mira kepaada suaminya pada akhirnya.
Elkan sekarang barulah tahu apa yang dirasakan oleh Mira. Elkan juga melihat semuanya tadi. Namun, Elkan merasa lebih senang ketika Mira bisa jujur dengannya.
"Aku melihat bagaimana kamu tadi kikuk dan kebingungan," kata Elkan.
Mengurai dekapannya, Elkan kemudian mengajak Mira untuk duduk. Bisa saling berbicara satu sama lain. "Apa aku salah Kak?"
"Enggak ... kan aku gak ngapa-ngapain. Istilahnya cuma beli es saja sama Kak Evan. Dulu kalian juga begitu," balas Elkan.
"Kalau aku salah, aku mau minta maaf sama Kak Andin," balas Mira.
"Ya sudah, kita ke kantornya Kak Evan saja. Kita jelaskan semuanya," balas Elkan.
__ADS_1
Namun, belum Elkan dan Mira ke ruangan Kak Evan, ada Mama dan Papanya yang berpamitan untuk pulang terlebih dahulu. Sehingga, Mira dan Elkan sama-sama menganggukkan kepalanya. Selain itu Mama Sara dan Papa Belva meminta Elkan hati-hati saat menyetir nanti.
Setelahnya, barulah Elkan dan Mira menuju ke ruangan Vice President yaitu Evan Agastya, yang tak lain adalah kakaknya sendiri. Jika memang ingin menyelesaikan dan meluruskan semuanya, bagi Elkan tidak perlu menunggu waktu. Toh, Mira sendiri mengakui bahwa jika dia bersalah, Mira mau meminta maaf.
Tok ... tok ... tok ...
Elkan mengetuk pintu ruangan kakaknya itu. Tidak berselang lama, pemilik ruangan pun membukakan pintu untuk Elkan. Jujur, Evan juga bingung ternyata adiknya yang datang dan mengetuk pintu.
"El ..., Mira ..., kenapa ke sini?" tanya Evan yang juga bingung. Bagaimana tidak bingung, jika ada Andin yang usai menangis di sana.
Ya, jauh sebelum Elkan dan Mira datang, Evan sudah memberikan penjelasan terlebih dahulu kepada Andin. Akan tetapi, istrinya itu justru berurai air mata. Merasa bahwa pembicaraan mereka selalu buntu, Evan hingga bingung jadinya.
"Kak, kamu ingin berbicara," katanya.
Mau tidak mau, Evan pun mempersilakan Evan dan Mira untuk masuk ke dalam ruangannya. Elkan dan Mira juga melihat sendiri ada Andin yang berusaha menghentikan isak tangisnya.
"Kak Andin," sapa Mira.
"Kak Andin dan Kak Evan ..., bukan maksud Mira berperasaan yang tidak-tidak. Akan tetapi, Mira merasa tadi berada di tempat yang salah. Mira dan Mama Sara datang dan ketemu dengan Kak Evan. Oleh karena itu, Kak Evan menawarkan Mira minum. Maaf kalau Mira salah," ceritanya.
"Tidak apa-apa," balas Andin dengan memalingkan wajahnya.
"Kak Evan, katakan, Kak ... apa ini yang membebani Kakak?" tanya Elkan.
Menurut Elkan, jika hanya perihal pekerjaan tidak mungkin membuat Kakaknya banyak pikiran. Kakaknya terbukti bisa diandalkan. Elkan sudah menerka, pasti bukan masalah pekerjaan. Sekarang, Elkan akan mengungkapkan semuanya.
"Tidak, El ... bukan itu," jawab Evan.
"Jangan bohong, Kak ... aku ingi sangat mengenal Kakak."
"Kalau sudah, silakan pergi saja, El," kata Evan.
__ADS_1
Hingga akhirnya, Elkan menggelengkan kepalanya. "Tidak Kak ... semuanya harus diselesaikan terlebih dahulu. Apa Kak Andin mengira Kak Evan main-main dengan istriku? Iya?"
Semua yang ada di sana membelalakkan matanya. Elkan benar-benar blak-blakan. Sebab, jika masalah harus diluruskan ya sekarang, tidak menunda-nunda lagi.
"Elkan."
Evan membentak. Sementara Andin menangis. Mira sendiri tampak bingung. Terkaan apa ini? Kenapa bisa semuanya menjadi seperti ini?
"Kak Andin berpikir begitu Kak?"
Elkan mendesak supaya Kakak iparnya memberikan jawaban. Sebab, perasaan Elkan tidak mungkin salah. Praduganya hanya perihal itu saja.
"Sudah, El," balas Evan.
"Jujur saja, Kak ... jangan seperti ini. Hubungan kita semula baik-baik saja. Kak Evan juga menganggap Mira sebagai adik sendiri kan?" tanya Elkan.
"Aku sayang sama Mira, El ...."
Semua yang ada di sana sama-sama membelalakkan matanya mendengar pengakuan Evan. Elkan nyaris marah dan kesal kepada Kakaknya sendiri.
"Ya, aku sayang kepada Mira, El ..., sebagai adik. Sayangku untuk Mira sama seperti sayangku untuk Eiffel," lanjut Evan.
Di sini barulah, Elkan merasakan emosinya turun. Amarahnya juga turun mendengarkan penjelasan dari kakaknya. Kalau kakaknya sayang kepada Mira seperti sayangnya kepada Eiffel itu benar adanya. Dulu, kala Eiffel di Indonesia, Evan pernah membelikan apa untuk Eiffel dan untuk Mira sama persis.
"Tolong Kak Andin ... keluarga Agastya itu memiliki ikatan kekeluargaan yang kuat. Jangan menghancurkan ikatan kekeluargaan kita dengan prahara seperti ini. Tolong Kak ... Mira pun sayang dengan Kak Evan hanya sebagai adik kepada kakaknya. Kami sudah mengenal bertahun-tahun Kak Andin," jelas Elkan.
Mira pada akhirnya menangis juga. "Maaf yah Kak Andin ... tolong tidak berpraduga yang tidak-tidak. Aku harap Kak Evan dan Kak Andin bahagia selalu. Kalau memang Kakak mau supaya aku tidak dekat dengan Kak Ev, aku akan melakukannya. Jangan seperti ini Kak Andin ... yang disampaikan Kak Elkan benar, kita memiliki ikatan kekeluargaan yang sangat erat. Jangan merusaknya," kata Mira.
Setelah itu, Elkan meraih tangan Kakaknya, dan menyatukannya dengan tangan kakak iparnya. "Saling bergandengan tangan. Jangan mudah mempraduga sesuatu yang tidak benar kepada pasangan sendiri. Elkan akan jadi orang pertama yang bahagia jika Kak Evan dan Kak Andin bahagia. Rumah tangga itu banyak bumbunya, tapi kakaklah koki utamanya. Ciptakan menu yang enak walau kadang bumbunya salah. Elkan dan Mira pahit."
Setelah mengatakan semuanya, Elkan dan Mira memilih pamit. Setidaknya mereka sudah tahu apa yang terjadi. Untuk itu, Elkan meninggalkan pesan demikian. Tidak ingin ikut campur rumah tangga kakaknya. Yang pasti Elkan ingin ketika masakan salah bumbu pun, kakaknya bisa menghasilkan sajian yang tetap lezat.
__ADS_1