
Bulan berganti dengan bulan, tidak terasa bahwa Elkan dan Mira sudah menempuh satu semester kuliahnya di Australia. Liburan musim dingin pun tiba. Tentu keduanya sangat senang karena bisa menyelesaikan semester pertama dengan suka dan dukanya sendiri.
Mulai beradaptasi dengan kuliah full bahasa Inggris dan kemudian pre test dan test yang harus dikerjakan. Selain itu, juga gangguan yang datang dari Rosaline. Akan tetapi, keduanya bisa menyelesaikan satu semester ini.
"Selesai sudah satu semester, Honey ... masih ada tujuh semester tersisa," ucap Elkan.
Ya, itu adalah hari terakhir mereka mengikuti test. Lega bisa mengerjakan ujian semester, tapi masih ada paper yang harus mereka kerjakan dan kumpulkan minggu depan. Walau satu atap, satu kamar, untuk urusan mengerjakan soal, tetap akan dikerjakan sendiri-sendiri.
"Masih ada satu paper yang harus dikerjakan dan dikumpulkan, Kak," balas Mira.
"Iya, masih satu minggu kan? Kamu liburan ini mau kemana? Jalan-jalan atau ngapain?" tanya Elkan kepada istrinya itu.
Mira kemudian menatap suaminya. "Liburannya lumayan lama ya, Kak ... sebenarnya pengen pulang ke Indonesia. Kangen Mama dan Papa," balas Mira.
Ya, sudah enam bulan tidak bertemu orang tuanya membuat Mira merasa rindu dengan Mama dan Papanya. Terlebih liburan musim dingin bisa berlangsung sampai dua bulan. Sebenarnya cukup lumayan jika pulang ke Jakarta.
"Pulangnya liburan semester depan aja, Honey. Liburan ini kita di Australia dulu. Jalan-jalan. Eksplore negeri Kangguru berdua juga boleh," balas Elkan.
Mendengar apa yang disampaikan suaminya, Mira berubah menjadi lesu. Selama di Australia, memang tempat yang mereka eksplor belum banyak. Bahkan mereka lebih banyak waktu untuk kuliah dan istirahat di unit saja. Baru area Sydney saja yang mereka kunjungi.
"Yah, padahal kangen Papa dan Mama," ucap Mira dengan jujur.
Bukannya Elkan tidak tahu perasaan Mira. Elkan sangat tahu bahwa Mira juga kangen dengan Mama dan Papanya. Terkadang jika memang begitu rindu, usai videocall dengan Mama dan Papanya pastilah Mira menangis. Dia menyadari bahwa tidak mudah untuk hidup jauh dari rumah. Terlebih Mira juga masih beradaptasi. Namun, kadang rasa rindu itu bisa datang dengan sendirinya dan membuat Mira menangis.
"Jangan ngambek ... katamu, kita harus menabung juga untuk masa depan. Janji, semester depan kita pulang ke Jakarta," ucap Elkan.
Berjalan dari kampus menuju ke unit mereka. Mira memilih diam. Walau sebenarnya, dia juga sudah hampir menangis. Bukan karena keinginannya tidak dituruti oleh Elkan, tapi karena rindu yang terakumulasi dengan orang tua.
Begitu sudah tiba di unitnya, barulah Mira menitikkan air matanya. Belum melepas tasnya saja, Mira sudah menangis terlebih dahulu. Sementara, Elkan segera memeluk istrinya itu. Tidak marah, tapi Elkan tahu itu adalah emosi yang memang seharusnya harus diluapkan. Selain itu, Elkan juga akan membersamai istrinya. Toh, mereka juga adalah pasangan yang memang harusnya berbagi emosi.
"Aku gak ngambek kok, Kak ... cuma kangen Mama dan Papa aja kok. Kayak anak kecil yah?" ucap Mira dengan menyembunyikan wajahnya di dada Elkan. Membiarkan beberapa tetesan air matanya membasahi dada suaminya.
__ADS_1
"Enggak apa-apa. Kan yah, kita masih muda juga kan. Kamu baru mau 19 tahun. Wajar, Honeyku," balas Elkan.
Elkan sepenuhnya memahami Mira. Bagaimana pun istrinya juga masih sangat belia, baru 19 tahun. Luapan emosi bisa seperti itu. Yang pasti Elkan yang lebih dewasa dua tahun darinya, akan berusaha untuk menjadi sosok yang lebih dewasa. Bisa menjadi sosok suami dan sahabat untuk istrinya. Terkadang, keadaan juga memaksa seseorang menjadi sosok yang lebih dewasa. Elkan hanya berpikir, bahwa dia yang lebih dewasa walau hanya 2 tahun, dia akan berusaha mengimbangi Mira.
"Fokus untuk menyelesaikan paper dulu ya, Honey," ucap Elkan lagi.
"Iya, Kak ... maaf yah," ucap Mira yang sekarang masih memeluk Elkan.
"Tidak usah meminta maaf. Santai saja, Sayang. Sudah satu semester kita lewati bersama. Bahkan kita sudah akan menyambut musim dingin pertama kita. Dingin-dingin kan semakin enak untuk menghangatkan satu sama lain," ucap Elkan.
Seketika, Mira mencubit pinggang suaminya itu yang membuat Elkan mengaduh dan memengusap perlahan cubitan istrinya itu. Sebab, cubitan Mira itu kecil dan rasanya seperti digigitan semut. Namun, itu sukses membuat Mira tertawa. Suka saja mencubiti suaminya itu.
"Aduh, sakit, Honey. Aku baru tahu sekarang kalau kamu itu hobinya nyubitin," ucap Elkan.
"Habis kamu modus terus kok ... jangan-jangan gak mau nganterin pulang ke Jakarta karena itu ya Kak?" tanya Mira.
Elkan terkekeh geli dan kemudian mengeratkan pelukannya. Gemes sekali dengan Mira. "Menyambut musim dingin pertama kita, Honey. Nanti aku ajak melihat salju, Honey. Ice skating bersama. Kapan lagi coba? Kalau pulang ke Jakarta, kita tidak akan bisa menikmati musim yang indah itu," ucap Elkan.
"Mau lihat Kangguru boleh?" ucap Mira sekarang.
Elkan dengan cepat menganggukkan kepalanya. "Boleh, nanti kita lihat kangguru bersama. Kamu pengen ke mana saja, juga akan selalu mengantarkan kamu. Mumpung kita liburan dua bulan. Dinikmati dulu, Honey. Nanti kalau sudah selesai kuliah dan juga berumahtangga dan dikarunia anak, waktu berdua seperti ini akan berkurang," ucap Elkan.
"Pacaran dulu ya, Kak," balas Mira.
"Iya, dong ... pacaran halal itu enak, Honey. Nikmat mana lagi yang kamu dustakan coba? Tidak termasuk zina, tidak termasuk tindakan asusila. Sebab, kita sudah bersatu dalam ikatan pernikahan. Justru ada sisi ibadahnya," balas Elkan.
Di saat Mira hendak membalas ucapan suaminya, rupanya ada telepon dan itu adalah handphone milik Mira yang berdering. Oleh karena itu, Mira segera menggeser ikon telepon hijau di layar handphonenya, dan melihat Mama Marsha yang sekarang menghubunginya.
"Halo, Assalamualaikum, Mama," sapa Mira begitu menerima telepon itu.
"Halo ... waalaikumsalam, Ra ... baru ngapain?" tanya Mama Marsha.
__ADS_1
"Baru selesai kuliah terakhir, Ma ... tadi ada test di kampus, tapi ini sudah pulang kok," balas Mira lagi.
"Oh, ini ... Mama akan mengirimkan makanan untuk kamu. Kira-kira kamu ingin dikirimin apa lagi? Mie instant lagi?" tanya Mama Marsha.
Mira pun tersenyum. "Iya, mie instant dan juga kue-kue saja, Ma," balas Mira.
"Baiklah, nanti sore Mama dan Papa akan mengirimkannya yah. Jangan banyak-banyak makan mie loh, Ra. Nanti kamu dan Elkan jadi enggak sehat. Kan cuma karbohidrat," ucap Mama Marsha.
Jujur saja mendengarkan suara Mamanya dan juga diingatkan oleh Mamanya seperti ini membuat Mira rindu dengan Mamanya. Wanita muda perlahan menundukkan wajahnya, dan air matanya kembali menitik. Rindu lagi dengan Mamanya.
"Papa sehat, Ma?" tanya Mira dengan berusaha menahan tangisannya.
"Sehat dong ... Papa kamu kan selalu sehat. Usia itu hanya umur. Namun, Papamu begitu muda kan," balas Mama Marsha dengan tertawa.
"Sampaikan salam dari Mira untuk Papa ya, Ma ... Mira kangen banget dengan Papa," ucapnya sekarang.
"Kamu menangis?" tanya Mama Marsha. Itu karena mendengar perubahan suara Mira.
Di sana, Mira tidak kuasa untuk menjawab pertanyaan Mama Marsha. Hingga akhirnya, Elkan yang meminta handphone milik Mira dan kemudian mulai bersuara melalui telepon itu.
"Mama, ini Elkan, Ma," ucap Elkan.
"Ya, El ... ada apa?" tanya Mama Marsha.
"Anaknya Mama ini baru menangis, Ma. Kangen Mama dan Papa," balas Elkan dengan sedikit tertawa. Sedikitnya Elkan hanya ingin Mama mertuanya tidak khawatir.
"Oh, anaknya Mama kangen yah," balas Mama Marsha.
"Tidak apa-apa, Ma. Wajar kok, memang sudah enam bulan berlalu," ucap Elkan.
"Makasih ya, El ... tolong jaga Mira yah. Semoga nanti di waktu yang baik, kita bisa bertemu yah. Selamat liburan musim dingin. Mama dan Papa juga sangat merindukan kalian berdua," ucap Mama Marsha.
__ADS_1
Ketika telepon sudah selesai, Elkan kembali memeluk Mira. Dia mengusapi puncak kepala Mira. Menenangkan istrinya itu. Memang sedang homesick, kangen rumah, dan kangen orang tua. Hal yang sangat wajar terjadi.