Romansa Pengantin SMA

Romansa Pengantin SMA
Unsur Kesengajaan


__ADS_3

Papa Belva tidak tinggal diam. Di Rumah Sakit, dia mempercayakan orang kepercayaannya untuk mengurus kejadian di Coffee Bay. Bahkan Papa Belva sekarang meminta izin kepada Mama Sara untuk ke Tempat Kejadian Perkara dulu. Sebab, lebih cepat diusut akan lebih baik.


"Mama, Papa ke Coffee Bay dulu yah. Nanti Papa ke sini lagi," pamitnya.


"Iya, Pa. Hati-hati," balas Mama Sara.


Sekarang, Elkan sudah dipindahkan ke kamar rawat inap kelas VIP. Dua pegawai yang lain juga ditempatkan di kelas VIP, Mama Sara dan Papa Belva selaku pemilik tidak membeda-bedakan antara anak kandung dan staff nya. Semuanya diperlakukan sama.


Sementara Mira lebih tenang karena kondisi suaminya tidak begitu mengkhawatirkan. Elkan juga berusaha tidak menunjukkan sakitnya. Walau luka di wajah dan kaki tetap saja perih dan sakit rasanya.


"Sudah, jangan nangis, Honey. Busui gak boleh stress loh. Kalau stress nanti ASI-nya bisa enggak keluar. Aryan dan Aaliya kan butuh banget ASI-nya," kata Elkan.


"Iya, Kak. Sudah gak nangis, tapi masih sedih aja," aku Mira dengan jujur.


Dia mengakui bahwa dia masih sedih. Bagaimana pun hati seorang istri akan merasa sedih ketika suaminya sedang sakit. Itu juga yang Mira rasakan kini.


"Benar, Mira ... jangan terlalu stress. Elkan pasti pulih. Nanti sore kita pulang yah? Kasihan Aryan dan Aaliya," kata Mama Sara.


Jujur, sebenarnya Mira ingin menemani suaminya di Rumah Sakit. Akan tetapi, Mira juga sadar bahwa ada dua bayi kecilnya yang membutuhkan dirinya sekarang. Dia harus membuat skala prioritas. Walau hatinya juga ingin menjaga Elkan.


"Kak Elkan nanti bagaimana Ma?" tanya Mira.

__ADS_1


"Nanti ditemani Papa Belva dan Papa Abraham kok. Tenang saja, kasihan Twins kalau Mommynya di sini," balas Mama Sara.


Mira menganggukkan kepalanya. Dia setuju dengan nasihat dari Mama Sara. Selama di Rumah Sakit, Mira berusaha melayani Elkan, menyuapi suaminya, membantu apa yang bisa dia lakukan. Mira berusaha mensupport suaminya.


Mama Sara merasa anak-anaknya walau masih muda sudah bisa menanggung beban bersama. Mungkin karena terbiasa hidup berdua di luar negeri, sehingga Elkan dan Mira seakan saling mempedulikan satu sama lain.


Hingga sore tiba, ada Kak Evan yang datang untuk menjenguk Elkan dan sekaligus menjemput Mamanya dan Mira sekaligus.


"Bagaimana kondisimu, El?" tanya Kak Evan.


"Seperti ini, Kak," jawab Elkan berusaha tersenyum.


"Sudah diurus Papa? Jangan sampai terjadi sabotase," balas Evan.


Di dalam hatinya sendiri Elkan juga yakin ada unsur kesengajaan. Sebab, sebelumnya tidak pernah terjadi kejadian seperti ini. Akan tetapi, sekarang justru ada tiga korban. Elkan yakin dengan menyelidiki, pasti akan tertangkap siapa pelakunya.


...🍀🍀🍀...


Sementara itu di Tempat Kejadian Perkara ....


Polisi menyelediki kejadian yang terjadi siang tadi. Rekaman CCTV dan kesaksian para saksi mata pun dikumpulkan. Selain itu, Papa Belva juga melihat ada kedai kopi baru berhadap-hadapan dengan Coffee Bay. Sekadar melihat saja Papa Belva merasa bahwa ini persaingan bisnis yang tidak sehat.

__ADS_1


Terlihat ada beberapa menu di baliho yang mirip dengan menu di Coffee Bay. Papa Belva pun kemudian berbincang dengan penyidik dari kepolisian.


"Ada unsur kesengajaan Pak Belva. Apakah anaknya Pak Belva tidak memiliki saingan bisnis?" tanya penyidik.


"Sejauh yang saya tahu sih tidak ada. Elkan juga mengelola Coffee Bay dengan baik," balas Papa Belva.


Berdasarkan proses penyidikan akhirnya supir pick up itu ditangkap dan didakwa sebagai tersangka. Supir pick up itu pun mengelak.


"Bukan saya, Pak. Saya hanya disuruh," kilahnya berusaha membela diri.


"Siapa yang menyuruh kamu?" tanya penyidik dari kepolisian.


"Pemilik Say to Coffee, Pak. Namanya Bagas ...."


Keterangan dari supir akan dipertimbangkan untuk memberikan dakwaan selanjutnya. Juga akan dimasukkan dalam Berita Acara Penyidikan. Yang pasti Papa Belva meminta semuanya diusut dengan tuntas. Dia menginginkan semua yang bersalah mendapatkan hukumannya.


Akhirnya polisi memasuki outlet Say to Coffee dan mencari pemiliknya yang bernama Bagas. Namun, keterangan dari karyawannya usai kejadian, Bagas pergi ke Palembang. Papa Belva sudah berfirasat tidak enak. Mungkinkah pelakunya berusaha melarikan diri.


"Saya harap semua yang terlibat ditangkap tanpa terkecuali," kata Papa Belva dengan tegas.


"Baik Pak Belva, kami akan bekerja sama dengan kepolisian Palembang dan segera menangkap otak di balik kejadian ini," kata polisi.

__ADS_1


Papa Belva merasa geram. Sudah pasti ini adalah upaya yang sudah terencana. Elkan yang menjadi target utamanya, hanya saja nasib naas justru dialami dua pegawai lainnya. Papa Belva akan melakukan apa pun untuk menangkap Bagas. Bahkan Papa Belva akan meminta orang kepercayaannya sendiri untuk mencari tahu identitas Bagas itu.


__ADS_2