Romansa Pengantin SMA

Romansa Pengantin SMA
Seakan Tak Ada yang Berubah


__ADS_3

Biasanya ketika orang menikah, suami dan istri akan tinggal bersama dan mulai membina hidup berumahtangga. Akan tetapi, semua itu tidak berlaku untuk Mira dan Elkan. Sebab, usai akad pernikahan yang dilangsungkan di Bogor. Keesokan harinya, keluarga Agastya dan Narawangsa kembali ke Jakarta. 


Untuk Mira sendiri, tentu dia bisa bernafas lega. Selain itu, bersiap untuk semester dua atau semester terakhirnya di masa Putih Abu-Abu. Namun, Mira tetap ingat bahwa dia sudah menikah. Bagaimana pun, Mira tak akan melupakan bahwa dia sudah menjadi istri orang. 


"Baiklah Mira, besok mulai berangkat sekolah barengan sama Elkan yah," ucap Mama Sara kepada menantunya yang masih belia itu. 


Mira tampak menganggukkan kepalanya, "Iya Mama ... Mira terbiasa datang ke sekolah lebih pagi. Jadi, Kak El besok jemput Mira lebih cepat yah," balasnya. 


"Iya, mulai besok aku akan berangkat ke sekolah lebih pagi juga," balas Elkan. 


Sebenarnya Elkan berbeda dengan Mira. Jika Mira lebih memilih datang lebih pagi ke sekolah. Elkan justru senang datang agak siang, atau berselisih sekian menit saja dari jam masuk. Namun, karena Mira terbiasa datang ke sekolah pagi, maka Elkan pun akan turut menyesuaikan. 


"Sering main ke rumah kami juga, El ... bagaimana pun, kamu adalah menantu kamu. Bantuin Marvel belajar juga boleh. Kamu kan jago Matematika," ucap Papa Abraham kepada Elkan di sana. 


Elkan pun tersenyum seraya menganggukkan kepalanya, "Baik Pa, nanti El akan sering main ke sini. Sekalian jengukin istri," jawabnya. 


Mendengar apa yang Elkan sampaikan sampai membuat Mama Sara, Papa Belva, Mama Marsha, dan Papa Abraham tertawa. Selera humor Elkan masih ada. Belum hilang. Jika semua tertawa, sementara Mira hanya menundukkan wajahnya. Rasanya aneh juga ketika Elkan mengatakan sekalian mengjenguk istri. Namun, di hadapan para orang tua, Mira bersikap tenang. 


"Ya sudah, kami pamit yah. Jaga diri baik-baik ya Mira. Kapan-kapan menginap di rumah Mama dan Papa boleh," ucap Mama Sara. 


"Iya Ma," balas Mira. 


Setelahnya keluarga Mira pun masuk ke dalam rumah. Sementara Mira juga masuk ke dalam kamarnya. Setidaknya Mira merasa lega karena sekarang seolah tak terjadi apa-apa antara dirinya dan Elkan. Semua seolah kembali ke tempatnya. Kembali pulang ke rumah, menempati kamarnya, tidak ada bayang menakutkan harus tinggal bersama Elkan. Namun, ketika Mira berbaring di tempat tidurnya. Gadis itu mengangkat tangannya, matanya mengamati cincin pernikahan yang melingkar di jari manisnya. 


"Bagaimana pun kamu sudah menikah, Mira. Walau sekarang masih tinggal bersama orang tua. Cincin ini menjadi tanda, bahwa kamu sudah ada yang memiliki. Benar-benar aku tidak menyangka di usia 18 tahun, aku menjadi pengantin dan istri dari teman kecil, tetanggaku, dan teman sebangkuku, Elkan Agastya."


Mira bergumam dalam hati sembari mengamati kilau dari berlian yang terpasang di jari manisnya. Memang Mira dan Elkan memilih cincin pernikahan yang bentuknya berbeda. Itu untuk meredam timbulnya kecurigaan dari teman mau pun guru di sekolah. Jika cincin milik Mira bertahta berlian, cincin milik Elkan hanya bulat polos. Tidak ada hiasan di cincinnya. 


"Mungkin memang sebaiknya begini. Aku menikah karena Mama dan Papa khawatir kalau aku ikut-ikutan pergaulan bebas di luar negeri nanti. Padahal aku bisa menjaga diri. Namun, biarlah. Toh, dengan seperti ini seolah semua kembali ke tempatnya. Aku akan menjalaninya dan terus menggapai semua yang aku cita-citakan," gumam Mira seorang diri. 

__ADS_1


Hingga malam tiba, rupanya ada tamu yang datang dan menekan bel pintu kediaman Narawangsa. Kala itu, Mama Marsha meminta bantuan Mira untuk membukakan pintu. Betapa kagetnya Mira begitu membuka pintu ternyata ada Elkan di sana. 


"Kak Elkan ngapain ke mari?" tanya Mira dengan bingung. 


"Jengukin kamu, sama di suruh Mama," balas Elkan. 


Mira memutar bola matanya malas. Baru siang mereka berpisah dan pulang ke rumah masing-masing, dan sekarang Elkan sudah dan berkata menjenguknya. Menurut Mira, apa yang disampaikan Elkan terdengar lebay. 


"Siapa Mira?" tanya Mama Marsha lantaran masih melihat Mira berdiri di depan pintu. 


"Oh, ini Ma," sahut Mira. 


Namun, belum selesai Mira menjawab pertanyaan Mamanya. Elkan sudah menyela terlebih dahulu. 


"Elkan, Ma ... menantunya Mama," selanya dengan memasuki rumah mertuanya. 


"Oalah, Elkan tow ... masuk, Nak," balas Mama Marsha. 


Mama Marsha pun tersenyum, "Repot-repot sih, El ... sampaikan kepada Mama dan Papa yah, kami berterima kasih. Sebenarnya gak perlu repot-repot. Apa kamu mau jengukin Mira?" tanya Mama Marsha. 


"Iya Ma, mau ngobrol sebentar saja kalau boleh," balas Elkan. 


Mama Marsha bukan tipe orang tua yang kolot. Dia juga memberikan waktu kepada Elkan untuk sekadar mengobrol dengan Mira. Toh, Mama Marsha juga yakin bahwa Elkan dan Mira tidak akan macam-macam. 


Akhirnya Mira dan Elkan duduk bersama di depan rumah. Menikmati semilir angin malam dan juga suara mobil atau sepeda motor yang kebetulan lewat. 


"Kamu biasanya berangkat sekolah jam berapa, Ra?" tanya Elkan kemudian


"Jam setengah tujuh, Kak," balas Mira. 

__ADS_1


Elkan tampak menganggukkan kepalanya, "Baiklah, kurang dari setengah tujuh, aku akan tiba di sini," balasnya. 


"Iya Kak," balas Mira. 


"Ra, boleh aku tanya satu hal lagi?" tanya Elkan kemudian. 


Kini Mira menganggukkan kepalanya dan mempersilakan Elkan untuk bertanya kepadanya. "Boleh-boleh saja," balasnya. 


"Di Australia nanti kamu mengambil jurusan apa, Ra?" tanyanya. 


"Kuliahku ya Kak?"


"Iya," jawab Elkan. 


"Bisnis sih, Kak. Standar sih, bukan jurusan yang wah seperti kedokteran," balas Mira. 


Elkan kali ini tampak menganggukkan kepalanya. Setidaknya dia tahu jurusan apa yang diambil Mira saat kuliah nanti. Hanya sekadar ingin tahu. 


"Aneh sih Kak, padahal Kak El bisa Whatsapp aku aja loh," kata Mira sekarang. 


"Lebih enak tanya langsung. Sapa tahu karena melihat namaku, pesanku gak kamu balas," jawab Elkan. 


Mira pun menggelengkan kepalanya perlahan, "Enggaklah Kak, semua pesan yang masuk. Pasti aku jawab kok," balas Mira. 


Elkan sedikit beringsut untuk bisa menatap wajah Mira, "Baiklah, pastikan mulai sekarang kalau aku mengirimimu pesan harus dibalas ya, Ra. Jangan lama-lama balasnya," balas Elkan. 


Mira pun menganggukkan kepalanya, "Iya Kak, pasti," jawabnya. 


Setelahnya Elkan pun berdiri, "Ya sudah, pamit ya Ra. Besok aku jemput sebelum jam setengah tujuh pagi. Santai aja kalau anak-anak di sekolah mengira yang enggak-enggak. Paling juga dikiranya kita pacaran," ucap Elkan di sana. 

__ADS_1


Sekarang barulah Mira menyadari bahwa kemungkinan semua akan berubah. Tidak mungkin dengan pernikahan dan jalinan ikatan ini akan membuat semua kembali ke tempatnya. Tetap ada konsekuensi logis untuk semuanya. Namun, biarkanlah saja. Sebab, Mira hanya ingin melewati masa satu semester di Putih Abu-Abu tanpa terbeban dengan pernikahannya.


__ADS_2