
Elkan sudah berkeinginan untuk mengajak Mira pulang. Toh, bagi Elkan sendiri pesta anak muda dengan musik kencang seperti ini sangat tidak cocok untuknya. Selain itu, ada Rosaline di sana yang datang dari Singapura justru membuat Elkan tidak suka.
"El, minum denganku?"
Rupanya Rosaline tak menyerah begitu saja. Dia ingin mengajak Elkan ke stand minuman dan mengajak Elkan untuk minum bersama. Mira yang berdiri di dekat Elkan pun tahu bahwa Rosaline masih berusaha mengajak Elkan minum di sana.
Di pandangan matanya, Rosaline begitu cantik. Wajah khas Chinese dengan matanya yang sipit, yang rambutnya yang lurus panjang, menjadi daya tarik gadis itu. Mira pun bertanya-tanya sebenarnya Rosaline ini teman SMP Elkan di Singapura atau apa?
"Tidak, aku tidak minum," balas Elkan.
Lantas Rosaline melirik ke arah Mira. "Dia siapa El?"
Rupanya kehadiran Mira di sisi Elkan membuat Rosaline tertarik dan ingin tahu siapa Mira. Sebab, sejak tadi Mira berdiri tidak jauh dari Elkan. Itu tentu menjadi pemandangan yang menarik untuk Rosaline.
Elkan yang hendak memberikan jawaban rupanya terjeda, karena ada Jerome yang menyahut terlebih dahulu. "Dia Mira, tetangganya Elkan dan juga sahabatnya sejak kecil."
Jawaban Jerome juga adalah jawaban logis bahwa Mira memang adalah sahabatnya dan tetangga Elkan. Sehingga Jerome memberikan jawaban itu kepada Rosaline. Mendengar jawaban Jerome, Rosaline menganggukkan kepalanya.
"Wah, hubungan yang akrab yah. Bersahabat sejak kecil," balasnya.
"Aku juga mengenal Mira sejak kecil. Kami dulu beberapa kali main bersama," cerita Jerome.
Mira memilih diam dan tidak merespons. Sementara Elkan hanya diam dengan satu tangan yang dia masukkan ke dalam saku celananya. Yang ingin Elkan lakukan adalah pergi dari pesta itu.
"Jangan hanya diam, Elkan ... enjoy this party tonight," ucap Jerome.
Menurut Jerome, Elkan terlalu diam dan justru seolah tak menikmati pesta itu. Walau hanya ulang tahun dan ada Disc Jockey yang memainkan musik setidaknya itu adalah pesta yang dekat dengan anak muda. Waktu bersenang-senang.
"Aku Rosaline, temannya Elkan dari Junior High School. Kami empat tahun satu kelas," balasnya.
__ADS_1
"Mungkin karena itu yang membuat kamu naksir Elkan yah," balas Jerome.
Rosaline pun tersenyum. Bagi mereka yang tinggal di negara maju, untuk mengakui perasaan adalah hal yang mudah. Tidak menutupi perasaannya. Sama seperti Rosaline sekarang.
"Ya, aku suka Elkan," balas Rosaline.
Di satu sisi Elkan bersikap biasa saja. Namun, tidak dengan Mira yang terusik di sana. Jadi, memang Rosaline ini menyukai Elkan. Mira rasanya menjadi mengamati Rosaline dalam diamnya.
"Tuh, El ... Rosaline sudah mengungkapkan perasaannya. Kamu suka enggak sama dia?" tanya Jerome.
Lagi Jerome tersenyum menatap Elkan yang berubah menjadi sosok yang cool dan pendiam sekarang. "Jarang ada wanita yang duluan mengungkapkan perasaan, lebih lagi dia bela-belain datang dari Singapura."
Elkan akhirnya menghela nafas terlebih dahulu dan kemudian berbicara. "I am sorry, Ros ... kamu sudah tahu bukan jika aku sudah memiliki gadis lain yang kusuka," balas Elkan.
Mendengar apa yang Elkan katakan, Rosaline menundukkan wajahnya. Sejak dulu memang ketika Rosaline berusaha untuk mengungkapkan perasaannya, Elkan akan mengatakan bahwa dia sudah menyukai seorang gadis. Kala itu, Rosaline cuek karena menilai itu hanya cara Elkan menolaknya saja.
"Sejak dulu kamu juga bilang begitu, El," balas Rosaline.
Elkan menggeleng perlahan. "Ya sudah, Jer. Aku dan Mira pulang duluan yah. Udah malam, Mira kan punya jam malam," balas Elkan.
"Eh, kok udah pulang aja. Ntar dong. Belum juga potong kue dan juga selebrasi lainnya," balas Jerome.
"Happy Birthday, Bro ... duluan yah," pamit Elkan.
"Buru-buru banget sih, El," ucap Jerome yang seolah hendak menahan Elkan.
"El, kamu pergi secepat ini?" tanya Rosaline.
"Iya, aku harus mengantar Mira." Elkan menjawab dan mengajak Mira untuk pergi dari pesta itu.
__ADS_1
Lebih cepat pergi dari sana sudah lebih bagus. Toh, Mira juga sejak tadi mengaku tidak nyaman. Sebenarnya hari ini juga belum begitu malam, tapi tidak ada untungnya juga berlama-lama di saja.
"Ra, ada ingin aku jelasin," kata Elkan begitu mereka sudah memasuki mobil.
"Ya, apa Kak?" tanya Elkan.
"Tadi Rosaline dia memang temanku, tapi di antara kami tidak ada apa-apa, Ra," balas Elkan.
Mira menatap wajah Elkan di sana. Lima tahun di Singapura dan tanpa kabar tentu hubungan Rosaline dan Elkan bisa bertahan lama. Namun, benarkah selama lima tahun itu tak ada getar-getar cinta?
"Aku harus menanggapi apa, Kak? Selama lima tahun di Singapura, kita gak pernah komunikasi sama sekali. Jadi, aku tidak tahu," jawab Mira.
"Kita gak komunikasi karena aku marah sama kamu, Ra," jawab Elkan.
Rupanya Elkan memiliki alasan kenapa selama lika tahun tidak menghubungi Mira. Jawaban yang membuat Mira tercengang karena Elkan mengakui dia marah kepada Mira. Lalu, kenapa Elkan marah kepadanya?
"Marah kepadaku?" tanya Mira.
"Iya, aku mengira kamu pacaran dengan Jerome. Semua berhubungan dengan kepergianku ke Singapura, waktu Jerome menembakmu di hadapanku dulu. Jadi, aku sebal sama kamu, Ra," cerita Elkan.
Mira memilih diam, mendengarkan cerita Elkan terlebih dahulu. Kenapa Elkan memiliki sisi cemburu yang meletup-letup.
"Lalu, pergi tanpa pamit dan tidak memberi kabar itu bagus, Kak?" tanya Mira kemudian.
Elkan menggelengkan kepalanya. "Tidak, salah," balas Elkan.
"Kamu tenang aja, aku sudah beristri, Ra. Aku akan menjaga kamu," ucap Elkan.
"Dengan Rosaline?" tanya Elkan.
__ADS_1
"Aku tidak pernah suka kepadanya."
Elkan menjawab dengan tegas. Memang pada kenyataannya dia tidak pernah suka kepada Rosaline. Jika ada yang Elkan sukai tentu itu adalah seorang gadis yang sudah menempati hatinya sejak lama.