
Mengikuti Ujian Akhir Nasional, seolah menjadi pertarungan terakhir untuk Mira dan Elkan. Bagaimana pun masa tiga tahun di Putih Abu-Abu, akan ditentukan dengan ujian selama tiga hari saja. Untungnya, baik Mira dan Elkan dalam tiga hari ini seolah tidak memiliki kendala.
Bahkan Elkan sendiri merasa untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia di hari pertama bisa mengerjakan dengan lancar. Entah itu karena dukungan dari Mira, pensil yang diberikan oleh Mira, atau memang sedang jatuh cinta sehingga semua soal rasanya sangat mudah untuknya.
Di hari ketiga, sekaligus hari terakhir pelaksanaan Ujian Akhir Nasional, Mira dan Elkan sama-sama bersemangat. Tidak menyelesaikan semuanya. Hingga tiga hari penuh bisa diselesaikan Elkan dan Mira.
Usai ujian, Elkan kemudian menyusul ke ruangan Mira. Pemuda itu tersenyum dan berdiri di depan meja Mira.
"Pulang?" ajaknya kemudian.
"Sebentar, Kak. Aku rapikan alat tulis dulu," balas Mira.
Elkan menganggukkan kepalanya. Jika hanya menunggu Mira saja, sudah pasti Elkan akan menunggu. Justru bisa mencuri pandang ke Mira yang memang cantik. Tidak mengenakan kacamata justru membuat Mira kian cantik saja. Hingga ada Sonya dan Bagas yang berjalan di luar ruangan, tampak julid melihat Elkan berdiri di depan mejanya Mira.
"Bucin tak terkira. Iuuh, banget," ucap Sonya.
Akan tetapi, Mira dan Elkan memilih sama-sama tertawa. Setelahnya, mulailah Mira berdiri dan berbicara kepada Elkan.
"Ayo, kita pulang," ajaknya.
Tidak perlu banyak bicara, Mira memilih untuk menautkan tangannya di tangan Elkan. Kali ini. Elkan yang bingung, tapi Elkan pun menggandeng tangan Mira di sana. Biarlah keduanya bahagia dengan dunia mereka sendiri, yang pasti tidak merugikan orang lain.
"Sok banget sih ... sok jadi pasangan hits di sekolah," ucap Sonya.
Kali ini Mira menghentikan langkahnya, dia berbalik ke belakang dan menatap Sonya. "Kami berdua gak perlu menjadi hits di mata orang lain," ucap Mira.
"Ra, menurut gue. Loe keterlaluan, Ra. Apa iya karena Elkan kaya raya, loe jadi pamer kayak gini?"
Sekarang giliran Bagas yang mempertanyakan kenapa Mira yang dia kenal sekarang menjadi suka pamer. Apa itu karena Elkan yang memang kaya raya sehingga, Mira menjadi berubah di mata Bagas.
__ADS_1
"Makasih buat penilaian loe, Gas. Sangat disayangkan persahabatan kita berakhir karena kesalahan loe sendiri, Gas. Namun, loe selalu menyalahkan gue untuk semuanya," balas Mira.
Bagas sekarang terdiam dan tidak bisa berbicara. Memang dulu, keduanya bersahabat. Namun, semua berubah karena memang Bagas yang berubah terlebih dahulu. Selain itu, Mira juga memilih menjauh dari Bagas karena memang Bagas pernah melakukan kekerasan di sekolah kepadanya.
"Tidak usah ditanggapi, kita jalan saja," ucap Elkan dengan menggandeng tangan Mira dan mengajaknya keluar dari sekolah menuju ke dalam mobilnya.
Begitu sampai di mobil, Elkan menanyai Mira. "Gak udah dipikirin, Ra. Kamu gak apa-apa kan?"
"Aku gak apa-apa kok, Kak," balas Mira.
"Gak usah dipikirin. Terkadang gak semua omongan dari orang lain harus kita dengarkan kok. Biarin aja," balas Elkan.
Mira menganggukkan kepalanya. Kemudian Elkan melajukan mobilnya menuju ke rumah. Sudah bebas, karena UAN sudah dilalui. Hanya menunggu kelulusan dan juga wisuda nanti. Kalau pun masuk, paling hanya membahas soal UAN dan juga persiapan wisuda dan perpisahan.
Hingga ketika mobil Elkan sekarang sudah sampai di depan rumah Mira. Namun, Elkan seolah enggan untuk berpisah dengan Mira. Pemuda itu masih diam, jari-jari tangannya mengetuk-etuk stir kemudi. Tampak canggung, hingga akhirnya Elkan melepas sabuk pengamannya. Kemudian, Elkan beringsut untuk bisa menatap Mira.
"Ra, kamu masih ingat enggak, ketika selesai UAN, aku pengen meminta sesuatu kepadamu?"
"Hmm, minta apa Kak?" tanyanya.
"May i kiss you?"
Sekarang, Mira terdiam. Rupanya yang diminta Elkan adalah untuk bisa menciumnya. Wajah gadis itu memerah seketika. Pun dengan Elkan yang sejak tadi tampak mengamati Mira. Tatapannya seolah mengunci Mira, tak bisa membuat sangat gadis berkutik.
Sekarang, Elkan kian mendekat, memangkas jarak wajahnya yang hanya beberapa centimeter saja. Dalam jarak sedekat ini, bisa Mira rasakan terpaan nafas hangat Elkan, aroma parfumnya yang juga begitu maskulin. Tidak dipungkiri bahwa debaran di dada Mira kian menjadi-jadi. Kedua matanya menunduk, menghindari kontak mata dengan Elkan. Kini, wajah Elkan sudah tepat berada di depan wajahnya.
Lucunya, Mira justru memejamkan matanya di sana. Sinyal apa yang diberikan oleh Mira, hingga gadis itu memejamkan kedua matanya. Wajah Elkan pun kian mendekat.
Sampai ....
__ADS_1
Bibir Elkan nyaris mengecup bibir Mira. Namun, terdengar ketukan di kaca jendela mobil Elkan.
Tokk ... Tokk ...
"Kalian enggak turun?"
Rupanya dari luar mobil ada Papa Abraham yang baru saja pulang dari studio foto miliknya. Elkan buru-buru menarik wajahnya. Benar-benar takut dengan Papa Abraham yang tiba-tiba memergokinya.
Sementara Mira membuka kedua matanya. Gadis itu segera melepaskan sabuk pengaman dan segera turun. Semoga saja, Papanya tidak melihat yang aneh-aneh. Jika tidak, pasti nanti Papa Abraham bisa marah.
"Papa," sapa Mira begitu dia turun dari mobil.
Bukan marah, Papa Abraham justru tersenyum di sana. "Anak Papa mau ngapain tadi?" tanyanya.
"Enggak apa-apa, Pa. Itu Kak El mau bersihin kotoran di dekat mata Mira," kilahnya.
Elkan yang turun dari mobil pun memberikan salam kepada Papa mertuanya. "Papa, sudah pulang?" tanyanya.
"Sudah, El ... gagal yah?"
Terlihat wajah Papa Abraham yang menahan tawa. Memergoki anak-anaknya entah rasanya lucu saja. Namun, Papa Abraham tidak marah, karena memang mereka sudah sah untuk satu sama lain.
"Pa, nanti malam Elkan mau nginep di sini boleh tidak?"
Wah, rupanya Elkan tak kenal takut. Dia langsung meminta izin kepada Papa mertuanya untuk izin menginap. Jika Mira menunduk malu-malu, Elkan bersikap biasa aja.
"Boleh enggak sekolah?" tanya Papa Abraham.
"Hari tenang, setelah UAN, Pa," jawab Elkan.
__ADS_1
Walau sempat malu, tapi memang Elkan memilih percaya diri. Meminta kepada Papa mertua sendiri tidak ada salahnya. Walau sekarang gagal untuk mencium Mira, tapi dia berharap malam ini bisa menginap di rumah Mira.