
Keesokan harinya, jelang makan siang Andin dan Evan benar-benar datang ke rumah Elkan dan Mira. Evan tidak menghubungi Elkan terlebih dahulu. Pikirnya adalah untuk memberikan kejutan kepada adiknya. Evan juga membawa beberapa makanan karena ingin makan siang bersama adik-adiknya itu.
Begitu sudah tiba di kediaman Elkan dan Mira, Evan segera mengetuk pintu rumah Elkan itu. Tidak berselang lama, ada Mira yang membukakan pintu. Betapa kagetnya Mira ketika yang datang adalah kakak iparnya yaitu Evan dan Andin. Namun, lantaran masih teringat dengan salah paham kemarin, Mira kembali kikuk dan canggung rasanya.
"Kak," sapa Mira dengan lirih.
"Jadi, aku enggak disuruh masuk nih?" tanya Evan dengan tersenyum.
Belum sampai Evan masuk, sudah terdengar suara Elkan. "Siapa Honey?"
Tidak ada jawaban dari Mira, hingga Elkan kini juga berdiri di depan pintu. Sama seperti Mira, Elkan juga bingung kala kakaknya datang ke rumahnya bersama kakak iparnya.
"Kak Evan," sapa Elkan.
"Iya, kalian tidak menyuruh kami masuk ke dalam?" tanya Evan.
Akhirnya Elkan dan Mira mempersilakan mereka untuk masuk. Walau jujur Mira sendiri bingung. Dia juga takut salah bersikap yang akhirnya bisa memperkeruh suasana. Oleh karena itu, Mira memilih untuk diam. Dia segera menuju ke dapur dan membuatkan minuman untuk kakak-kakaknya.
"Kami tidak mengganggu weekend kalian kan?" tanya Evan.
"Enggak, Kak. Kami biasanya juga nyantai aja kok waktu weekend," balas Elkan.
Agenda Mira dan Elkan kala liburan hanya bermalas-malasan di rumah dan cuddling time. Entah, sejak dulu di Sydney. Jika libur, Mira akan senang mendusel pada suaminya itu. Bahkan bisa beberapa jam hanya tiduran sembari memeluk, memberikan pelukan, ciuman kecil, atau yang lainnya. Layaknya pasangan muda yang tanpa beban.
Namun, kala hamil ini, Mira juga sama. Lebih suka untuk menempel dengan suaminya itu. Tidak suka jika berjauhan dengan Elkan.
"Baiklah, jadi aman enggak menggangu pengantin muda," balas Evan.
Dari cara bicara dan senyuman di wajah Evan, terlihat jelas sudah tidak ada beban di wajah Evan. Walau, Andin sendiri masih diam. Dia menunggu Mira yang bergabung dengan mereka di ruang tamu.
"Di minum, Kak. Teh untuk Kak Andin, dan kopi hitam untuk ... Kak Ev," kata Mira.
Ya, lantaran sudah kenal lama. Mira juga tahu kalau kakak iparnya Evan menyukai kopi hitam.
"Makasih, Ra," kata Andin.
__ADS_1
"Makasih Adikku," kata Evan.
Mira bingung, saking bingungnya dia menatap Elkan dan segera duduk di samping suaminya itu. Jujur, Mira takut kalau salah bersikap dan membuat salah paham lagi. Jadi, Mira masih diam dan tidak menanggapi berlebihan.
"Tumben ke sini Kak?" tanya Elkan.
"Iya, nganterin Istriku," balas Evan.
Setelah itu, Evan memberikan waktu untuk Andin. Jika memang mau melakukan rekonsiliasi lebih baik dilakukan sekarang. Toh, Mira dan Elkan juga sudah ada. Tidak perlu menunggu lama lagi.
"Mira dan Elkan, aku ke sini karena aku mau minta maaf kepada kalian. Terlebih kepada kamu, Ra. Maaf, aku yang salah paham dan cemburu buta. Bukan tanpa sebab, aku takut jika ada saudara yang merebut apa yang aku miliki. Pengalaman sebelumnya, kakakku sendiri selalu merebut apa yang aku miliki. Oleh karena itu, maafkan aku. Aku yang salah. Harusnya aku lebih mengerti bahwa kamu dan Mas Evan sudah mengenal sangat lama."
Andin berbicara panjang lebar. Selain itu, Andin menjelaskan bagaimana dia bisa bersikap seperti itu. Hanya ketakutan sendiri yang berdasarkan pada masa lalu.
"Tidak apa-apa, Kak Andin," balas Mira.
"Aku yang seperti anak-anak yah. Aku cemburu buta tak berdasar. Maafkan aku Mira dan Elkan."
Andin menitikkan air mata. Belum pernah dia melakukan rekonsiliasi seperti ini. Namun, berkaca pada masa lalu, Andin berani minta maaf. Dia tulus meminta maaf.
Andin berjalan, dia duduk dekat Mira. Wanita itu mengulurkan tangannya.
"Maafkan aku ya, Mira. Maaf banget," kata Andin.
Mira mengangguk dengan air mata yang berlinang di sudut matanya. Tangannya terulur dan berjabat tangan dengan kakak iparnya sendiri. Bukan sekadar berjabat tangan, keduanya juga berpelukan dan saling menangis.
Lega rasanya sudah tidak ada salah paham lagi. Evan juga datang dan mendekati adiknya.
"Maaf yah, El," kata Evan.
Sebagai kakak dan orang yang lebih tua, Evan tak segan untuk meminta maaf kepada Elkan. Kakak beradik itu juga saling memeluk. Berbeda, jika pria cukup memeluk saja, tidak perlu menangis.
"Makasih kemarin kamu sudah mengingatkan aku bahwa keluarga Agastya itu memiliki ikatan yang kuat. Maaf yah," kata Evan.
"No problem, Kak. Keluarga juga bisa bertikai juga kok. Beruntungnya, semua ini tak berlarut-larut. Kita keluarga," kata Elkan.
__ADS_1
"Lega, semoga gak ada perselisihan dan salah paham," kata Evan.
"Iya, Kak. Ingat pesannya Papa dan Mama enggak? Kita ini keluarga. Kuat atau tidak, bahagia dan susah, kita akan saling memiliki dan mendukung satu sama lain. Jangan terpecah karena masalah sepele. Mari hidup rukun dan berdampingan satu sama lain," kata Elkan.
Evan menganggukkan kepalanya. Benar yang disampaikan Elkan. Biasanya keluarga mudah terpecah. Terlebih keluarga taipan yang bisa berebut harta warisan. Tak jarang berakhir dengan persimbahan darah. Elkan mengingatkan lagi bahwa yang mereka miliki sejatinya adalah keluarga. Saling mendukung dan saling menguatkan. Tidak akan berselisih untuk masalah sepele bahkan rebutan harta. Itu yang selalu dinasihatkan Mama Sara dan Papa Belva.
"Sudah, Bumil jangan menangis. Maaf yah. Nanti, kami makan siang di sini yah," kata Andin.
Mira menyeka air matanya kemudian memberikan jawaban. "Kak, aku belum memasak tuh," katanya.
"Tenang, Ra. Kami sudah bawakan lauknya. Kamu ada nasi putih enggak? Kalau enggak ada biar Andin yang masak nasinya," balas Evan.
"Ada kok, Kak. Kalau cuma nasi putih ada kok," balas Mira dengan tersenyum.
Evan pamit keluar sebentar dan mengambil kotak bekal yang dia bawa dari rumah. Dia tahu adik-adiknya menyukai Seafood. Oleh karena itu, dia datang dan membawa aneka olahan Seafood.
"Seafood?" tanya Mira.
"Iya, kan kesukaan kalian. Selalu itu proteinnya dari hewan laut bagus untuk kebutuhan Omega 3 dan 6 untuk keponakanku," balas Evan.
Mira tersenyum. Jika bisa kembali akrab dengan Kak Evan, Mira merasa senang. Bumil itu kembali menitikkan air mata.
"Kakak Ev," balasnya.
Evan tersenyum, dia kemudian merangkul Mira. "Jangan nangis. Dulu kalau kamu berantem sama Elkan, kamu nangis dan lari ke aku. Mengadu bagaimana nakalnya Elkan. Sekarang jangan nangis," kata Evan.
Mira menganggukkan kepalanya. "Kak Ev ... makasih banyak selalu menjadi sosok kakak yang hebat untukku," balasnya.
Elkan tersenyum. "Udah jangan lama-lama merangkul istriku, nanti aku yang cemburu," balasnya dengan mengurai tangan kakaknya dan Elkan merangkul Mira dengan posesif.
Mereka tertawa, dan Evan merangkul Andin. "Seperti ini keluarga Agastya, Sayang. Saling menyayangi satu sama lain. Kita kuat sebagai keluarga, karena saling menyayangi."
"Iya, Mas Evan sekarang aku tahu," balas Andin.
Semoga rekonsiliasi ini memberikan dampak yang baik. Mira dan Andin sebagai menantu keluarga Agastya juga semakin akrab, memiliki hubungan layaknya adik dan kakak. Ini bukan akhir, tapi awal bentuk hubungan kekeluargaan yang baru.
__ADS_1