
Momen emosional yang membuat sedih, perlahan-lahan sudah bisa diredam Mira. Boleh bersedih, tapi tidak boleh terlalu lama. Sebab, bagaimana pun di Sydney atau di Jakarta yang pasti ada Elkan yang akan selalu menemaninya.
"Sudah enggak sedih kan?" tanya Elkan perlahan.
"Ya, masih sedih, tapi gak usah menangis. Lagipula, mau di Sydney atau di Jakarta nanti, kita akan selalu bersama kan Kak?" tanya Mira.
Dengan cepat Elkan menganggukkan kepalanya. Sudah pasti dia akan selalu bersama dengan Mira. Dia juga percaya bahwa mau di mana saja, keduanya akan selalu bersama.
"Benar, Honey. Di mana saja, kita akan selalu bersama kok," balas Elkan.
Itu adalah penyataan yang membuat Mira yakin mereka akan bersama. Walau di Jakarta nanti intensitasnya akan berkurang karena mereka juga akan mulai bekerja.
"Walau di Jakarta nanti aku mulai bekerja ya, Honey. Untuk menafkahi kamu dan baby kita," balas Elkan.
"Siap, Kakak. Aku juga tidak masalah. Penting selalu menjaga hati yah, Kak," pinta Mira.
Yah, tantangan untuk bekerja keluar dari rumah nanti tentu lebih beragam. Dulu Elkan kuliah dan sembari bekerja, hanya berada di unit saja dengan Mira. Akan tetapi, saat di Jakarta nanti tentu Elkan akan lebih banyak bekerja di luar. Oleh karena itu, Mira meminta suaminya untuk lebih menjaga hati.
"Pasti, Honey. Sebongkah daging bernama hati ini hanya milikmu," balas Elkan.
Mira menganggukkan kepalanya. Dia akan terus mempercayai Elkan. Sebagaimana dalam empat tahun ini, Mira sudah sangat mempercayai suaminya itu. Bahkan kala ada gangguan dari Rosaline dulu, kepercayaan cinta dari Mira tidak akan surut. Dia akan selalu mempercayai Elkan.
"Makasih, Kak ...."
Setelahnya, masih ada belasan jam yang harus mereka tempuh untuk tiba di Jakarta. Akhirnya, Mira dan Elkan memilih untuk tidur terlebih dahulu. Nanti kalau sudah waktunya landing, pastilah awak kabin akan membangunkan mereka.
...🍀🍀🍀...
Belasan jam kemudian ....
Mira dan Elkan sudah terbangun, karena mereka dibangunkan untuk menikmati sarapan. Pramugari pun mulai menyajikan makan pagi untuk seluruh penumpang di kelas bisnis itu.
__ADS_1
"Bisa tidur?" tanya Elkan.
"Lumayan, walau tak senyenyak dipeluk Kakak," balas Mira.
Wanita itu tersenyum, memang bisa tidur. Akan tetapi, rasanya memang tak senyenyak saat dipelukan Elkan. Biasanya, sangat nyenyak. Bahkan Mira mengakui, dalam dekapan Elkan bisa-bisa membuatnya tak terjaga sepanjang malam. Tidur pun lebih nyenyak dan lebih berkualitas.
"Nanti malam sudah aku peluk lagi, Honey," balas Elkan.
"Kita pulang ke mana sih ini, Kak? Rumah Papa Belva atau Papa Abraham?" tanya Mira.
"Aku kurang tahu, Honey. Ngikut Papa dan Mama kita saja maunya gimana," balas Elkan.
Mira menganggukkan kepalanya, karena memang lebih baik mengikuti terlebih dahulu apa yang diinginkan orang tua mereka. Walau sebenarnya, Mira sendiri menginginkan hidup mandiri dengan Elkan. Sebab, dalam tiga setengah tahun di Sydney, keduanya juga hidup berdua, berusaha mandiri.
Hingga usai sarapan, diberitahukan bahwa pesawat akan mulai mendarat di Soekarno - Hatta Internasional Airports. Seluruh penumpang diminta untuk mengenakan sabuk pengaman, burung besi di udara mulai mengurangi ketinggiannya. Perlahan memutar dan menukik, hingga beberapa belas menit kemudian roda-roda pesawat sudah menjejak di tanah dan melaju dengan begitu cepatnya. Hingga akhirnya, pesawat udara benar-benar sudah mendarat.
"Welcome to Jakarta," kata Elkan dengan tersenyum kepada Mira.
"Sudah 3,5 tahun, aku tidak pernah pulang ke Indonesia," kata Mira.
"Benar, aku sebelumnya sudah pulang waktu Kak Evan menikah. Seneng kan?" tanya Elkan.
"Iya, senang ... yang penting ada kamu," jawab Mira lagi.
Setelah itu, mereka keluar dari pesawat. Menunggu untuk mengambil bagasi. Serta sudah ada pasangan Mama Sara dan Papa Belva, Mama Marsha dan Papa Abraham.
"Setelah sekian lama, kamu pulang ke Jakarta, Ra," kata Papa Abraham kepada putrinya itu.
"Iya, Pa ... baru sekarang pulang. Terbayang dulu, lulus kuliah Mira langsung ke Sydney. Masih Abg banget," jawabnya.
"Sekarang, sudah harus lebih dewasa. Papa senang, pendidikan kamu berjalan baik," balas Papa Abraham.
__ADS_1
Hampir dua puluh menit menunggu semua koper terkumpul, dan mereka semua berjalan menuju ke pintu kedatangan. Rupanya sudah ada Evan yang menjemput keluarganya. Pria tampan itu sangat bahagia melihat adiknya sudah menyelesaikan kuliah di Australia.
"Dijemput Kak Evan?" tanya Mira.
"Iya, Kakak yang jemput kita semua," balas Elkan.
Tampak Evan segera memeluk adiknya itu. Ada tawa spontanitas kala keduanya bertemu dan saling memeluk. Kakak adik dengan selisih usia empat tahun itu tampak begitu akrab satu sama lain.
"Wah, congratulations Brother ... sudah lulus. Welcome to Jakarta," kata Evan.
"Thank's My Big Brother," balas Elkan.
Usai itu, Evan juga memeluk Mira. Bukan hal berlebihan, karena dulu ketiganya tumbuh bersama-sama sebagai tetangga dan teman kecil.
"Congratulations Adik Ipar," sambut Evan.
"Makasih, Kak Ev ... sorry banget, aku dulu tidak bisa pulang kala Kakak menikah. Di mana Kakak iparku?" tanya Mira.
"Ada di rumah, sedang menyiapkan ujian skripsinya. Kan dia seumuran kalian. Nanti main ke rumah yah," balas Evan.
"Seusia kami?" tanya Mira.
Evan menganggukkan kepalanya. "Iya, seusia kamu," balas Evan.
Mira tertawa. Dia justru baru tahu kalau Kakak Iparnya itu menikah dengan wanita yang lebih muda darinya. Seusia dengan Mira.
"Kalian kan lulus 3,5 tahun, sementara Andin lulus 4 tahun. Waktu normal kuliah di Indonesia," balas Evan.
Barulah Mira tahu. Pantas saja memang dia dan Elkan sudah lulus terlebih dahulu. Kemudian Mira bercanda kepada kakak iparnya itu.
"Kak Ev dapat brondong dong," katanya lirih.
__ADS_1
Baik Evan, Elkan, dan Mira sama-sama tertawa. Lagipula siapa pula yang mengira seorang Evander Agastya yang begitu karismatik bisa jatuh hati pada Andini Sukmawati yang notabene jauh lebih muda darinya. Semula, Mira berpikir kakak iparnya nanti sudah jauh lebih dewasa, rupanya usianya tidak jauh berbeda.