Romansa Pengantin SMA

Romansa Pengantin SMA
Semakin Pulih


__ADS_3

Tidak terasa sudah seminggu berlalu sejak Elkan keluar dari Rumah Sakit. Walau sebelumnya, Mira merasa suaminya menyembunyikan sesuatu darinya. Akan tetapi, Mira bisa menerima. Namun, di kemudian hari nanti Mira berharap Elkan tidak akan menyembunyikan apa pun darinya.


Dalam seminggu ini bekas-bekas luka di wajah dan kaki Elkan juga mulai mengering dan mengelupas. Selain itu, masih ada dua jenis obat yang masih harus diminum Elkan sampai habis. Elkan juga lebih bahagia karena bisa menggendong bayinya lagi.


Sama seperti sekarang dia menggendong Aryan dan Aaliya bersamaan. Kangen sekali rasanya dengan kedua buah hatinya itu.


"Daddy kangen banget sama kalian berdua. Maaf yah, dalam seminggu ini Daddy belum bisa banyak gendong kalian," kata Elkan.


"Penting Daddy sembuh dulu. Aryan dan Aaliya bisa memahami Daddynya kok," balas Mira.


Elkan mengangguk perlahan. Dari cerita Mira, saat Elkan berada di Rumah Sakit, Aryan dan Aaliya sering menangis dan tantrum. Akan tetapi, ketika Elkan sudah kembali ke rumah, kedua bayinya tidak lagi tantrum. Elkan juga menyadari Mira pasti lebih capek mengurus dua bayi dan dirinya.


"Bisa gendong Twins A lagi, rasanya seneng banget, Honey," kata Elkan.


Ungkapan hati Elkan dengan jujur. Dulu, dia merasa tak berdaya. Ingin membantu istri, tapi istrinya memintanya untuk beristirahat. Sekarang, setelah tubuhnya kian pulih, barulah Elkan bisa membantu lebih banyak dan tentunya bisa mengurus kedua buah hatinya. Mencium aroma bayi yang lembut, mencium kulit mereka yang halus, dan bounding skin dengan Aryan dan Aaliya.

__ADS_1


"Dulu kan Kakak baru keluar dari Rumah Sakit. Jadi, yang penting pulih dulu. Selama Kakak di rumah dan kian pulih saja, aku udah bahagia banget kok," balas Mira.


"Berkat kamu dan keluarga, aku sudah lebih baik. Namun, nanti aku menghadiri persidangan juga, Honey. Terkait Bagas," kata Elkan.


Elkan sekarang bisa berbicara jujur dan terbuka. Terkait dengan proses hukum yang dijalani Bagas membuat Elkan nanti beserta dua pegawai Coffee Bay lainnya akan dihadirkan sebagai korban dan diminta kesaksiannya. Oleh karena itu, Elkan dan dua pegawainya harus menghadiri persidangan.


"Jadi, motif kejahatannya Bagas apa sih, Kak?" tanya Mira sekarang.


"Ya, dendam aja, Yang. Dia ingin menghancurkanmu melalui aku. Dia merasa dicampakkan sebagai keturunan kandung mendiang Om Melvin. Apa tidak bisa mengusahakan keadilan untuk Bagas, jika dia terbukti anak biologis Mendiang Om Melvin?" tanya Elkan.


"Aku tidak tahu, Kak. Setahuku semua harta ibu tirinya Papa juga diberikan kepada Papa ketika Nenek Saras tiada. Melihat karakter Papa, aku yakin Papa tidak kemaruk tentang harta kok. Kalau datang dan menyampaikan dengan baik-baik pasti diberikan," kata Mira.


Sebab, Mira tahu Papa Abraham dan Mama Marsha bukan orang tua yang kemaruk harta. Mira bahkan pernah mendengar cerita dari Mamanya bahwa Papa Abraham tidak pernah mau menerima harta warisan dari Papa kandungnya. Semua itu, karena Papa Abraham merasa bahwa mendiang Papanya dulu tidak mengasuhnya, sementara Papa Abraham juga tidak pernah menjalankan peran sebagai seorang anak. Ketika Papa Abraham muda dan sempat berseteru dengan mendiang Om Melvin, Papa Abraham memilih mengalah. Lebih lanjut, Mama Marsha mengatakan rumah yang sekarang mereka tempati semula dikredit secara langsung kepada Papa Belva. Kala mereka sempat kesusahan, yang datang menolong justru adalah Papa Belva.


"Aku juga percaya sih. Lalu, kenapa mereka tidak berusaha mencari keluarga kamu sejak dulu yah?" tanya Elkan.

__ADS_1


Mira mengedikkan bahunya. Jujur, Mira juga tidak tahu kenapa kemunculan Bagas dan Tante Lista baru sekarang. Kalau melihat lagi ke masa lalu, Bagas dan Mira juga satu sekolah di SMA, sehingga Bagas juga pastilah tahu siapa orang tua Mira dan keterkaitannya dengan mendiang Om Melvin.


"Kisah kedua orang tua kita sama-sama pelik yah, Kak. Mama Sara yang rupanya cinta kedua yang akhirnya menjadi cinta terakhir Papa Belva. Begitu juga kedua orang tuaku. Kadang mengurai benang merah sama lalu sangat tidak mudah," kata Mira sekarang.


Elkan kemudian menganggukkan kepalanya. "Benar, Sayang. Apalagi Mama dan Papa pernah terlibat rahim sewaan atau menyewa rahim. Untung Semesta selalu memiliki cara untuk menyatukan kedua pasangan yang saling jatuh cinta yah," balas Elkan.


"Kisah rumit, segitiga bahkan segiempat, dan aku yakin penuh air mata. Boleh enggak aku memiliki harapan lain bersamamu, Kak?" tanya Mira.


Elkan dengan cepat menganggukkan kepalanya. "Ya, boleh saja."


"Jujur, kamu cinta pertamaku, Kak. Aku ingin kisah kita tidak seperti kedua orang tua kita. Kita memiliki kisah tidak ada pihak ketiga dan marilah kita menjadi satu-satunya untuk pasangan kita," kata Mira.


Mendengarkan ucapan Mira, Elkan menganggukkan kepalanya. Dia juga ingin tidak ada pihak ketiga dalam rumah tangganya. Ingin menjadi yang pertama, sekaligus yang terakhir untuk satu sama lain.


"Aku juga mengharapkan hal itu, Honey. Dalam pernikahan ada pasang dan surutnya. Ketika air pasang eratkan tangan untuk menikmati tingginya air. Akan tetapi, ketika air surut nanti, kita berlarian bersama di bibir pantai. Satu lagi, jangan pernah bosen denganku," kata Elkan.

__ADS_1


Mira menganggukkan kepalanya. Dia setuju dengan apa yang dikatakan oleh suaminya itu. Mira juga percaya bahwa rumah tangga itu penuh warna. Bertahun-tahun menjalani rumah tangga dengan Elkan juga membuat Mira belajar banyak hal. Oleh karena itu, Mira berharap keduanya bisa terus bersama. Menua bersama hingga akhir menutup mata nanti.


__ADS_2