
Menyelesaikan membayar semua belanjaan, Elkan mengajak Mira menitipkan barang-barang belanjaan mereka terlebih dahulu. Setidaknya ingin mengajak Mira berkeliling juga mumpung masih berada di pusat perbelanjaan.
"Jalan-Jalan dulu, Honey," ajak Elkan.
"Nanti Twins A nangis enggak, Kak?" tanya Mira.
"Enggak lah. Paling juga enggak nangis, Honey. Ada Oma dan Opanya juga, Honey," kata Elkan.
Akhirnya Mira menuruti suaminya itu. Maklum, Mira sudah menjadi ibu, sehingga sering ada rasa tidak tenang ketika bepergian terlalu lama. Namun, sekarang tidak ada salahnya berjalan-jalan sebentar.
"Kak, lihat di baju-baju anak dulu boleh?" tanya Mira sembari menunjuk sebuah outlet yang menjual baju-baju anak.
"Boleh, Honey. Beliin sekalian untuk Aryan dan Aaliya. Mereka kan udah bertambah makin besar," balas Elkan.
"Baju bayinya udah banyak yang gak muat, Dad," balas Mira.
Akhirnya mereka memasuki outlet yang menjual baju-baju bayi. Mira merasa gemas dengan baju-baju yang didisplay di sana. Terutama baju anak cewek yang banyak pilihan warna dan modelnya. Itu membuat Mira seakan ingin membeli banyak untuk Aaliya.
"Beli buat Twins boleh, Dad?" tanya Mira lagi.
__ADS_1
"Boleh, Honey. Beliin aja, aku bantu pilihin yah. Bajunya gak harus sama kan?" tanya Elkan.
"Enggak harus kok, Kak. Beda enggak apa-apa. Toh, anak kita kan kembar fraternal," balas Mira.
Elkan menganggukkan kepalanya, karena dia sudah menjadi Daddy, Elkan lebih banyak memilihkan baju-baju untuk Aryan. Secara khusus setelan yang bisa dikenakan untuk pakaian rumahan. Sementara, Mira memilihkan untuk Aaliya.
"Silakan Kak, baju-bajunya. Ini series terbaru, bisa untuk keponakannya," kata sales di sana.
Mira dan Elkan tersenyum. Memang sering kali para sales atau penjaga toko mengira mereka membeli untuk keponakan, padahal mereka membeli untuk anak mereka sendiri.
"Sizenya ada sampai untuk anak empat tahun, Kak," kata penjual di sana lagi.
Kemudian penjual itu mengeluarkan semua series terbaru baju rumahan berupa setelan untuk anak-anak. Wah, Mira agaknya tertarik. Warna dan desain gambarnya lucu-lucu.
"Beli aja. Semua juga boleh," kata Elkan.
"Keponakannya cewek atau cowok Kak?" tanya penjual itu lagi.
"Cowok dan cewek sih," jawab Mira lagi-lagi dengan menahan tawa.
__ADS_1
Akhirnya Mira membeli beberapa stel baju untuk Aaliya dan Aryan. Semua series terbaru mereka beli. Memang hanya membeli baju rumahan saja. Kalau baju-baju untuk pergi masih banyak yang baru, selain itu Oma Sara dan Oma Marsha juga sering membelikan baju-baju yang bagus untuk Aryan dan Aaliya.
"Makasih Daddy, udah beliin banyak baju untuk Twins," kata Mira.
"Kamu enggak beli sekalian, Honey?" tanya Elkan.
Mira pun menggelengkan kepalanya. "Enggak. Punyaku masih banyak kok, Kak. Setelah menjadi ibu itu bisa membelikan anak-anak aja udah bahagia banget. Mindsetnya udah benar-benar berubah dulu waktu gadis, waktu menjadi istri, dan sekarang menjadi mommy," balas Mira.
Semua perubahan itu memang terjadi tidak dengan sendirinya. Melainkan ada fasenya. Dulu waktu gadis ada yang diinginkan, dulu waktu menjadi istri juga sudah berubah. Sekarang pun ketika sudah menjadi Mommy, juga sudah berbeda.
"Fasenya berubah, pola pikir juga berubah yah, Honey," balas Elkan.
Mira menganggukkan kepalanya. Memang manusia hidup ini banyak fasenya. Fokus hidupnya juga berubah seiring dengan peran yang kini dijalani. Walau begitu, Mira sendiri sangat menikmati masa-masa menjadi seorang Mommy kini.
Setelah itu, mereka berjalan-jalan lagi. Elkan menawarkan beberapa hal kepada Mira, tapi Mira menolak. Asalkan kebutuhan untuk anak-anak tercukupi saja sudah cukup. Setelahnya, ada seseorang wanita yang tidak sengaja berpapasan dengan mereka. Wanita yang mengenal Elkan dan Mira.
"Elkan, we meet again," kata wanita dengan wajah oriental itu.
Elkan dan Mira benar-benar tidak menyangka bisa bertemu dengan wanita itu di Jakarta. Elkan segera menautkan tangannya di tangan istrinya, dia tidak menjawab sama sekali dan lebih memilih untuk pergi.
__ADS_1