Romansa Pengantin SMA

Romansa Pengantin SMA
Mengaku Jadian?


__ADS_3

Cukup satu hari bagi Mira untuk izin tidak masuk sekolah. Begitu juga dengan Papa Abraham yang selesai jogging, mengajak Elkan untuk sarapan bersama terlebih dahulu. Usai sarapan, Elkan berpamitan untuk pulang dan dia berjanji untuk datang menjemput Mira.


"Gimana, Ra?" tanya Papa Abraham kepada putrinya itu.


"Hmm, kenapa Pa? Kok Papa lihatin Mira kayak gitu sih," balas Mira dengan menundukkan wajahnya.


"Satu kamar sama suami sendiri. Bagaimana perasaan kamu?"


Rupanya sekarang giliran Papa Abraham yang menanyakan bagaimana perasaan Mira usai semalam satu kamar dengan suaminya. Jika tadi Mama Marsha yang bertanya, sekarang giliran Papanya yang bertanya. Sepagi, tampaknya sudah ada Mama dan Papanya yang gantian bertanya.


"Deg-degan, Pa," jawab Mira dengan jujur.


Mendengar jawaban dari Mira, Papa Abraham pun tertawa. Tidak mengira bahwa Mira bisa menjawab secara jujur. Bahkan sekarang, Papa Abraham bisa melihat rona merah di pipi putrinya itu. Merasa bahwa putrinya itu merasa senang atau memang juga menyukai Elkan, karena reaksi yang ditunjukkan seperti itu.


"Tiga bulan lagi kamu akan ke Australia, Mira. Papa akan kehilangan putrinya Papa," ucap Papa Abraham.


Mira kemudian tersenyum kepada Papanya. Walau sebenarnya Mira juga sedih ketika Papanya berkata demikian.


"Papa, kan Mira ke sana untuk kuliah. Kalau liburan, Mira akan pulang ke Jakarta lagi. Tinggal di sini dengan Papa dan Mama," ucapnya.


"Ya, nanti kalau liburan ke Jakarta, kamu juga harus tinggal dengan Elkan, suamimu. Mungkin bisa di rumah sini atau di rumahnya Papa Belva," ucap Papa Abraham.

__ADS_1


Mama Marsha kemudian menggenggam tangan suaminya itu. "Sudah, Pa ... jangan membuat Mira sedih pagi-pagi. Kita mungkin akan melepaskan Mira yang menjadi milik Elkan, tapi kita juga akan mendapatkan putranya baru yaitu Elkan. Jadi, tidak apa-apa. Yang penting, Mira sekolah dan menggapai impiannya," ucap Mama Marsha.


Mira sudah berkaca-kaca dan hampir menangis ketika mendengarkan perkataan Mama dan Papanya. "Mira tidak akan meninggalkan Mama dan Papa," ucapnya.


"Sudah, tidak apa-apa. Itu sudah ada mobil yang berhenti di depan rumah kita. Itu, suami kamu sudah menjemput," ucap Mama Marsha.


"Mira ke sekolah dulu ya Mama dan Papa," pamitnya.


"Iya, sekolah yang rajin. Hati-hati yah," balas Mama Marsha.


Mira pun keluar dari rumah, dan sudah ada Elkan yang menunggu di depan pintu rumahnya. Elkan sudah tersenyum cerah ketika ketika Mira keluar dengan mengenakan seragam SMA dan membawa tas ransel miliknya.


"Makasih, Kak," balasnya.


Elkan kemudian masuk ke mobilnya dan kemudian melajukan mobilnya menuju ke sekolah mereka. Waltu tidak banyak obrolan, tetapi wajah Elkan begitu senang. Selain karena semalam bisa menginap satu kamar, dan sekarnag Mira kembali ke sekolah adalah hal yang menyenangkan untuk Elkan. Dia tidak duduk sendirian lagi, melainkan sudah ada Mira yang duduk di sampingnya.


"Sudah sampai, Ra," ucap Elkan begitu mobil mereka sudah sampai di sekolah.


"Iya, makasih ya Kak ... sekolah lagi," balasnya.


Baru saja, Mira keluar dari mobilnya Elkan sudah ada Bagas yang juga turun dari mobilnya. Pemuda itu menyorot kepada Mira dengan sorot matanya yang tajam.

__ADS_1


"Ra, kemarin kamu izin yah?" tanya Bagas.


"Iya, izin sehari," balasnya.


"Lalu, kenapa kamu selalu bersama dengan Elkan?" tanya Bagas lagi.


Belum Mira memberikan jawaban, Elkan sudah berdiri tepat di hadapan Bagas. "Kenapa, loe keberatan. Gue dan Mira udah ... jadian," balasnya.


Bagas dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Gak mungkin. Jadian sama Mira, bukankah hanya imajinasi loe aja?" tanya Bagas.


Elkan pun tersenyum miring. "Gak ada imajinasi, yang pasti semuanya ini real. Bukan reel, kayak pengakuanmu yang hanya imajinatif aja," balasnya.


"Mira, jelasin yang Elkan katakan benar?" tanya Bagas.


Mira kemudian menatap Elkan yang berdiri satu langkah di depannya, dan kemudian Mira menganggukkan kepalanya. "Benar Bagas, kami sudah jadian," jawabnya.


Ketika Mira membenarkan ucapan Elkan, kembali Elkan tersenyum miring. Biarkan saja orang tahu bahwa mereka pacaran sekarang. Padahal hubungan mereka lebih dari sekadar pacaran. Namun, untuk sekarang biarkan orang mengira keduanya pacaran.


Mira kemudian maju satu langkah dan kemudian gadis itu menautkan tangannya di telapak tangan Elkan, menggenggamnya. "Ayo, kita masuk," ajaknya kepada Elkan.


Tidak banyak berbicara, tidak banyak menanggapi Bagas juga. Yang pasti biarkan saja kisah mereka mengalir dengan sendirinya. Toh, sesama anak SMA saling pacaran tidak ada salahnya, yang pasti fokus mereka adalah untuk sekolah terlebih dahulu.

__ADS_1


__ADS_2