Romansa Pengantin SMA

Romansa Pengantin SMA
Kejujuran yang Berarti


__ADS_3

Terkadang tindakan impulsif dari seseorang bisa membuat jantung merasa berdebar-debar. Suhu tubuh yang menaik dengan sendirinya, dan juga setetes peluh yang membuat kening Mira menjadi basah di sana. Tidak dipungkiri, Mira merasa begitu berdebar-debar.


"Kamu pasti ketakutan yah tadi?" tanya Elkan perlahan.


Mira tak bergeming. Kemudian, dia mendorong bahu Elkan perlahan. Membuat Elkan menarik badannya ke belakang dan kemudian Elkan kembali duduk di kursi kemudinya. Pemuda itu tersenyum sembari menghela nafas sepenuh dada.


"Kenapa, Ra?" tanya Elkan.


Mira menggelengkan kepalanya perlahan. "Tidak apa-apa. Ayo, turun, Kak," ajak Mira kemudian.


"Oke," balas Elkan.


Pria itu kemudian turun dari mobil, dan mengajak Mira untuk masuk ke dalam rumahnya. Sebelum melangkahkan kakinya menuju ke dalam rumah. Mira menghentikan Elkan, dengan menarik tas ransel Elkan, sehingga langkah kaki Elkan pun terhenti.


"Kak," panggil Mira.


Seketika, Elkan menghentikan langkah kakinya, dan kemudian menatap Mira yang berjalan di belakangnya. "Ada apa, Ra?" tanyanya.


"Kak, kalau ditanyain Mama dan Papa bagaimana?" tanya Mira kemudian.


Jujur saja, Mira merasa takut. Terlebih sekarang masalah yang dihadapi Mira cukup serius, terkait dengan kekerasan di sekolah. Rasanya, Mira juga takut untuk berhadapan dengan Mama Sara dan juga Papa Belva.


"Jujur saja ... nanti aku temenin untuk berbicara dengan Mama dan Papa," balas Elkan.


"Wajahku berantakan enggak Kak?" tanya Mira kemudian.


"Enggak, cantik kok," balas Elkan.


Mira menghela nafasnya. Dia serius bertanya, justru jawaban dari Elkan seolah candaan semata. Bahkan terlihat jelas bahwa Elkan sekarang tengah tersenyum di sana.


"Kacamata kamu, Ra?" tanya Elkan kemudian.

__ADS_1


Mira kemudian membuka ranselnya, dan kemudian memberikan kacamatanya dengan satu tangkainya yang patah, dan lensa yang rusak. Itu tidak bisa dikenakan lagi oleh Mira.  Elkan pun menatap wajah Mira di sana.


"Rusak, Ra?" tanyanya lagi.


"Iya, rusak ... tadi dijatuhin Sonya," jawabnya. Bukan bermaksud mengadu, tetapi memang kacamata itu rusak karena ulah Sonya tadi.


"Lalu, penglihatan kamu?" tanya Elkan.


"Tidak apa-apa," balas Mira.


"Yuk, masuk dulu ... ini juga kita pulang sekolah sudah terlambat, Ra," balasnya.


Akhirnya, pengantin SMA layaknya dua anak sekolahan itu memasuki rumah besar keluarga Agastya. Di sana, Mama Sara tampak sudah menunggu kedatangan Mira dan Elkan dari sekolah.


"Kok baru pulang?" tanya Mama Sara begitu melihat kedatangan Mira dan Elkan.


Tidak langsung menjawab, tetapi Elkan mengajak Mira untuk duduk di ruang tamu, berhadap-hadapan dengan Mamanya. Setidaknya sebagai seorang anak, lebih baik mereka berkata jujur kepada Mamanya.


"Masalah di sekolah? Ada apa?" tanya Mama Sara yang sudah bingung sekarang.


"Mira menjadi korban kekerasan di sekolah, Ma ... dan besok wali orang tua diminta untuk datang ke sekolah," balas Elkan.


Mira tidak mau banyak berbicara, karena lehernya sendiri masih begitu sakit. Cukup dengan memberikan rekaman suara di handphone. Mendengar rekaman suara itu, Mama Sara bergidik ngeri. Apakah anak-anak SMA zaman sekarang akan seperti itu ketika membully kawannya? Kenapa semakin hari, terjadi penurunan moral untuk putra-putri bangsa yang di bahunya ada masa depan bangsa dan negara ini.


"Maafkan Mira, Ma," ucap Mira yang merasa bersalah. Gadis itu kini kembali menitikkan air matanya.


Mama Sara segera mendekat dan memeluk menantunya itu. Mengusapi kepalanya dengan begitu lembut. "Kamu tidak salah, Mira ... kamu tidak perlu minta maaf. Mana yang sakit?" tanya Mama Sara yang juga menangis sekarang.


Mama Sara sendiri adalah wanita yang lembut. Wanita yang begitu mudahnya berempati kepada orang lain. Sekarang dengan apa yang menimpa pada Mira, membuat Mama Sara juga turut merasakan sakitnya.


"Leher Mira yang sakit, Ma," jawab Mira dengan jujur.

__ADS_1


Mama Sara mengurai pelukannya, dan kemudian menyingkirkan rambut Mira di sekitar bahunya, kemudian dia melihat ada tanda merah di sana, dan ada luka seperti goresan kuku di sana.


"Kamu dicekik Sayang?" tanya Mama Sara.


Mira hanya bisa menangis dan menganggukkan kepalanya. Bagaimana pun itu sangat sakit. Mira menilai Mama Sara sama seperti Mama Marsha, Mamanya sendiri, sehingga Mira tidak perlu menyembunyikan sesuatu.


"Mama ambilkan salep dulu yah," ucapnya.


Ketika Mama Sara mengambil salep dan mulai mengolesi leher Mira dengan salep itu, Elkan mengambilkan air putih untuk Mira. "Diminum dulu, Ra," ucapnya dengan menyondorkan segelas air putih.


"Makasih, Kak," jawab Mira.


Aneh, sekarang ketika Mira mengulurkan tangannya justru telapak tangannya bergetar. Seperti tremor. Untuk itu, Elkan berlutut di depan Mira yang duduk di sofa, menyamakan tingginya, dan dia membantu Mira untuk meminum air putih itu.


Mama Sara yang melihat Elkan justru menilai itu bentuk perhatian dan sayangnya Elkan kepada Mira. Kemudian Mama Sara bertanya kepada putranya itu.


"El, kamu gak jagain Mira yah?" tanyanya.


"Yang nolongin Mira, Kak El kok, Ma," jawab Mira.


Jujur mendengar jawaban Mira, Mama Sara merasa lega. Hal ini mengingatkannya ketika puluhan tahun yang lalu dia pernah menjadi korban penyerangan pria bernama Anthony, dan Papa Belva lah yang menolongnya. Kini pun sama, Elkan bisa hadir dan menolong Mira.


"Mulai sekarang jaga Mira, El ... kamu suaminya. Jangan sampai Mira menjadi korban kekerasan di sekolah lagi," ucap Mama Sara.


"Iya, Ma ... Elkan akan menjaga Mira," balasnya.


"Baik, El ... besok biar Mama dan Papa yang ke sekolahmu, Mira. Jangan takut, kamu korban di sini. Seharusnya sekarang kedua teman kamu itu yang ketakutan. Mereka tidak tahu dengan siapa mereka bermain-main sekarang," balas Mama Sara.


"Tidak usah, Ma ... biar hukum sekolah saja yang menentukan nanti," balas Mira.


"Baiklah, tapi kami tidak mau berdamai. Jika dibiarkan, lama-kelamaan mereka bisa menginjak-injak yang lemah," balas Mama Sara.

__ADS_1


Mira yang masih sesekali berlinangan air mata, merasa lega. Keluarganya juga mendukungnya. Dukungan penuh dari keluarga mertuanya sekarang ketika orang tuanya sendiri berada di Semarang tentu menjadi semangat untuk Mira. Dia tidak perlu takut, dan tidak perlu khawatir. Selama Mira benar, dia akan berusaha untuk mempertahankan kebenaran itu.


__ADS_2